Tidak seperti bidadari
dia tidak mirip bidadari kok, yah karena saya gak tau bagaimana bentuk dan rupa bidadari, saya gak pernah liat..
yang saya pernah liat dan saya akui indah adalah gunung, langit, mentari pagi hari, mentari sore hari, rembulan apapun bentuknya dan lautan..
yang terakhir saya sebut adalah ciptaan Nya yang sangat saya kagumi.. sampai beberapa minggu sebelum ini saya tak pernah melihat ada yang lebih indah dari lautan beserta pantainya. kombinasi antara pasir putih, garis batas horizon, pantulan cahaya matahari dari birunya air, kepak burung bangau, suara debur ombak yang dapat mengalahkan bunyi harpa termerdu sekalipun (padahal saya gak pernah denger bunyi harpa), bau amis laut yang tidak bisa dibandingkan bahkan dengan parfum dari paris (sekali lagi, saya gak pernah nyium parfum dari paris), dan angin yang membawa semua harmoni alam itu merasuk kedalam kulit saya.. apalagi jika itu semua dinikmati saat sang raja siang menutup mata.. hal itulah yang membuat saya jatuh cinta pada laut
yah.. sampai beberapa minggu sebelum ini saya masih merasa tidak ada yang lebih indah dari mahakarya itu.
tapi ternyata saya salah.. maha suci engkau ya Alloh yang telah menciptakan dia, segala puji bagimu ya Alloh yang telah mengatur serangkaian peristiwa yang bermuara pada satu kejadian: pertemuan saya dengan dia, di sebuah daerah dengan duka yang sangat pekat terhirup dari udaranya.
hahahaha,, Baiklah.. saya akui, itu bukanlah sebuah pertemuan karena sebuah pertemuan mengharuskan adanya interaksi timbal balik antara para pelakunya. Dan dalam kasus ini yang terjadi hanyalah saya MEMPERHATIKAN dia, memperhatikan dia berbicara, memperhatikan bening matanya, memperhatikan kerudung dan cardigan coklat yang dikenakannya, memperhatikan saat dia agak kaget ketika diajukan pertanyaan tiba-tiba.
Dan hebatnya, itu semua saya lakukan tanpa dia menyadari keberadaan saya..
Ahh.. saya akui pertemuan dengannya membuat malam ini sedikit berwarna. Pukul 10.30 WIB, sempat saya hardik sang waktu yang akan menghentikan detik-detik kegiatan saya memperhatikannya tapi toh sang waktu akan tetap acuh berjalan tanpa takut. Akhirnya tiba waktunya untuk dia pergi, kembali kepada kehidupannya yang mungkin saja tidak akan tega kesedihan untuk hadir di dalamnya. Sayangnya nyali saya sedang turun sampai batas terendahnya. Alhasil tak berani saya menegurnya hingga malam itu saya habiskan untuk menebak nama yang cocok dengan keindahan sosoknya. Mungkinkah namanya indah, atau dewi atau putri atau bahkan juminten?
Ah, apalah arti sebuah nama. Dia sudah terlanjur begitu indah dan akan tetap begitu indah bahkan jika namanya joko sekalipun. hehehe..
Jujur, setelah malam itu saya tidak sedikitpun mengharap untuk bisa bertemu lagi dengannya, karena saya anggap dia hanya sekedar wanita indah, sama seperti wanita indah lainnya. Tapi kenyataan berkata lain, esok harinya dia kembali hadir di hadapan saya, kembali memanjakan mata saya.. hehehe. Sampai saat ini saya masih menganggap dia sama seperti wanita indah lainnya. terus saya memperhatikannya, bagaimana gerak-geriknya saat dalam tugas, menguping apa yang dia bicarakan. saat itu saya sadar bahwa dia berbeda dibanding wanita indah lainnya, dia jauh terlihat lebih indah saat saya memperhatikan bagaimana dia memperlakukan mereka yang butuh jasanya, saat saya tau bagaimana pandangan-pandangan hidup yang selama ini dilihatnya. Okey, she is different..
Sejak saat itulah dia saya daulat menjadi makhluk ciptaan Tuhan yang bahkan lebih indah dari lautan sekalipun -ciptaanNya yang sebelum bertemu dengan dia selalu menempati peringkat teratas dalam keterbatasan selera saya-
“To, …. minta tolong cariin flashlight dong!”
ahh,, dia tau nama saya dan akhirnya saya tau namanya..
Ahhhh… sungguh saya tertarik, mungkin kejadian dan nama itu akan terus tersimpan dalam keterbatasan memori yang saya punya.. mungkin.. saya tidak bisa berjanji..
*ntar dilanjut.. mo ngangkat jemuran dulu* hehehe














