disuatu hari diantara celah cahaya sore.
“kenapa orang-orang selalu butuh alasan?”
“hm?” pertanyaanku sepertinya mengalihkannya.
“kenapa tidak terima saja tanpa alasan.”
dia memperbaiki duduknya, menatap jauh. “karena meraka butuh diyakinkan, meraka ingin percaya.”
“alasanmu mungkin bisa membuat orang lain yakin atas makna dirinya” sambungnya.
celah cahaya mengurai jeda.
“kenapa kamu menyukai sabit?” dia mengisi jeda.
dia mendengus, “karena kamu menyukai gelapnya.”
tiba-tiba dia tersenyum, “kamu selalu begitu, disaat orang lain melihat cahayanya, kamu melihat gelapnya. gelapnya yang membuat orang-orang bisa sadar kalau sabit indah. karena itu kamu menyukainya, bukankah begitu?”
“kamu punya alasan. kamu hanya tidak mengakuinya.”
satu helaan napas terdengar berat.
“kenapa terima kasih? padahal kamu merasa bersalah, bukankah kamu ingin bilang maaf?”
kali ini aku yang beralih, menatapnya.
“karena kamu khawatir kata maaf akan membebaninya.”