Duka tetaplah duka, kehilangan tidak bisa ditenangkan siapapun
Suasana duka menyelimuti hati seorang anak pagi ini. Di ruang perawatan, ibunya tiba-tiba henti jantung.
Tiga hari belakangan ini, ku perhatikan anak perempuan ini begitu ceria. Aku sering melihatnya mondar mandir, karena sedang sama-sama menjadi penunggu di ruang perawatan.
Selama tiga hari ini dia tidak pulang. Kutebak ia masih sekolah SMP, anak bungsu perempuan satu-satunya dari dua kakaknya laki-laki.
Barangkali harapannya hari ini sudah diizinkan pulang. Tapi rupanya takdir berencana lain, ibunya pulang berpamitan untuk selamannya.
Tangisnya pecah, menjadi tangis paling kencang yang mengalihkan fokus seluruh ruangan.
"Ibuk bangun, ibuk". Ia tampak begitu terpukul dengan kepulangan yang tiba-tiba. Ia menangis tersedu-sedu dalam dekapan seorang pria gondrong yang juga berusaha menahan duka.
Laki-laki yang barangkali selalu tampak kuat melewati tekanan hidup sehari-hari. Tapi berusaha menahan tangis, menguatkan anak perempuan dari dukanya.
Matanya berkaca-kaca, semakin deras tangis anak perempuannya. Ia semakin tertunduk lemas, tubuhnya gemetar mendekapnya.
Duka tetaplah duka, tidak ada kehilangan yang bisa ditenangkan oleh siapapun. Dan barangkali hanya di dalam tangis, mereka yang berduka sedang berusaha memahami apa yang terjadi.
Setiap peristiwa yang sulit dimengerti, memang perlu waktu untuk mencernanya satu-persatu.
Bisa jadi lewat kesedihan, bisa jadi lewat tangis paling deras yang tidak bisa dihentikan oleh siapapun.
Semoga badaimu cepat berlalu, dek.













