Wisata Bencana di Aceh: Museum Tsunami Aceh
Berada dalam area pertemuan tiga lempeng tektonik aktif menyebabkan Indonesia memiliki aktivitas seismik dan vulkanik yang sangat tinggi. Kondisi aktif tektonik tersebut mencipta rupa lansekap yang indah, khususnya pada daerah gunung maupun pantai yang dekat dengan pertemuan lempeng tersebut. Deretan gunung beserta kesuburan tanah dan garis pantai yang elok membuat Indonesia bak tanah surga. Iklim tropis berpadu dengan kondisi lansekap lengkap dengan keanekaragaman hayati serta sumber daya alam yang berlimpah.
Bersamaan dengan segala keberkahan tanah dan air yang dimiliki, hadir pula potensi bencana yang mengancam. Dengan kondisi seismik dan vulkanisme yang aktif menyebabkan Indonesia sering mengalami bencana alam geologi seperti gempa bumi, tsunami, gunung api, dan pergeseran tanah. Contoh nyata dari bencana tersebut diantaranya adalah gempa dan tsunami Samudra Hindia yang merupakan salah satu bencana alam yang paling parah sepanjang sejarah manusia pada tahun 2004. Daerah Indonesia yang paling berat menerima dampak tersebut adalah Aceh. Sebanyak 160.000 jiwa meninggal dan menyebabkan kerusakan khususnya infrastruktur-infrastruktur tepi pantai, serta kerugian lainnya.
Pasca bencana tersebut Aceh membuka diri untuk menerima bantuan untuk tujuan pemulihan. Dalam proses pembangunan kembali salah satu inisiatif yang memiliki peran penting adalah pengembangan pariwisata (World Tourism Organization UNWTO, 2005). Pengembangan pariwisata diwujudkan dalam beberapa proyek seperti monumen, taman,dan museum. Hal tersebut menjadikan Aceh dikenal dengan sabagai tempat “pariwisata tsunami”. Padahal Aceh dulunya bukanlah tempat yang dikenal sebagai tempat wisata, namun hal tersebut ternyata memiliki peranan penting dalam proses pemulihan pasca bencana (Nazaruddin & Sulaiman, 2013).
Museum Tsunami Aceh merupakan salah satu destinasi wisata bencana di Aceh. Museum tersebut merupakan hasil sayembara, yang dimenangkan oleh M. Ridwan Kamil.Meski demikian dari berbagai proposal desain yang masuk terdapat proposal yang cukup unik. Proposal desain karya Adi Purnomo mengkritisi TOR sayembara tersebut via desain dengan malah merancang monumen berprinsip folded architecture yang diperkirakan menggunakan sebagian dana pembangunan dan menyisakan dana pembangunan lainnya untuk proses rekonstruksi Aceh.
Kembali ke museum yang kini terbangun, bangunan tersebut sarat dengan nilai filosofis. Terinspirasi dari Rumoh Aceh, nilai-nilai Islam, budaya lokal, dan tsunami diabstraksikan dalam wujud yang baru. Massa bangunan diolah dari pusaran air yang menggulung, lalu tiang-tiang yang menopang massa tersebut merupakan bentukan panggung dari Rumoh Aceh. Dari luar bangunan ini dibalut oleh pola menyerupai anyaman yang diabstraksikan dari tarian saman. Bagian atap bangunan ini dapat digunakan sebagai area evakuasi jika dikemudian hari tsunami kembali melanda.
Pengalaman ruang yang ditawarkan museum ini sangatlah kaya. Pengunjung diarahkan menggunakan lorong-lorong dan ramp seolah berada dalam alur perjalanan cerita museum tsunami. Sepanjang ‘perjalanan’ pengunjung disuguhi elemen-elemen simbolis berupa air dan deretan bendera. Skala ruang dan pencahayaan dimainkan agar menciptakan suasana yang mengilustrasikan kejadian tsunami. Klimaks perjalanan ada pada sebuah ruang yang bernama “Cahaya Tuhan”. Ruang berupa silinder yang dilingkupi oleh nama-nama korban pada bagian dalam, pencahayaan pada ruangan itu minim, hanya ada skylight yang dihias dengan tulisan Arab: Allah. Sebuah ruang yang berpesan seolah seluruh nama yang tertera berada dalam naungan-Nya yang bermuara dan berujung kepada-Nya.
Museum ini menampilkan pula foto-foto situasi porak-porandanya kondisi pasca tsunami. Cerita pasca tsunami disampaikan pula melalui puing motor, helikopter serta sketsa. Terdapat pula ruangan yang memutar film tentang tsunami. Fungsi edukasi serta seni tersaji dengan baik dalam bangunan ini.
Dari contoh diatas, menggabungkan konsep bencana dan pariwisata di Indonesia merupakan hal yang sangat mungkin dilakukan. Narasi bencana yang cenderung memilukan dapat dikemas
dengan menarik sehingga menjadi potensi wisata yang membawa pesan edukatif. Mencerdaskan pengunjung terhadap hal-hal terkait bencana terutama mitigasi dan berbagi semangat untuk bangkit dari puing bencana. Hingga kelak masyarakat dapat menjadi lebih siap dan tetap optimis melalui peran aktif dari para aktor dan media wisata bencana.
Kepustakaan:
ACEHKINI. (2019). Mengenal Museum Pengingat Tsunami Aceh, Karya Fenomenal Ridwan Kamil. Mengenal Museum Pengingat Tsunami Aceh, Karya Fenomenal Ridwan Kamil | kumparan.com. (Diakses 20 Juni 2021).
Kusnadi (2019). Literasi Pengurangan Risiko Bencana Melalui Jalur Wisata. https://bnpb.go.id/berita/literasi-pengurangan-risiko-bencana-melalui-wisata. (Diakses 20 Juni 2021).
Liu-Lastres, B., Mariska, D., Tan, X., Ying, T. (2020). Can post-disaster tourism development improve destination livelihoods? A case study of Aceh, Indonesia,
Journal of Destination Marketing & Management, 18 (Dec), 100510
Nazaruddin, D, A., & Sulaiman, R. (2013). Introduction to “TU+SUNAMI TOURISM”: Notes from Aceh, Indonesia, International Journal of Sciences, 2(Mar), 71-81.
World Tourism Organization UNWTO. (2005). UN agency seeks to boost tourism to tsunami-hit nations. https://news.un.org/en/story/2005/03/130402-un-agency-s eeks-boost-tourism-tsunami-hit-nations. (Diakses 20 Juni 2021).