Dan semoga, setelah segala gelisah yang kita pikul diam-diam, hati kita menemukan tempat untuk beristirahat. Semoga jiwa kita yang lelah dijemput ketenangan, seperti air yang akhirnya menemukan muaranya. Dan semoga Allah, dengan cara yang paling lembut dan waktu yang paling dekat, menyentuh luka-luka kita—lalu menyembuhkannya perlahan, sebagaimana Ia menenangkan malam setelah hujan.
Sebab manusia selalu berjalan dengan beban yang tidak selalu tampak, rindu yang tidak kita akui, takut yang kita sembunyikan, dan luka yang kita bungkus dengan senyum agar dunia tidak repot menebaknya. Kita terus melangkah, meski kadang rasanya seperti menyeret kaki di jalan yang tak kunjung kering dari air mata. Namun begitulah hidup bekerja—memaksa kita melewati malam agar tahu harga cahaya, memaksa kita kehilangan agar tahu nilai sebuah temu.
Ada hari-hari ketika kita merasa runtuh, tapi tetap harus bangun. Ada hari ketika dada terasa sesak, namun kita tetap harus tersenyum pada orang yang tidak pernah tahu betapa lirihnya hati kita pagi itu. Dan mungkin di titik-titik seperti itulah Allah paling dekat—bukan dengan gemuruh, tapi dengan cara-Nya yang membuat kita kembali percaya bahwa tidak ada patah yang sia-sia di genggaman-Nya.
Maka, jika malam ini terasa berat, tenanglah sebentar. Letakkan semua yang tak sanggup kita tanggung di pangkuan-Nya. Allah tidak pernah kehabisan cara untuk memulihkan sesuatu yang sudah lama kita kira tidak bisa diperbaiki. Kadang Ia menenangkan lewat doa yang tiba-tiba terasa ringan; kadang lewat seseorang yang datang tanpa rencana; kadang lewat hati kita sendiri yang, entah bagaimana, mulai berani berharap lagi.
Semoga esok yang kamu temui bukan lagi esok yang gelap, tetapi esok yang membuatmu mengangguk pelan dan berkata,
“Ternyata Allah tidak pernah meninggalkanku.”









