Perihal plagiat ini, bisa jadi di masa lalu saya juga melakukan plagiat dari penulis-penulis yang saya kagumi. Pernah saat itu saya berpikir bahwa kalau kekayaan intelektual itu tak pernah benar-benar ada, karena semuanya adalah milik Allah, yang dari Allah akan kembali ke Allah.
Tapi kemudian saya mendapat pencerahan. Bahwa bukan seperti itu cara kerjanya. Memberikan sitasi atau menyebutkan penulisnya dari sebuah karya adalah bentuk amanah ilmiah.s
Itu kenapa saya selalu mengawali dengan pendekatan personal untuk klarifikasi perihal plagiat ini. Karena semua orang punya peluang untuk salah, mungkin atas dasar ketidaktahuan. Setelah saya chat personal atau tinggalkan komentar, barulah saya buat ig story atau post terkait itu jika tak ada tanggapan/perubahan. Post/ig story saya adalah sebagai bentuk pengingkaran sekaligus menjadi edukasi untuk semua orang. Bagi saya penting untuk meluruskan sesuatu yang menurut saya bengkok.
Bahkan agama yang kita yakini ini pun berdiri di atas prinspir-prinsip ilmiah yang kuat. Seperti keabsahan sumber hukum yang jadi rujukan. Harus valid dari hulu ke hilir. Itu kenapa hadits ada derajat-derajatnya. Dari hadits shahih sampai hadits palsu.
Hadits-hadits ini diteliti rantai riwayatnya, dari siapa diturunkan ke siapa, bagaimana kualitas kecerdasan dan hafalan mereka, bagaimana kualitas akhlak mereka, seberapa jujur dan bertanggung jawab mereka dalam keseharian, dan apa testimoni orang-orang yang mengenal mereka. Prinsip ilmiah inilah yang menjaga agama kita dari penyimpangan.
Pernah kepikir gak, kalau semua perawi hadits gak mau mencantumkan namanya dalam hadits yang diriwayatkan, atau kalau imam bukhari enggan nyantumin nama perawi hadits dalam sanad-sanadnya dengan alasan takut gak ikhlas, bakal ada yang namanya kitab shahih al bukhari? Bakal ada yang namanya muttafaqun 'alaih? Think, akhi, think!
Betul bahwa popularitas adalah ujian, hindari jika mampu. Karena jika tak kuat bisa menenggelamkanmu dalam dunia yang fana ini. Tapi amanah ilmiah, tetap harus ditunaikan. Mencantumkan namamu dalam tulisanmu, bukan perihal popularitas. Tapi tulisanmu adalah tanggung jawabmu.
Jika kelak tulisanmu membuat masalah, orang jadi tau siapa yang bertanggung jawab. Jika kamu adalah seorang penipu, maka orang jadi tau bahwa tulisanmu tak dapat dipercaya sepenuhnya. Jika kamu adalah seorang pakar di bidang tertentu, orang jadi tau bahwa pendapatmu layak dipertimbangkan.
Jika posisimu bukan penulis tapi penyebar tulisan, maka niat dan keikhlasan penulis bukan urusanmu. Urusanmu adalah meneruskan amanah ilmiah, menyebarkan dengan bertanggung jawab. Adalah salah jika mencantumkan namamu bersama tulisan yang bukan tulisanmu seakan-akan itu tulisanmu. Itu plagiat. Mungkin niatmu baik, tapi tanpa disadari kamu telah berdusta karena menisbatkan namamu kepada tulisan itu.
Ketika penulisnya memintamu mencantumkan namanya ke dalam tulisan yang kamu sebarkan itu, kewajibanmu adalah mencantumkannya. Ketika penulisnya tak berkenan dan tak mengizinkanmu menyebarkan tulisannya (apalagi dengan namamu), maka kewajibanmu adalah menghapusnya. Bukan balik menasehati perihal keikhlasan, karena bukan disitu masalahnya. Masalahnya ada pada adabmu.
Kamu gak pernah tau, orang yang kamu kira gak ikhlas itu seberapa sering dia berdoa meminta keikhlasan dan mengucap bismillah setiap memulai amal-amalnya. Keikhlasan orang lain bukan urusanmu. Urusanmu adalah keikhlasanmu sendiri dan adabmu sendiri.
Jangan membenturkan bahasan ikhlas dengan bahasan amanah ilmiah. Islam yang kaffah itu tidak menafikan salah satunya. Islam itu bukan hanya perihal ikhlas saja, tapi juga perihal akhlak dan adab. Seperti kejujuran dan tanggung jawab. Agamamu tidak mempertentangkan antara ikhlasnya niat dengan amanah ilmiah. Ada ilmu sebelum amal, ada adab sebelum ilmu.
Itulah kenapa ikhlas tak pernah mudah. Di satu sisi kamu harus terus beramal, di sisi yang lain kamu harus tetap menjaga niat. Ada orang-orang yang kuat terang-terangan, ada yang nyaman sembunyi-sembunyi.
Repost gak dilarang. Karena sekali sebuah postingan itu diunggah dan diset dapat diakses publik dan button share-nya aktif, maka artinya kamu bebas untuk membagikannya. Hanya saja dengan bertanggung jawab.
Sekadar saran saja. Sekarang aplikasi editing gambar sudah sangat banyak dan gampang cara pakainya. Tutorialnya juga banyak di Youtube. Jika ingin repost, tetaplah cantumkan nama penulisnya tepat di belakang atau bawah tulisannya. Lalu cantumkan namamu sebagai perepost di pojok gambar. Dan jangan lupa juga dengan captionmu.
Tentang plagiat ini, tidakkah kamu takut itu yang akan menjerumuskanmu? Kamu sangka kamu sedang berbuat kebaikan, tapi ternyata kamu sedang mendulang dusta.
Ini jadi nasehat buat kita semua. Para da'i atau penyeru kebaikan, apakah itu akun personal atau akun anonim bertema dakwah, mestinya dapat menggunakan cara-cara terbaik yang dia bisa. Yang dapat jadi teladan, bukan malah blunder, apalagi bikin malu apa yang dia dakwahkan. Akun-akun yang suka sekali berbagi konten Islami secara tak langsung menjadi representasi umat Islam. Maka akan fatal jika terjadi blunder atau kesalahan.
Mari saling mengingatkan :)
Mampang Prapatan — © Taufik Aulia