Tiba-tiba aku melihat awan berbentuk hati di langit.
Aku bertanya pada ayahku, siapa yang membuatnya.
Aku pun langsung berpikir, Tuhan itu penuh keindahan.
Ayah ibuku saling mencintai. Dan mereka mencintai aku.
Di hari yang lain di bulan yang sama, awan hitam datang.
Aku bertanya pada ibuku, siapa yang membuatnya.
Aku pun langsung berpikir, tak selamanya Tuhan baik.
Ayah ibuku saling mencintai, tapi hujan membuat mereka mengurung diri.
Aku juga begitu setiap kali melihat hujan.
Gumpalan awannya hitam, menghilangkan awan hati yang selalu kulihat.
Hujan selalu turun tiba-tiba.
Dan membuat hatiku seketika membiru.
Pernah suatu ketika ia turun ketika aku belum siap.
Badanku basah, tapi ia menutup air mataku.
Saat ia perlahan melihat kekasihku yang berlari di tengah hujan.
Aku selalu menunggu saat-saat di mana hujan menyelimutiku sebagai sahabat.
Di tengah binar hati yang tak mungkin muncul ketika ia datang.
Ia menyembunyikan kegembiraan hatiku.
Tapi ia datang sebagai sahabat.
Ditemani kopi dan sepucuk surat.
Dari kekasihku yang pergi.
Surat yang melukiskan bagaimana sebuah kenangan akan selalu ada.
Bagaimana masa lalu akan selalu ada.
Dan bagaimana rasa sayang akan selalu ada.
Rasa sayang hanya bisa aku lupakan.
Tapi tak bisa aku hilangkan.
Aku sayang kepada Tuhan meskipun ia kerap mendatangkan hujan.
Karena kemudian hujan menjadi sahabat baru bagiku.
Aku ingat bagaimana hujan mengingatkan aku tentang kehilangan.
Sejak awal aku mengenal, kehilangan awan berbentuk jantung hati.
Hingga kini, kehilangan kekasih yang lari di tengah hujan.
Aku tak pernah menduga hujanlah yang akan memisahkan kami.
Dan menjadi sahabat baru bagiku.
Desah nafas kekasihku bahkan masih terasa ketika malam itu kami menikmati bulan di beranda rumah.
Ketika tiba-tiba awan gelap menutup bulan.
Ia memandangiku hingga hujan turun, dan berlari begitu saja.
Sebelum pergi ia sempat berpesan, dia tak akan kembali padaku.
Tapi aku terlalu mencintainya.
Hujan mengajarkan padaku bagaimana merawat luka.
Hujan mengajarkan padaku bagaimana sebuah luka akan datang tanpa pernah permisi.
Dan hujan mengajarkan padaku bahwa cinta tak akan pernah kekal.
Selepas kepergian kekasihku, aku hanya duduk menatap kosong di serambi.
Menyeduh kopi dan memainkan nada-nada mini dari mulutku.
Menyesali kepergiannya yang tiba-tiba.
Tak berapa lama setelah hujan turun.
Aku ingin berlari menyusulnya.
Tapi Tuhan telah mengajarkan aku cara kehilangan.
Semenjak aku kehilangan awan berbentuk jantung hati.
Mungkin kekasihku membenciku.
Mungkin ia ingin melihat awan jantung hati.
Tapi aku hanya bisa memberinya bulan.
Yang waktu itu pun tidak purnama.
Aku rindu pada setiap kenangan yang terselip pada rintik hujan.
Ketika ia memelukku dan mengatakan bahwa ia menyayangiku.
Sayangnya tak akan pernah hilang, meskipun hujan membawanya pergi jauh.
Ia hanya belajar melupakan kepedihan atas sayangnya kepadaku.
Dan memberi kesempatan pada waktu.