A new strain of coronavirus has been detected in cats in the UK, raising concerns about the potential for feline-to-human transmission. Stay

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from China

seen from Singapore
seen from Sweden

seen from Türkiye
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States

seen from United States
A new strain of coronavirus has been detected in cats in the UK, raising concerns about the potential for feline-to-human transmission. Stay
Have nothing but free time?⏰ A Video Creation Job for you! 📱 $20-$50 for Each Short Video you create🤑 åSign Up Now➡️ https://bit.ly/3wHgWly
Let's begin the day with this well-built sporty by Johnathan Evans at @minority_custom in Indonesia. Well done! . "We called this "Penny" from HD Sportster 883. Custom motorcycle: @minority_custom" . 📷: @val.willson . Channel youtube: MCM Minority Custom Motorcycle --------------------------------------------------------- . . #sportster #sportster883 #harleydavidson #chopcult #motorcustomindonesia #custommotor #custombike #lifestyle #happy #dirumahaja #mcm #minoritycustommotorcycles #surabaya #indonesia #MauKerenYaKustom #harleydavidsonindonesia https://www.instagram.com/p/CUSUMaCF1Lj/?utm_medium=tumblr
"MENABUNG DI LANGIT PALING AMAN" Ungkapan yang sering kita dengar yaitu “menabung di langit merupakan tabungan yang paling aman.” Ungkapan ini ada benarnya dan merupakan ucapan seorang sahabat yang mulia yaitu Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Beliau radhiyallahu ‘anhu berkata, مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَجْعَلَ كَنْزَهُ فِي السَّمَاءِ حَيْثُ لاَ يَأْكُلُهُ السُّوْسُ وَلاَ يَنَالُهُ السُّرَّاقُ فَلْيَفْعَلْ، فَإِنّ قَلْبَ الرَّجُلِ مَعَ كَنْزِهِ “Barangsiapa yang mampu untuk menyimpan harta simpanannya di langit, sehingga tidak dimakan oleh ulat dan tidak pula bisa disentuh oleh para pencuri, maka lakukanlah. Karena hati seseorang bersama harta simpanannya.” (Al-Fawaaid, hal. 159) Maksud dari menabung dan menyimpan harta di langit yaitu menginfakkannya di jalan Allah Ta’ala. Yaitu berupa sedekah, infak, wakaf, dan sebagainya. Harta yang kita simpan di dunia bisa jadi hilang atau dicuri, bisa rusak, atau bisa jadi kita menggunakan harta tersebut tanpa kita sadari (tiba-tiba habis karena tidak berkah). Akan tetapi, harta yang kita simpan di langit akan tetap ada dan bermanfaat, baik di dunia maupun di akhirat. Harta yang kita simpan di langit akan bermanfaat juga di dunia, yaitu akan menambah keberkahan hidup kita. Keberkahan tersebut berupa kemudahan hidup, kemudahan menjalani berbagai ujian dan cobaan, serta kemudahan dalam melakukan berbagai kebaikan & ibadah yang mengantarkan pada kebahagiaan sejati. Allah Ta’ala berfirman, وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39) ___________________________ credit : www.pexels.com https://muslim.or.id/59683-menabung-di-langit-paling-aman.html ___________________________ #muslimcreatorclass #dakwah #hijrah #sunnah #islam #sedekah #infaq #zakat #donasi #berbagi #sedekahonline #sedekahyuk #wakaf #sedekahjumat #islam #hijrah #ramadhan #jumatberkah #infak #covid #dirumahaja #indonesia #yatim #dakwah #sedekahjariyah #muslim #anakyatim #sedekahrombongan #qurban #yuksedekah #sunnah #peduli #sedekahmembawaberkah #dhuafa https://www.instagram.com/p/CTDseJqpQm0/?utm_medium=tumblr
Kuliah Online Gak Bikin Pinter?
Padahal soal menuntut ilmu dalam Islam, adab belajar merupakan hal penting. Adab inilah penentu keberhasilan seseorang dalam menuntut ilmu. Tanpa adab, keberkahan ilmu hilang. Bahkan para ulama mengatakan, "Pelajari adab sebelum mempelajari ilmu." Bagaimana implementasi adab Islam di dalam proses belajar/kuliah online?
(Ustadz Budi Handrianto pada artikel yang menggelitik: Adab Kuliah Online)
-- disclaimer: ini curhatanku terkait forum ilmu, yang mana yang kumaksud forum ilmu agama mau pun kedokteran --
Di artikel “Adab Kuliah Online” Ustadz Budi Handrianto menjelaskan berbagai kasus yang ditemui (tilawah bahkan ngupil selama kajian) kemudian diakhiri beberapa saran praktis dari beliau, in response to current situation.
Jadi ingat di awal pandemi, aku juga pernah diceritakan seorang adik tingkat di FK kalau mereka kuliah online berkendala antara lain: bosen, kadang pakai piyama, ditinggal-tinggal pergi. Bahkan ada, yang tiba-tiba harus menyalakan kamera di saat nggak pakai kerudung sehingga spontan, langsung pakai selimut sebagai hijab. Hehe.
Kemudian akhirnya merasakan sendiri tantangan tersebut di dua pekan belakang ini, masuk koass stase THT yang semua kegiatan ilmiahnya via daring. Pembelaanku: topik-topiknya terlalu advanced, ini kan kegiatan residen. Jadi yaa, aku kadang sambil buka-buka website lain dan tidak serius mencatat. Kadang, tertidur dan bangun mepet jadwal. Hmm. Dasar aku. Akhirnya Allah ingatkan lewat tulisan Ustadz Budi Handrianto, yang buku Islamisasi Sains-nya juga telah banyak mencerahkan.
Anyways! Aku pikir, sudah dalam standar adab yang cukup yaitu ketika kajian minimaaaal sekali menutup aurat dan duduk yang rapi. Ditambah: menghadap kiblat, menjaga wudhu, mencatat dengan baik (walau kadang yang ini belum semua terpenuhi either ngemil, ngantukan #hiks #needdoa)
Tapi ternyata ketika aku ngepost link artikel itu di status WA, ada balasan dari seorang mas:
“Itu makanya mas tetep konservatif selama corona ini, ga terlalu prefer kuliah-kuliah online. In fact, mas malah ga ikut satu pun, sekali pun termasuk pengurus 😅”
Saya jawab “MasyaAllah.. terus jadi ikut apa mas? Kalau kajian?”
“Ga pernah, I only read a book. Selama corona ini”
Cukuplah aku malu haha. Memang itu pilihan sih (dan tidak semua bisa melaksanakannya, seperti apabila ada perkuliahan wajib), tapi beliau ternyata sedemikian menjaganya. Aku, bisa dibilang juga termasuk konservatif sebelum situasi demikian. Dalam artian, I’d rather travel miles to masjid untuk kajian sekali pun ada streaming online-nya.
Kenapa? Cukuplah sebuah kisah ulama yang safar berkilo-kilo, berhari-hari, hanya untuk menkonfirmasi suatu hadits yang tidak dipahami. Cukuplah hadits terkait keberkahan pada suatu forum ilmu membuat merasa rugi kehilangannya. Taman-taman Surga.
Terlebih pernah membaca:
Adapun dalam falsafah pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor, ada aspek penting yang dinilai lebih menentukan dari pada metode dan materi, yakni jiwa guru. Tanpa guru yang menjiwai, motode dan materi sebagus apapun, tetap tidak akan efektif. Seorang pendidik yang memiliki jiwa pendidik yang ikhlas, akan memberikan efek yang besar kepada murid-muridnya. Dari jiwa pendidik yang ikhlas inilah, guru akan menjadi teladan bagi muridnya, dan transfer pengetahuan dan adab bisa tertransmisikan dengan baik. (link)
(hiks itu kali ya mengapa bertatap muka dengan guru itu, akan punya feel berbeda)
Tapi ketika Allah berkehendak lain, dan rumah menjadi rumah dzikir, rumah ibadah, sekaligus rumah ilmu maka ‘mau tidak mau’ ikut kajian secara online. Malah, bersyukur sekali, karena: bisa merutinkan setiap malam, bisa menimba ilmu dari masyaikh di negeri seberang, bisa mengajak teman dan anggota keluarga. Allahuakbar, bahkan fenomena ini menjadi jalan beberapa teman-teman di lingkaranku menemukan kembali Islam. Apalagi, kemarin bertepatan momentum Ramadhan.
Anyways, dear Habibah, selelah apa pun mata, sepegel apa pun duduk, koneksi internet yang kadang bikin mengelus dada, materi belum dipahami.. selamat menjaga adab terbaik! Semangat ya Habs, besok mulai kegiatan ilmiah THT nya lagi, haha. Jangan sambil scroll-scroll instagram lagi ya:(
Jangan sampai muncul kalimat itu lagi ya Hab: Takut ngga pinter karena koass online. Inget Hab, ilmu itu milik Allah maka jangan sekali pun meremehkan hal bernama adab. (Hehe sebuah self-talk)
Jika saya memperhatikan para pelajar (santri), di zaman kami sekarang ini, mereka telah bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu, tetapi banyak dari mereka tidak mendapat manfaat dari ilmunya. Yakni, berupa pengamalan dari ilmu tersebut dan mengajarkannya. (Hal itu terjadi), karena cara mereka menuntut ilmu salah, dan syarat-syaratnya mereka tinggalkan. Siapa saja yang salah jalan, niscaya tersesat, serta tidak mencapai tujuan.
Imam Az-Zarnuji pada Muqaddimah kitab Ta’limul Muta’alim
-h.a.
di tanggal merah, setelah menyedihkan diri sendiri
Mungkin ini yang membuat kita merasa masa kecil adalah masa begitu menyenangkan. Bisa bermain sesuka hati, bergembira sepanjang hari tanpa perlu memikirkan apa yang mungkin saja esok terjadi.
Tanpa pernah kita tau, ada sosok yang bersedia punggungnya disengat matahari, waktunya lelah sepanjang hari, atau bahagianya tidak lagi penting. Menyaksikan putri kecilnya bergembira, itulah yang lebih penting.
Lalu saat putri kecil itu tumbuh dewasa, dan memiliki apa saja perihal kemewahan dunia ia bertanya pada orang tersebut “Pak, apa yang bisa membuat bapak bahagia?”. Tak perlu repot-repot nak, apalagi sampai mau membangun rumah kita. Tak perlu mewahkan rumah kita, mewahkan hati ibumu saja. Itu sudah lebih dari cukup. #rumah #dirumahaja #physicaldistancing https://www.instagram.com/p/CA5G5U7AqG6/?igshid=1oms12qugs2t6
Aku tengah mengerjakan PR, belajar menghitung dan membaca biasanya di temani ibu. Tapi malam ini aku mengerjakannya sendirian sebab ibu tidak bisa menemani belajar karena capek. Pekerjaan rumah yang begitu banyak, di tambah ibu sedang mengandung adikku diperutnya.
"Tokk.. tokk.. tok.." Suara ketukan pintu terdengar keras tepat pukul 7.20 malam, aku langsung keluar kamar dan benar saja itu ayah.
"Ayahhh.." aku memanggilnya dari kamar menuju pelukannya.
"Nanti dulu yah nak, ayah capek..!!" Hmm, hilanglah kesempatanku menyampaikan rindu yang sudah ku tahan selama seharian ini.
"Masuk kamar dulu yah kak, lanjutin belajarnya, ibu ada perlu dulu sama ayah"
"Baik bu," dengan perasaan kecewa aku kembali ke kamar dan melanjutkan PR.
Kalian tau? Aku suka belajar matematika, aku bisa berkhayal mempunyai banyak buah kemudian memakannya dan sisanya adalah jawaban dari PR ku. Itu baru dari satu soal, sedangkan ini ada 7 soal dengan 3 jenis buah yang berbeda, 2 soal ice cream dan 2 soal alat tulis. Aku sangat kaya dalam khayalku, hheheh..
Tak terasa waktu menunjukan pukul 8 dan aku baru ingat kalau belum sholat isya, duhh pelajaran matematika membuatku lalai dengan kewajibanku. Aku segera mengambil wudhu dan melaksanakan sholat. Selesai sholat, hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Kemudian aku merapikan bekas belajarku karena kalau ini terlihat ibu, mungkin aku akan kena omel seharian penuh.
"Alhamdulillah selesai, sekarang waktunya tidur, Bismillahirrahmanirrahim, bismika Allahuma ah'ya wa bismika amuut"
Baru pejamkan mata, tiba-tiba aku mendengar ayah berteriak, yang tadinya mau beranjak tidur pun tidak jadi dan langsung menghampiri pintu, tapi aku ingat kalau tadi ibu memintaku ke kamar sebab ayah dan ibu ada perlu. Akupun mengurungkan niatku dan hanya melihat dari lubang pintu.
Ternyata, ayah dan ibu tengah berperan.
Di malam yang terasa begitu mencekam
Sentuhan dingin tak henti menusuk tulang
Aku hanya berselimutkan hujan
Tersenyum menyaksikan sebuah pertunjukan
Dialog ayah dan ibu
Yang sendang melawan kerasnya badai
Terdengar harmoni
Dengan hujan petir sebagai pengiring
"Hheheh, Allah lihat deh, orang tua ku sedang bersandiwara menjadi penyihir yang beradu kekuatan, ini seperti nyata karena hujan dan petir begitu harmoni dengan adegan mereka" ucapku dalam hati.
Tiba-tiba air mata mengalir, aku tak tau kenapa bisa keluar padahal aku senang melihat pertunjukan ini di depan mataku. Aku menyapu pipiku dan berucap pada diri "Hari ini cukup segini dulu nontonnya yahh, udah malam waktunya tidur, semoga besok pagi pertunjukan ini berakhir" ucapku pada diri sendiri.
Sekarang, dari bangun tidur sampai tidur lagi kita lebih sering bertemu dengan diri sendiri.
Kita menjadi lebih dekat dengan rasa sepi, dengan kekosongan, dengan kecemasan yang semakin hari semakin terasa begitu nyata.
Ternyata melelahkan ya terus berada di rumah.
Dunia luar lebih mudah mengalihkan setiap permasalahan yang kita miliki. Lebih mudah membuat kita tertawa dan melupakan semuanya.
Sulit rasanya untuk bisa duduk diam bersama diri sendiri. Kekhawatiran-kekhawatiran di kepala kita terasa begitu nyaring.
Tidak nyaman rasanya jujur kepada perasaan sendiri, mengakui dan menerima kecemasannya.
Tidak nyaman rasanya memberi waktu kepada diri sendiri untuk membicarakan apa saja yang ingin dia sampaikan.
Tidak nyaman rasanya untuk sejenak melepaskan genggaman dari telepon pintar yang kita miliki.
Mematikan siaran televisi dan berhenti untuk memutar lagu.
Kita tidak terbiasa mendengarkan diri kita sendiri, kita lebih sering mengabaikan perasaannya.
Sampai-sampai kita lebih senang berbicara dengan orang lain, daripada dengan mereka yang selalu menunggu kita di rumah.
—ibnufir