14 hari. Pergi tanpa pesan.

Product Placement
h
🪼
KIROKAZE

Kaledo Art
No title available
wallacepolsom
trying on a metaphor
occasionally subtle

pixel skylines
styofa doing anything
No title available

shark vs the universe

blake kathryn
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
No title available

No title available

Janaina Medeiros
almost home

No title available

seen from United States
seen from Canada

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Austria
seen from United States

seen from France
seen from Türkiye

seen from Malaysia
seen from El Salvador

seen from United States
seen from Saudi Arabia
seen from United States

seen from Türkiye
seen from United States
seen from Netherlands
seen from Singapore
@bumipikiran
14 hari. Pergi tanpa pesan.
Kita akan selalu terkejut atas apa yang kita ciptakan dan bentuk.
Perimeter 5 meter dan waktu tunggu 5 jam. Setelah 2 minggu. Setiap orang sakit mungkin, tanyakan kepada sang pemberi sakit yang juga sebagai psikiater.
Sudah terlalu jauh, mungkin sebentar lagi sampai. Mimpi ini masih sibuk aku kejar. Aku masih yakin.
Selain menerima gaji, apa hal yang paling membahagiakan juga addicting bagi para Karyawan? Jawabannya : Memiliki Pemimpin yang Visioner dan Misioner. ---- Beberapa saat lalu saya membaca artikel Leadership sbb : "Seorang pemimpin secara otomatis berbeda dengan kelompok yang dipimpinnya. Dibedakan oleh kemampuan untuk menerawang apa yang dianggapnya baik untuk kelompoknya. Visi. Visioner. Dibedakan oleh kemauan dan kemampuan untuk mencoba mewujudkan visi tadi dengan segala potensi energi, spiritualitas --percaya akan tujuan yang mulia--, dan intelektualitas. Misi. Misionaris. Tanpa perbedaan itu dengan kelompok yang dipimpinnya, seorang pemimpin hanya akan menjadi (sehebat-hebatnya) biasa-biasa saja. Hanya anggota dari sebuah keriuhan. Tanpa perbedaan itu, kelompok yang ia pimpin juga tidak akan menjadi istimewa. Sekadar ada dan berputar mengikuti suratan nasib." -- Luar biasa ya peran dan menjadi Pemimpin. Tanyakan hal tersebut pada Nuh, Ibrahim, Siddartha, Musa, Isa, Muhammad, Dalai Lama dan juga Soekarno. -- Sementara. Indonesia adalah negara dengan budaya ramah, sopan, santun dan menaruh respek pada yang tua. Namun, implementasi pada teori aplikasi sumber daya alam dan ilmu organisasi dengan budaya Indonesia akan membuat profesionalitas, komunikasi dan giving the best thing dari karyawan dengan atasan, menjadi sangat rumit dan unik. Selalu ada kejadian di organisasi : 1. Atasan "lupa" dengan detail assignment, lalu merubah perintah di tengah jalan. Lalu lupa lagi, berubah lagi tugas, sampai deadline tiba atau pekerjaan diambil alih oleh atasamnya atasan. 2. Jika project sukses, semua pihak tampil. Jika project gagal, semua sembunyi, hierarki bawah dipenggal. 3. Kegagalan memahami perintah di level atas sehingga project gagal di level bawah. 4. Komunikasi canggung (dan banyak dipendam) dengan alasan budaya pekiwuh, harus nurut dan senioritas. 5. Penilaian per 6 bulan / 12 bulan yang tidak akurat. 6. Pemimpin tidak memberikan add value dan tidak mengerti apa-apa. 7. Ide yang susah diutarakan 8. Ide usang yang selalu diulang 9. Ide yang susah diimplentasi 10. Dst Memang semua kembali kesuksesan penerapan Corporate Culture (hal yang dirasakan pihak eksternal saat berhubungan dengan karyawan) yang dibangun dari value perusahaan, sehingga timbul etika dan moralitas profesional di lingkungan bisnis. Apalagi sekarang sedang terjadi pergeseran budaya kerja antara karyawan Baby Boomers, Gen Y, Gen Z atau apalaha itu Gen-Gen lainnya. Lalu muncullah teknologi di dunia Human Capital, yaitu Mobile Apps Social Media bagi karyawan-perusahaan. Yang mencampur beberapa fungsi Linkedin, Path, Trello, Group Whatsapp, email dan Ms Office Project. Beberapa perusahaan di Indonesia bidang telekomunikasi dan perbankan sudah mulai menguji coba Mobile Apps ini di beberapa divisi / unit kecil mereka. Dimana sistem assignment, monitoring, apresiasi harian, penilaian peers (dan another parties) lebih diutamakan karena lebih jujur, membuat lack of success di organisasi semakin terkikis. Sistem yang diterapkan membuat segalanya menjadi lebih terbuka, nyaman, tidak canggung dan tentu saja menjadi "kekinian". Menarik misal menerapkan "kebahagiaan" dan "keterbukaan" Path di dunia Human Capital. Lebih menarik lagi, ya beberapa perusahaan di Indonesia mulai menerapkannya. ---- Terdapat jenis banyak jenis metode penerapan Leadership. Menggunakan metode marah, metode membuat takut, metode ke- bapak-ibu-an, metode bijaksana, metode tukang pos, dll. Semua itu kembali ke karakter manusia masing-masing Pemimpin. Dimarahi dan diajari oleh Pemimpin yg Visioner-Misioner tentu lebih enak dan mudah dicerna oleh (terutama) hati dan logika kan? Tapi tentu kembali, bahwasanya Pemimpin itu sejatinya adalah Manusia. (Selain visi-misi-kesuksesan) Hal yang paling utama diingat menjadi seorang Pemimpin adalah betapa baiknya Pemimpin tsb kesemua orang dan bagaimana cara Pemimpin tsb me-manusiakan para anggota timnya.
Reviw Film "Batman vs Superman : Dawn of Justice" Tangan saya pagi ini terlalu bersemangat untuk menulis review -yang saya usahakan tidak ada spoiler- untuk film "Batman vs Superman : Dawn of Justice" (BvS). Film ini memang tidak memiliki hal yang perlu ‘dikhawatirkan’ untuk penonton di semua usia. Tapi apakah film ini bisa ‘dinikmati’ oleh kalangan muda dan anak-anak, mungkin rasanya agak sulit. Karena jalan cerita yang rumit serta dialog yang berat akan merasa menjenuhkan bagi penonton muda, yang mungkin hanya ingin menyaksikan aksi dan animasi di sepanjang film. Jadi kesimpulan secara keseluruhan, film ini adalah pertarungan superhero dengan aksi terdahsyat dan animasi termegah, dengan cerita yang lambat dan gelap, dan dipenuhi plot dan drama politis kemanusiaan. Bagi yang menilai film Watchmen, Interstellar, Spotlight atau The Revenant adalah film yang lambat, membosankan, tidak banyak aksi wow, maka saya ucapkan jangan lanjutkan membaca review BvS ini dan siap-siap kecewa dengan film ini. Karena menurut saya film ini adalah film kategori "Drama Superhero" dari DC Comics, bukan film Marvel yang penuh dengan adegan hiburan, menawannya dan lucunya Antony Stark, ngocolnya Deadpool atau alasan pertarungan perang sipil antara Iron Man dan Captain America dengan alasan yang tidak segenting film BvS ini. Zack Snyder mencoba mengaplikasikan ke film ini -mencoba serealistis mungkin-, bahwa apa yang akan terjadi dan efek apa akibatnya jika di planet biru ini ada alien super berwujud manusia? Apa yang akan dikatakan media? Apa yang akan dilakukan Amerika? Apa yang akan dilakukan orang-orang kaya? Kegaduhan "kemanusiaan" sebagai makhluk pemilik planet Bumi terlihat. Dilema pro kontra kehadiran alien baru yang bermanfaat namun mengancam. (Well anggap saja mirip cerita perang sipil antara taksi Blue Bird va Taksi Online). Film ini disuguhi dan dipenuhi kata-kata puitis ala drama klasik juga folklore Eropa dari Alexander Luthor -sang Master Mind- dan beberapa garis kata-kata kutipan fantastik nan depresi dari Bruce Wayne. Jesse Eisenberg segar dengan jenis Alexander Luthor jenis baru. Lex Luthor yang muda. Namun lebih kejam dan lebih tricky. Saya suka peran Henry Cavill sebagai Clark Kent yang romantis kepada Lois Lane, yang suka memasakkan makanan untuk Lois. Jangan tunggu lelucon "crunchy" ala Antony Stark di film ini. Saya hitung cuma ada dua lelucon yang diutarakan di film 150 menit ini, yang keluar dari Martha Kent dan keluar dari Superman juga Batman (seperti di trailer, saat Wonder Woman datang, Superman bertanya ke Batman "Is she with you?". Gal gadot juga berhasil menampilkan Prince Diana yang misterius dan cantik. KemunculN Neil Degrasse Tyson sebagai ilmuwan astrofisika juga mengagetkan. FIlm ini juga merupakan bridging ke film Justice League, sedikit menampikan "parallel universe" yang terjadi di DC Comics. Zack Snyder menepati janjinya untuk menampilkan prsentasi Batman yang lebih besar badannya dan lebih tua (umur 45 tahun) dibanding Superman (umur 33 tahun). Duet Bruce Wayne dan Alfred Pennyworth menampilkan dua pria tampan Swag yang tampak lebih terlihat sebgaai duet daripada sekedar "Tuan dan Pelayan Setia". Hans Zimmer (yang sukses mengisi scoring Interstellar) ditugaskan untuk mengisi score film ini. (Ya tentu saja, Eksekutif Produser film BvS ini adalah Christoper Nolan). Saya tidak bisa banyak menulis lagi review film ini. Saran saya untuk Zack Synder dan team, jangan terlalu banyak menampilkan Trailer. Tapi mungkin alasannya adalah teaser campaign yang melatar belakangi hal ini. Dan hei Mr. Snyder setelah menonton film ini saya jadi rindu ingin menonton lagi film Watchmen. Untuk Lembaga Sensor Indonesia, kenapa adegan seks di bathup antara Clark dan Lois kalian delete ? Sekali lagi, jangan bandingkan film BvS ini dengan film The Avengers atau Civil War. Karena maaf dengan sangat, film BvS ini film drama orang dewasa, bukan semata film superhero animasi CGI (saja) untuk anak-anak.
Nowadays, in this kind of era, many CEOs asking their Marketing Campaign Managers to monitoring timeline their Brand Corporate Campaign. A campaign has got goals and targets over a time period. That is why it is called a campaign. Thinking about your brand, product and service might change, so should your communication goals. You have to find what is the unique / differentiation of your product and then set your communication goals. Your communication goals is a campaign, even if it only last for a few hours. If you have no goals and no time frame how will you evaluate the response ? The question is, how many CEOs already did this ? Most of them. Thinking Marketing Campaign is just a "Project". Campaigns having start-end date it is almost like putting expire date on you brand. Your brand exist only for limited period of time. Old fashion thinking (industrial-era) is sadly still present. Let me make it clear. How many CEOs already did this, but not believe in power of Marketing Campaign, not understand about human communications and relationship building ? Unlike traditional marketing in public spaces (such as billboards, magazines, and television), a Brand should trying to engage with consumers, it needs to be personal, immediate, relevant in real-time, and in-context. Do the relationship with customers. Marketing Campaign needs to move from push messages to human communications and relationship building. All of CEOs have to reckon this. A CEO must have sense of a long strategic Marketing Campaign about their Brand. Brand Campaign is not everything, but it's important. At least it will help increasing your portfolio of Sales. A good Campaign (with consistence promises) will help your Company (read : Salesman) to facing Product Pricing War.
Tahun lalu saya diajak bicara empat mata oleh salah satu orang bijak, pintar yang saya kagumi. Orang bijak ini adalah teman dari orang bijak lainnya yang saya kagumi juga. Sebut saja mereka bergelar Sage. Sage ini bertanya kepada saya, tepatnya sedang meng-filter saya ini tipe jenis manusia pekerja seperti apa. Bapak Sage bertanya, "kamu pernah jualan produk tidak Firdza? kamu pernah jadi Salesman ?" Saya jawab pernah satu setengah tahun jadi Salesman dan bertanya kenapa. Sage tersenyum senang dengan jawaban saya dan menjelaskan bahwa dengan menjadi sales, pernah berjualan, pernah mengajak orang, membujuk orang untuk memakai produk yang tidak dipakai sebelumnya, adalah pengalaman berharga bagi kehidupan. Kehidupan di hidup yang nyata, karena merupakan bukti bertahan hidup itu susah dan kehidupan di dunia profesional, karena menjadi sales adalah fondasi kuat di lapangan untuk berpola pikir terstruktur, tepat sasaran dan realistis. -- Di lain kesempatan Sage bijak lainnya berpesan kepada saya 4 tahun lalu, bahwa anak muda itu harus bekerja keras (fisik) di karirnya agar kelak saat umur bertambah kita tidak bekerja keras secara fisik lagi, namun kerja keras dari sisi otak, yaitu Strategic Thinking. Bapak Sage yang ini juga sangat percaya bahwa pekerjaan Sales adalah pekerjaan yang paling menarik, menantang dan menjadi kerangka berfikir yang kuat dalam menentukan keputusan-keputusan penting dalam perusahaan. -- Dua bulan lalu saya berkata pada saudara saya bahwa orang-orang sukses diatas puncak pasti menguasai dua hal disiplin yaitu Sales dan Finance. Orang-orang sukses disini adalah para profesional dan eksekutif, apapun pekerjaannya, dokter, bankir, karyawan, pengusaha, wiraswasta, arsitek, engineer atau lulusan sarjana teknik, sarjana hukum, sarjana ekonomi, sarjana dalam negeri, sarjana swasta ataupun sarjana luar negeri. Sales itu tulang punggung perusahaan. Sedangkan Finance adalah neraca di otak perusahaan. -- Sekali lagi, (pernah) berkutat dengan target pribadi, target harian, pipeline, weekly monitoring, ditolak puluhan ratusan kali, semangat lagi dan menawarkan (berjualan) produk yang belum tentu orang lain butuh adalah salah satu pengalaman paling berharga di dunia kerja dan untuk hidup. Yang berharga lainnya adalah kita bisa bertemu dengan berbagai macam jenis orang dan membuka pikiran betapa luas dan hebatnya orang-orang untuk hidup dan menghargai hidup. -- Salah satu diantara Bapak Sage diatas berujar kepada saya "Berbanggalah pernah jadi Sales, saya heran kenapa banyak orang malu bekerja sebagai Sales!"
Ridwan Kamil pernah mengucapkan (menulis) bahwa intinya para wanita seharusnya memilih laki-laki yang sedang membangun karir sebagai pasangan hidupnya, karena sang wanita akan merasakan "nikmat"-nya hidup berjuang (daripada langsung hidup nyaman dan enak). Kira-kira begitu intinya. Dan Roger Penrose juga saya pun tertawa mendengar (membaca) ucapan (tulisan) sang Walikota centil ini. -- Pada tahun 1950-an Roger Penrose memperkenalkan Segitiga Penrose atau Impposibble Triangle. Atau bahasa indahnya adalah "kemustahilan dalam bentuk termurni". Segitiga ini seperti tidak memiliki ilusi tidak berujung, padahal hanya memiliki dua sisi riil dan satu sisi tidak nyata. Lebih mudahnya segitiga ini adalah bentuk sindiran terhadap pilihan hidup di dunia ini (bagi kebanyakan orang). Contoh untuk kasus wanita di tulisan Ridwan Kamil adalah, wanita saat menghadapi pilihan para laki-laki di hidupnya pada umumnya akan terpusat pada tiga pilihan yaitu "tampan atau kaya atau baik". Dimana aturan alam semesta hanya boleh memilih maksimal dua pilihan, jadi (kebanyakan) wanita akan memilih kombinasi misal "tampan dan kaya, tapi tidak baik" atau "kaya dan baik, tapi tidak tampan" atau malah pilihannya hanya satu seperti "kaya, tapi tidak tampan dan tidak baik" atau "baik, tapi tidak tampan dan tidak kaya". Budaya di negara Indonesia bahwa wanita harus menikah secepatnya membuat wanita harus mencoret-coret buku lembar jawaban ulangan "Matematika Jodoh" lebih lama, apdahal teman-teman wanita lain sudah mengumpulkan jawaban ke Pengawas Ujian. (Kadang wanita adalah ahli Matematika yang lebih brilian dengan membuat sendiri Segi Lima Penrose, yaitu sudah "tampan, baik, kaya. Namun tidak cinta. Tapi Agama sama.") Wanita di sistem tata surya ini memiliki Privilege besar. Terlepas wanita tersebut memiliki Privilege pribadi lainnya atau tidak, statement dari alinea pertama tulisan ini seperti memagari hak-hak dan Privilege wanita, atau lebih tepatnnya hak asasi manusia gender Wanita. Wanita memliki Privilege besar di keluarganya. Harriet Beecher Stowe berkata "Women are the real architect of society". Saya percaya, saya selalu percaya, bahwa jika hidup ini adalah kehidupan, maka Bapak adalah Kepala Sekolah Kehidupan Terbaik yang memiliki visi jangka panjang. Sedangkan Ibu adalah Guru Kehidupan Terbaik bagi anak-anaknya. -- Berbicara tentang Teori Privilege. "Privilege is invisible to those who have it.". Manusia yang lebih memiliki Privilege tidak akan (mungkin belum) memahami kehidupan manusia yang tidak memiliki Privilege. Privilege disini adalah Privilege Kehidupan. Sebuah anugerah bawaan yang dibawa sejak lahir atau karena budaya di tempat habitat manusia tinggal. Contohnya bisa berupa status sosial, level kekayaan, derajat keluarga, orang tua yang terpandang, level pendidikan, suku, agama, dll. Misal, manusia yang memiliki Privilege (anugerah) orang tua yang kaya, tidak akan bisa mengerti bagaimana manusia lainnya bersusah payah untuk hidup dari hari ke hari, mendapatkan setiap sen, menamatkan sekolah, susahnya melamar pekerjaan, dst. Manusia yang mendapat Privilege disini jika mengatakan kesuksesan dan kebahagiaan hidupnya adalah hasil "usaha"-nya, tentu saja akan ditertawakan oleh manusia yang orang tuanya hidup pas-pas-an. "Usaha" disin bersifat relativ. Dalam skala minoritas pun Privilege bisa ditemukan, bahwa menjadi pengendara motor (yang lebih murah daripada mobil) akan mendapat dukungan dari masyarakat misal motornya menabrak mobil seseorang. Salah benar tergantung dari Privilege. Tambah masalah lagi jika salah menggunakan Privilege dalam proses adaptasi di hidup. Manusia yang memiliki Privilege sebagai senior di kampus akan mem-bully anak junior. Manusia yang memiliki Privilege "open-minded-person" akan sinis melihat Privilege para agamais yang taat agama. Vice Versa, para Agamais yang memiliki Privilege mendapat hidayah atau wahyu akan memandang remeh para liberalis. Rio Haryanto mendapat Privilege yang tidak didapatkan pemenang duo All-England dari Indonesia kemarin (yang saya tebak, anda semua pasti juga lupa nama duo tersebut). Atau bisa dibalik, Rio Haryanto telah menyadari apa saja Privilege di dirinya lalu bisa mengoptimalkankan dalam personal branding dan kekuatan media. Salahkan saja Tim DIbalik Layar Duo badminton Juara All-England tsb. -- Seorang manusia yang tidak bijak-bijak amat namun lucu dan baik, pernah berkata kepada saya bahwa saya adalah manusia filsafat namun tidak kuno. Dalam hati saya menjawab bahwa mungkin itu Privilege saya. Saya pernah berdiskusi singkat dengan teman sesama penulis random alam semesta, kami berdua percaya bahwa negara ini terlalu banyak identitas, terlalu banyak dogma dan harus kembali percaya dengan siapa leluhur kita dst. Kami berdua juga percaya bahwa alam semesta yang (ternyata) digerakkan oleh gravitasi ini bergerak karena doa-doa manusia. Lalu teman saya tersebut yang menggemari film "Shawshank Redemption" balik berkata, "tergantung Fir, doa dan ibadah seperti apa dulu?" -- Kalau orang Jawa bilang, "Hidup itu Sawang Sinawang". Ah kita terlalu banyak membaca quote sebagai ajang Privilege Denial, penyangkalan terhadap situasi tertentu (yang tidak enak). Terlalu banyak membaca quote akan membunuh-(akal)-mu. Padahal sampai tulisan ini akan ditutup, saya masih kagum akan frase "Kemustahilan dalam Bentuk Termurni".
Horatio dulu berkata bahwa "Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan. Yang kedua, dilahirkan tapi mati muda. Dan, yang tersial adalah umur tua. Bahagialah mereka yang mati muda." Namun sesungguhnya hidup itu tidak berjalan dari waktu ke waktu, melainkan dari suasana ke suasana lain, yang mendewasakan kita semua.
Terlalu banyak membaca quote dapat membunuhmu.
Social Media adalah burung merpati
Pria lebih butuh harta. Sesungguhnya harta tidak membuat wanita lebih cantik, namun membuat pria terlihat (menjadi) (padahal tidak) tampan
Jika ada orang yang mengejarmu di lintasan lari, pastikan bahwasanya larimu lebih cepat atau ingin berlari bersama. Atau setidaknya jangan memuji sepatunya bagus.
Selalu ada kesempatan kedua, ketiga dst dalam hidup ini. Orbit hidup tidak sekaku itu
Jangan takut untuk menjadi diri sendiri, sesuai kata hati. Tuhan menjanjikan takdir baik bagi para orisinil
Dendam itu seperti kaktus, namun durinya ke dalam