P R I O R I T A S.
Malam ini jam 2.15 wib, seperti malam malam biasanya. Suara detik jam dinding, filter air aquarium terdengar amat sangat jelas ditengah tidur lelap kami.
Ada satu hal yang (mungkin) berbeda, perasaan khawatir dan bersalah Mima pada suami dan anak anak. Terutama pada anak anak, buah hati Mima amanah - Mu Raab Yaang berharga bagi kami.
Malam ini adek terbangun beberapa kali, nafasnya terdengan berat. Suhu tubuh nyaa terasa lebih hangat dari biasanya. Adek menangis, menunjukan ketidak nyamanan tubuhnya.
Mima terbangun dengan begitu panik, khawatir, takut, lagi dan lagi, berulang kali memegangi kening, tangan dan kaki nya memastikan suhu tubuhnya tidak terus meningkat.
Dalam hati, Mimaa terus bertanya² "kenapa?". "Apa yang salaah?" ketika Mima ingat mundur di hari ini, makan siang adek terlewat. Pampersnya cukup lama tidak di ganti karena Mima lupa dan (kebetulan) tidak bawa cadangan di tas. Minum nya? Tidak tau, Mima tidak ingat. Mima terlalu asyik berolahraga, badminton sampai semuaa itu luput dari ingatan dan tanggung jawab Mima
Astaghfirullahaladziim, ampuni hamba Yaa Raab ...
Bagiamana bisaa? Maafkan Mima naaak 😭
Bukan tentang hari ini saja, tapi tentang Semangat Mima untuk anak² dam suami. Bagaimana bisa? Mima merasa bisa dengan santai tidak menyiapkan makan dengan dalih anak² yang (agak) susah makan.
Bagaimana bisa dengan kondisi ummat yang (terasa) ogah²an ini tapi Mima begitu bersemangat mencurahkan waktu untuk mereka.
Bagaimana bisa? Fokus pada kondisi ummat tapi anak dan suami kau lewati tangga nyaa.
Astaghfirullahaladziim, ampuni hamba Yaa Raab
Hamba tersadar ada yang keliru, hamba tersadar tentang prioritas diri ini. Hamba sadar, tanpa harus bercerita, bertanya kepada Ummahat yang lain. Terimakasih yaa Allah..
Saat sibuk membuat ini dan itu untuk ummat, memikirkan banyak hal (yg katanya) untuk ummat, hati kecil Mima selalu bertanya, ini wajar ga ya?
Sibuk dengan begitu semangat membuat timeline, membuat dan menyebarkan flyer kegiatan, memikirkan langkah² agar masjid, proyek pembangunan kami di yayasan bisa berdiri. Tapi semua Mima lakukan di tengah hak suami yang (mungkin) belum terpenuhi, masakan yang belum tersaji, tumpukan baju kotor yang belum dicuci, lemari kosong karena baju yang belum terlipat, lantai kotor, dan barang² berserakan ituuu Mima selalu berfikir. Yaa Allah, ini wajar ga yaa??
Malam inii, terimakasih yaa Allah untuk pikiran ini, perasaan ini, pemahaman ini. Mima begituu keras berfikir... Meminta pada-Mu yaa Allah ... Bantu Hamba...
Yaa Hayyu yaa qoyyum ... Birohmatika Astagist, Ashlihlii syanii kullihi... Walaa taqilnii ilaa nafsi, totfata ''ain...
Jika memang, semangat untuk ummat ini adalah misi yang kau titipkan untuk hambaa makaa mudahkan Yaa Raab, titiip diri inii, Engkau yang lebih tauu, daripada Hiri hamba sendiri. Apakah, sebenarnya ini hanya ambisi hamba yaa Raab? Maka tolong ingatkan dengan caraMuu yang paling lembut ,, yaa Lathiif Yang Maha Lembut... dan bantu Hamba untuk segera menangkap, memahami setiap petunjukMu...
Yaa Raab, terimakasih... Atas izin Mu, malam ini hamba diingatkan bahwa... bagaimanapun suami dan anak² adalah prioritas utama hambaa. Hambaa sadar Raab, ada hal yang ternyata belum maksimal di tangga sebelum-nya (ranah ummat), di rumah, untuk suami dan anak², orangtuaaa... Bahkan (mungkin) untuk diri hamba sendiri (?)
Yaa Raab, jika memang semangat hamba ini berkiprah untuk ummat adalah misi yang kau berikan, maka mudahkan setiap langkahnya. Jika bukan, tunjukilah kamii pada misi hidup kami ... Kamii, hamba tak mau berlama-lama untuk hal yang sebenarnya (mungkin) hanya ambisi kami (saja).
Dan dengan ituu, mudahkan kamii... Mudahkan hambaa untuk memenuhi setiap tangga tanggung jawab, setiap tangga peran yang kau amanahi. Bantu hambaa, agar tetap terus berada di jalan-Muu... Jadi hamba yang kau Ridhai, jadi kebanggaan RasulMu, jadi istri yang shalihah, menenangkan menyejukkan suami kamii, anak Sholeh untuk Umi.. Abi.. Mamah, orngtua kamii, Jadi Ibuuu, madrosatul Uulaa yang baiik, Sholihah, mengenalkanMu, RasulMuu, agamaMu untuk anak anak kami dan jadi bermanfaat, Rahmatan Lil 'Alamiin untuk ummat Muu yaa Rasulullah... Sebagai penolong agamaMu...
Hamba tak berdaya tanpa bantuan Mu... tanpa pertolongan Mu... Tanpa cahaya Mu ...
Allahummahdinaashirootol mustaqiim 🤲
Bagiamanapun, izinkan kami untuk tetap selalu teguh di jalanMu yaaa Allah... Jadi bagian hamba hambaa yang Engkau ridhaa kepada kami ...
Yang kau panggil dengan lembut, "yaa ayyatuhannafsul Muthmainnah, irji'ii ilaa Ribbuka Roodiyatammardiyyaah.., udkhulii fii ibaadi, wadkhulii jannati..."










