Rasa sayang itu ada dan dalam. Tapi rasa benci telah mendarah daging.
Sade Olutola
art blog(derogatory)

Discoholic 🪩
macklin celebrini has autism

Andulka

Origami Around
No title available
I'd rather be in outer space 🛸
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
Sweet Seals For You, Always

PR's Tumblrdome

roma★
ojovivo

tannertan36
One Nice Bug Per Day
Lint Roller? I Barely Know Her

@theartofmadeline
d e v o n

❣ Chile in a Photography ❣
TVSTRANGERTHINGS
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Italy

seen from Nepal

seen from Türkiye
seen from Bangladesh

seen from Iraq

seen from Italy
seen from Germany
seen from United States

seen from Poland

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
@cacingedance-blog
Rasa sayang itu ada dan dalam. Tapi rasa benci telah mendarah daging.
Ingin memaki sebanyak yang bisa ku maki. Lalu aku lega. Kamu tersakiti dan pergi. Aku sedih tapi itu yang terbaik.
Mendung di Minggu pagi
Hujan, bagaimana kamu bisa tahu perasaanku?
tersambar petir kenyataan tentangnya
Cacing dan Dance: Bokep Siang Bolong
Di suatu siang di kantor tempat Cacing dan Dance magang.
Boss: Kerjaan kamu udah selesai, Dance?
Dance: Sudah Pak. Baru saja saya kirim.
Boos: Ok nanti saya cek. Cacing mana? Saya minta dia kirim sekarang juga
Dance: Setau saya seharusnya sudah selesai, coba kita lihat langsung aja Pak di komputernya *Dance mengambil alih komputer Cacing
Hmm.. dia nonton apaan sih kok bar videonya on. Klik!
Dan terpampanglah selebar layar komputer film dua orang - cewek dan cowok yang sedang telanjang dan asik uh ah uh ah....
*Dance dan Pak Boss pun mengalami awkward moment selama seminggu lebih - Cacing kena omel Dance abis2an. Tapi Cacing dan Pak Boss kemudian langsung jadi ikrib - sampe udah bro-bro-an - jangan tanya kok bisa*.
Hidup Itu Seperti Indomie Goreng VS Indomie Rebus
Ini adalah seonggok cerita yang udah lama gue ketik di notes HP dan lupa di post. Jadi semacam #latepost gitu deh... Pemikiran gue tentang hidup itu kayak milih indomie goreng atau indomie rebus yang mana gue sih suka banget 22nya. Seperti malam itu. Sulit diputuskan tapi dari kejadian itu ada keputusan besar yang gue ambil dalam hidup gue. Pada saat itu gue bener2 lagi merasa jenuh & hampa sama hidup gue. Seperti ada sesuatu yang salah. Ada ingredients kehidupan gue yang kurang pas. Mungkin tertukar. Mirip-mirip kayak pake cabe merah (yang agak besar itu) atau cabe rawit ijo kecil (cengek sih gue nyebutnya) - rasa sama2 bikin pedas tapi pasti ada beda sensasi. Mungkin juga ada ingredients penting yang hilang tapi gue gak nyadar apa itu... sehingga hidup gue meski terlihat stabil plus normal padahal enggak. Hati dan pikiran gue gak pernah tenang. Gue tidak hepi akan suatu hal dan masih belum tau jawabannya apa dan someday gue yakin akan ada limitnya untuk bertahan. Hari itu bisa dibilang gue gak makan seharian. Sarapan bubur tapi kali ini gak abis. Siang gak makan siang. Sore bingung makan apa asal pesen nasi dan pecel ayam goreng karena setelah dipikir-pikir laper juga tapi pada akhirnya gak gue makan sampe habis juga karena udah hilang selera. Dan tetiba selera itu datang lagi. Bergejolak seperti kupu-kupu terbang dalam perut. Gue tahu apa yang gue mau. Indomie. Tapi goreng apa rebus yah... hmm... gue pilih Indomie goreng deh eh kali ini indomie rebus aja deh. Yang mana yaaaahh aaaakkkk tidaaaakkk! Gue mau 22nya! Sebuah keputusan berat, akhirnya malam itu gue memilih makan indomie rebus. Pake cabe rawit dan telor. Nyamnyam. Sepanjang perjalanan pulang Jaksel - Depok membayangkan bisa makan makanan yang gue idamkan. Dan mie itu datang. Tidak seperti yang dibayangkan. Gue salah milih menu. Sedih banget rasanya. Tapi kan gak bisa nyalahin siapa-siapa juga. Pinginnya pesen menu lagi, yang menu salah ini terserah deh kasih siapa, tukang parkir kek, mbaknya kek, satpamnya kek, kasih ke meja sebelah kek atau dibungkus kek, bisa gue abisin pas di kosan. Pokoknya gue pesen lagi dan saat itu bisa makan yang gue idamkan. Sayang, seperti keadaan hidup gue saat itu. Gue tak melakukan seperti kepingin gue. Gak berani banting stir. Dan ada seseorang disana yang gue merasa dia itu... tidak menahan gue untuk banting stir, tapi juga buat gue dia tidak membantu/ support/ ngeback up gue gitu... bukan salah dia, ini karena gue berekspektasi lebih aja sama dia - gue someday akan bercerita tentang dia dalam chapter tersendiri. He's special for me. Balik lagi ke cerita Indomie. Sejak awal gue memang labil. Selabil dengan apa tujuan hidup gue. Indomie goreng apa indomie rebus. Pilihan yang sulit, sama-sama mie, tapi beda. Tapi sama. Tapi beda. Pada akhirnya gue tetap makan indomie rebus itu. Dengan perasaan sedih dan berat hati. Dengan rasa kecewa. Dengan amarah. Dengan berandai-andai tadi nekat pesen lagi aja yang beneran dipengen. Makan dengan penyesalan. Dan itu gak nikmat. Padahal apa sih ruginya klo berontak dari memaksakan diri makan indomie rebus yang bukan sesuai ekspektasi? Cuma jadi bayar double kan palingan... ada lagi? Itu doang ruginya! Come on! Wake up, dude! Coba bayangkan klo berani ambil resiko pesen lagi. Makan dengan rasa suka cita dan ringan hati. Dengan rasa bangga. Dengan senang hati dan tidak bermaksud sombong karena bisa bayar double. Tapi ini soal rasa terpuaskan. Bisa makan dengan nikmat. Lalu kenapa gak ambil sedikit resiko - yang bahkan resikonya udah tau apaan untuk sesuatu yang lebih baik dan untuk sesuatu yang bisa bikin hepi? Malam itu gue pun memantapkan langkah gue untuk beberapa keputusan penting dalam hidup gue. Gue tau jawaban dari indomie goreng vs indomie rebus.
Rasa sakit dan sedih ini datangnya dari mana? Semoga bukan karena rasa iri atau penyesalan
Sampai di sini
Diterbangkan ke langit lalu dihempaskan ke bumi. Diberi bidadari inginnya peri. Sudah diberi tetap tak tahu diri. Malah lebih memilih judi Lebih baik aku pergi. Jangan tanya sakitnya hati. Ada banyak saksi. Mereka bilang sudahi sampai disini. Setuju aku kali ini. No more chance. You didn't change.
Berat Badan
Randomly ngebahas berat badan
Cacing: Jadi berapa berat badan lo? adek gue tuh 45kg
Dance: Eh serius? berat badan gue jaman SMA itu * 6-7 tahun lalu
Cacing: Emang berapa berat badan lo sekarang?
Dance: 60 :( bayangin gue naik 15kiloan. Sebeeell. Gendut gue sekarang
Cacing: Eh serius? kok gak keliatan
Dance: Hah? Seriusan?! *happy
Cacing: Serius, gak keliatan kayak 60 ah, keliatannya kayak 59
Dance: *lempar bom
Atas dasar apa kau berpaling, memutarbalikan fakta? - Rocket rockers, Aku bosan menjadi pecundang
Perbedaan
a. Perbedaan yang seperti air bertemu garam. Keduanya bisa bersatu dengan aman.
b. Perbedaan yang seperti air bertemu minyak. Keduanya tidak bisa bersatu tapi masih bisa berdampingan.
c. Perbedaan yang seperti api bertemu minyak tanah. Sebaiknya keduanya tidak bersatu atau akan menjadi tak terkontrol.
Jadi, perbedaan yang manakah kita?
Cacing & Dance: Jaket Parasit
Cacing: Jaket lo keren nih tjoy. Anti air ya?
Dance: Ng.. gak anti air sih, tapi ya lumayan gak langsung tembus soalnya ini bahannya dari parasit
Cacing: Parasit? Parasut maksud lo?
Dance: Eh? Iya :p
Thanks for saved me (again and again), Allah :)
Ya Allah, for a thousand times, please save me
I am queen of typo
Panggilan Kesayangan (Part 2)
#Throwback
K: Hi Makbul!
A: hah? kok makbul?
K: iya MAkin BULet
A: iih kok kamu jahat!
K: Bukan jahat, itu panggilan kesayangan aku mulai sekarang :*
*dan 3 bulan kemudian udah punya nama panggilan kesayangan baru, bulet ulu *bulet (muka) dan berbulu (janggut, kumis, pipi, tangan, kaki berbulu semua) zzzzz~
Panggilan kesayangan (Part 1)
A: *lagi fokus nonton film di laptop*
K: *merhatiin A yang lagi nonton film* kamu aku panggil bulet ulu ya mulai sekarang, hai bulet ulu~
A: hah? bulet ulu? maksud kamu aku bulet dan banyak bulu?
K: hehe itu kan panggilan kesayangan aku buat kamu~
A: j09qi8e39re2bj@je0eiowmdl hufffttt!!!
a true friend is the only person who never gets tired of listening to your own pointless dramas over and over again.