Mungkin bagi sebagian orang apa yang menjadi ketakutan seseorang itu adalah hal remeh dan biasa. Tapi ada sebagian orang yang memilih berkemas terlebih dahulu, atau pergi menjauh menjaga jarak karna takut akan kehilangan maupun terjadi suatu hal yang diluar keinginan.
Sedari dulu aku sangat sering di tinggalkan, sudah terbiasa dengan penolakan atau pengabaian, dari teman atau orang-orang yang seharusnya selalu ada, dan entah kenapa aku tumbuh menjadi sosok yang lebih memilih pergi menjauh dan dibilang sosok yang jahat, dari pada aku yang harus kehilangan, karna apa? Karna sakitnya itu jauh lebih menyakitkan, ketika kita mulai membuka hati, mulai merasa nyaman, sayang dengan apapun itu, tapi setelah itu kita ditinggalkan.
Aku cuma lelah ditinggalkan, karna nampak nya ke kurangan , dan ketidak sempurna dimata orang lain, aku lebih menyayangi diri ini dengan menjauh sebelum ditinggalkan.
Jadi apakah aku salah bila menjaga diri? membuat batasan agar aku tidak jatuh dan retak? Ketahuilah berdiri sendiri tanpa ada sosok siapapun di samping mu dalam keadaan hancur itu sangat menyakitkan, aku lebih menyayangi diri ini karna sedari dulu hanya ada Allah dan diri ini, dan manusia lain? Aku tak memiliki nya.
Maaf aku bukan egois, aku hanya merawat diri sebelum aku sakit
Di hidup yang sekali ini, dihidup yang punya banyak luka yang amat sangat sulit disembuhkan ini, kenapa aku selalu dipertemukan sama orang-orang hidup nya sempurna? Hidupnya tak pernah merasakan kesulitan yang dialami diri ini? Kenapa ketemu sama orang-orang perfeksionis?
Ibarat aku udah banyak terkena anak panah, yang sedang berlumuran darah, yang berusaha mencabut anak panah, yang berusaha menyembuhkan luka-luka ini, terus tiba-tiba disuruh berlari.
Ya Allah aku cuma pengen hidup tenang, dan merasa aman just simple ini aja asli. Serius aku udah capek banget, udah bekerja di dunia pelayanan, dengan gaji mungil, yang kerja nya pake fisik dan otak untuk merehabilitasi orang, dirumah punya keluarga yang toxic, terus lingkungan yang sekarang ini yang aku harapkan dapat keluarga untuk bisa bahagia, kenapa mereka itu buat saya semakin merasa semakin terluka.
Ini serius aku yang problematik? Atau aku emang salah tempat? Katanya orang paham agama itu menenangkan, tapi kenapa aku merasa semakin dituntut menjadi seperti malaikat yang tidak boleh salah? Hidup kalian seindah itu kah? Aku cuma pengen ibadah, pengen ditemani, pengen dirangkul bukan disuruh lomba olimpiade yang harus juara dan ga boleh salah sama lawan.
Ini serius aku yg terlalu hina? Atau aku yang salah ambil lingkungan? Kenapa jalan ku selalu ketemu mereka? Kalau aku emang selevel dengan mereka kenapa aku merasa mereka adalah ancaman bukan sebuah ketenangan? Ya Allah capek banget disuruh hidup sempurna, sedangkan aku dibentuk dari lingkungan yang hancur lebur, gimana bisa bersanding dengan orang-orang yang seperti mereka? Ini buat aku gila ya Allah😭
Terkadang memang Allah uji kita dengan hal-ha yang kita tidak sukai, seseorang, kejadian, dan lainnya. Hmm bukti Allah pengen liat kita benar-benar beriman apa tidak, jika udah ga suka dipertemukan, lalu kita lulus untuk bisa sabar apa tidak?
Sepertinya Allah mau memberikan pahala sabar buat hamba yang Allah uji dengan model seperti ini 😭
Mungkin benar manusia itu tidak akan pernah ada habisnya untuk merasakan kepuasan. Kelapangan hati bukan di liat dari nominal tapi dengan rasa syukur yang Allah lapang kan pada hati kita.
Dulu aku pernah merasakannya rezeki sekali kunjungan pada pasien 1.5jt sehari dan rasanya itu happy bgt, lalu tiba masanya benar-benar tidak punya uang sama sekali dan saat punya uang 50 ribu nyempil di buku rasanya happy bgt. Ternyata rasa bahagia itu lagi-lagi bukan hanya tentang nominal, tapi juga tentang bagaimana hati kita menyambut apa yang Allah beri.
Sekarang sedang ramai berita ada seorang istri yang diberikan nafkah oleh mantan suami diatas 200jt tp tdk menunjukkan rasa terimakasih, padahal diluar sana banyak istri yang diberikan nafkah per-hari sekitar 50-100rb untuk kebutuhan sehari-hari dan banyak diantaranya cukup meskipun terbatas, dan mereka menyambutnya suami dengan penuh suka cita.
Ternyata pr terbesar bagi wanita itu adalah rasa syukur, dan rasa tenang yang lahir dari ketakwaan hati masing-masing.
Lapang nya hati adalah ia yakin bahwa Allah yang cukupkan. Bahagia saat dapat nominal rezeki yang besar, bahagia juga ketika Allah berikan rezeki yang cukup, ataupun pada saat dimana kita tak memiliki apapun…
Semua hadir karna hidupnya hati yang penuh rasa yakin bahwa Allah yang memberikan. Dan ternyata yang paling besar adalah menjaga rasa syukur pada apa yang Allah berikan kepada kita.
Ya Allah, Ya Rabb, Ghufraanaka, hamba dan para wanita sering misuh-misuh tak bersyukur, padahal ini yang beri adalah Engkau.
Hari ini aku belajar rasa cukup dan bahagia itu letaknya ada dihati kita masing-masing, kalau kamu belum merasa cukup mungkin yang salah bukan tentang nominal, tapi rasa yang selalu membandingkan dengan rezeki orang lain.
Kalau yang sedikit masih tak mampu melapangkan hati mu, lantas bagaimana Allah percaya untuk memberikan yang banyak?
Semakin bertambah usia ternyata yang buat kita merasakan jiwa yang tenang itu ternyata sederhana… Ternyata kamu mulai tidak peduli orang lain mau menilai kamu seperti apa, cukup jadi versi terbaik untuk Rabb yang ciptakan kita.
Sebaik apapun kita, sebanyak apapun pengorbanan kita, dimata manusia yang tidak melihat kelebihan kita dan hanya melihat kekurangan maupun kelemahan kita kita hanya seperti tembok (ada dan tak ada sama saja).
Jika kamu utarakan perasaan sedikit aja? Apa respon nya? Pasti dibilang kurang bersyukur, lalu membela orang-orang yg justru lebih kurang dari pada kita yang sudah berikan pengorbanan sebaik-baiknya, kita hanya dianggap nol bahkan minus dari pada manusia yang sudah di curi hati nya.
Ternyata sehat nya hati dan jiwa kita cuma sederhana : "berhenti untuk diterima atau dicintai manusia".
Jik ada orang yang benar-benar mencintai kita itu murni karena Allah berikan, tapi kalaupun Allah belum berikan itu pun bukan tanda Allah tidak Ridha atau sebagai kualitas diri kita.
Jadi apapun posisi kamu sekarang, stop bandingkan kualitas hidup mu dengan rasa penerimaan orang lain kepada dirimu,
Bila ada yang belum suka kamu, jangan pernah merasa diri kamu tidak berharga,
Semua hanya cuma karena ada nya kecocokan hati pada setiap manusia,
Tak ada manusia yang benar-benar diterima dengan segala kondisi, apalagi bila kamu tak punya banyak kelebihan, apa alasan kamu untuk berharap dicintai dan diterima?
Jadi sewajarnya saja hubungan dengan manusia, jangan anggap dunia ini runtuh hanya karena kamu belum jadi sosok favorit nya seseorang.
Cukup jadi hamba yang dicintai Nya, kalaupun bisa dicintai banyak manusia itu adalah anugerah yang Allah tumbuhkan pada hati hamba-hamba Nya.
Semoga Allah dekatkan kita pada orang-orang yang mampu melihat kelebihan kita lebih besar, dari pada hanya pandang kita dari segala kekurangan kita.
Kalaupun pada akhirnya kita hanya menjadi bagian manusia yang tak dianggap diantara banyak orang didunia ini maka tak mengapa, kita hidup untuk beribadah bukan? Mungkin Allah jaga kita dari banyak manusia agar kita lebih selamat.
Kunci waras dalam kehidupan dunia pekerjaan ataupun sejenisnya adalah cukup bilang iya, tak usah berdebat, ikuti apa aja selagi ga haram, biar apa? Biar cepat dan hemat tenaga.
Aku pernah baca sebuah buku, bahwasanya otak kita memiliki sinaps yang sangat banyak sekali. Sinaps itu saling membentuk ikatan yang saling berhubungan.
Sinaps-sinaps tersebut lah yang menggerakan kita semua, dari gerakan, maupun kepada ingatan memory yang otak kita simpan.
Ada masa dimana otak kita kita butuh untuk memperbaiki jalur sinaps tersebut agar ia memiliki jalur yang baru, atau hanya sekedar memperbaiki lintasan nya. Dan tau kah? Malam adalah waktu yg Allah pilih untuk perbaiki semua ini.
Ada baik nya saat malam tiba kita mengingat pd apa-apa saja yg kita kerjakan, dan muhasabah pd apa kekurangan yg kita lakukan, lalu tetap berusaha untuk perbaiki segala kekurangan kehidupan kita untuk hari esok.
Tapi terkadang waktu malam pun bisa juga menjadi malam yang terkadang membuat gelisah. Terlebih buat orang-orang yang belum menemukan pasangan hidupnya, dan buat orang-orang yang kurang berdzikir kepada Rabb Nya.
Kadang-kadang di saat malam saat mau tidur aku selalu berfikir :
“Bagaiamana cara nya Allah buat aku yg hati nya sedingin es ini bisa menemukan pasangan hidup?
Gimana cara nya Allah buat aku bisa jatuh cinta dengan laki-laki? Karna jujur udah di fase mati rasa dan trust issue sama laki-laki…
Gimana cara nya Allah buat bisa aku bertemu dan bersatu dengan laki-laki yang benar-benar aku percaya bahwa ia adalah suami yang baik? Yang aku harapakan menjadi sosok laki-laki pertama yang waras dalam hidup ini…
Dan terkadang aku merasa apa ini berlebihan ya? Secara laki-laki sekarang yang waras itu sedikit, dan pasti mereka punya kriteria yang entah aku bisa jd salah satu kriteria nya apakah tidak”.
Kadang udah ada di fase hidup yang tak mau berharap banyak, tp aku berfikir Allah itu maha kaya, Allah maha berikan hal-hal plot twist yang aku ga nyangka itu akan terjadi, seperti kejadian kemarin, aku tak menyangka bakal bisa qurban, apa lg dengan domba jantan? Ini unpredictable sekali.
Aku bukan tak ingin mencintai hal-hal yg tinggi, aku cuma ga mau sakit dan jatuh dalam angan-angan yang terlalu tinggi yang sulit untuk digapai, yg aku cuma ingin terkadang sederhana saja, cuma ingin melewati ujian hidup didunia ini Allah kasih satu kemudahan yaitu punya partner hidup yang benar-benar mau jadi tempat teraman dan nyaman, dan dia sabar membimbing dalam ketaatan, sederhana cuma pengen ini.
Sehebat apapun kamu berdiri, sehebat apapun kamu membuat rencana, akan ada masa otak mu ini lelah, bukan krn dia ga ada istirahat, karna memang pada dasarnya manusia butuh namanya keseimbangan antara emosi dan rasional. Kalau diantaranya dominan pasti akan ada masalah dalan dirinya.
Semoga apa pun keadaan nya, entah masih sendiri atau bersama pasangan hidup. Allah selalu ada untuk kita.
Semoga Allah mau terus bersamai hari-hari kita yang terkadang berat sekali untuk dipikul,
Namun yakinlah, meskipun ada suatu titik dimana kita bingung harus bagaimana, lalu kita Ridha dengan keadaan, justru disini terkadang pertolongan Allah hadir.
Pr nya cuma satu yaitu jangan sampai kita merasa putus asa, yakinlah Allah mampu buat segala yang tak mungkin menjadi mungkin.
Selamat beristirahat, pejamkan mata, lalu berdoalah, minta ampunan atas segala dosa yang kita lakukan, dan mari perbaiki otak kita dengan istirahat, serta yakin lah atas segala ketentuan takdir Allah agar jiwa kita tenang.
Buat kakak-kakak yang terlibat atas kebijakan diskon domba dari harga 2,3 jd 1,5, buat kakak-kakak yang ganti domba betina jd domba jantan gemoi semoga kalian masuk surga, Aamiin Ya Mujibassailin, sungguh pas kmrn tau kabar lgsg terharu dan gemeter, bahkan terharu sampe detik ini.
Krn bila di ingat-ingat kek nya ga mungkin aku bisa qurban apa lg dgn gaji mungil ku itu, apa lg pas dikasih bonus bisa jd domba jantan gemoi itu tumpeh air mata ini sambil berkata koq iso :')
Habis melakukan adegan terlarang selama 30 tahun hidup, yaitu masak daging di rumah yg ratu nya ga suka daging. Lebih dag Dig dug ini dr pd sidang skripsi, takut nyonya besar ngambek alias my mother
Di luar sana orang-orang sibuk bangun karir, bangun keluarga, aku? Mencoba bangkit dari kepahitan hidup.
Udah biasa jd anak yg ga diangap, yang ga di dengar, yg ga di urus, usia 30an ini ya Allah makasih engkau jaga aku dari bunuh diri, kalau aku ga ikut kajian ga dekat sama orang2 shalih itu apa lah jd nya aku sekarang?
Aku capek bgt ya Allah tinggal dirumah, pengen pergi dari rumah, capek bgt asli punya orang tua kaya mereka. Aku jg pgn ya Allah bahagia, klo semua apa-apa karna orang tua aku apa jd nya? Aku jd apa? Apa aku harus nangung dosa orang tua yang aku jga ga mau punya orang tua kaya mereka 😭😭😭
Ustadz bilang : “kalau mau nikah hubungan sama orang tua berantakan bisa fatal”.
Oh gini ya privilege punya keluarga toxic, bahkan mau nikah pun bisa berantakan, yang diharapkan bisa membuat semangat hidup.
Andaikan memperbaiki orang tua semudah memperbaiki baju yang rusak, mungkin 4 tahun resign tahun lalu dan melepaskan status karyawan tetap ini menghasilkan segala harapan, tapi nyata nya membuat mental semakin hancur, bahkan karir dan finansial berantakan.
Ga tau lagi hamba mau ngapain sama hidup ini, semua rasanya buntu, punya orang tua yang mental block, punya orang tua toxic, punya orang tua yang pilih kasih rasanya buat hidup semakin :’)
Lucunya jadi orang tua, menyuruh anak gadis nya menikah, tapi aktivitas sehari-harinya berantem hebat, belum lagi harus jadi tong emosi mereka. Ditambah beban finansial yang mereka limpahkan, aku serius kuat ini ya Allah?
Aku kapan di pangil nya? Aku capek bgt hidup. Apa itu cinta? Apa itu kasih sayang? Koq hidup ini ga sama kaya manusia lain nya? :(
Ada rasa takut, rasa kosong, dan rasa tidak berharga yang ternyata tumbuh sejak lama. Sejak kecil, banyak orang belajar memendam perasaan, menahan tangis, dan berpura-pura kuat hanya agar diterima. Mereka tumbuh tanpa pernah benar-benar diajarkan bagaimana rasanya merasa aman menjadi diri sendiri. Dan tanpa sadar, luka itu ikut bertumbuh hingga dewasa.
Inner child yang terluka tidak selalu terlihat sedih. Kadang justru terlihat paling ceria, paling dewasa, atau paling kuat. Padahal di dalam dirinya masih ada anak kecil yang terus bertanya, “Apa aku memang tidak cukup untuk dicintai?” That’s why beberapa orang tumbuh dengan rasa takut ditinggalkan, takut mengecewakan orang lain, atau terlalu keras pada dirinya sendiri. Bukan karena mereka berlebihan, tapi karena ada bagian dalam dirinya yang belum pernah benar-benar sembuh.
Yang paling menyedihkan, banyak orang dewasa sebenarnya hanyalah anak kecil yang dipaksa bertahan terlalu cepat. Mereka belajar menyembunyikan luka di balik senyum, humor, dan kalimat “aku gapapa.” Padahal jauh di dalam dirinya, masih ada versi kecil yang diam-diam menunggu dipeluk, didengarkan, dan diterima apa adanya. Maybe healing begins ketika kita berhenti menyalahkan diri sendiri atas luka yang dulu bahkan bukan salah kita.
Kalau bertemu seseorang yang di umur nya yang belum mau menikah, coba tanya apa yang ia telah lalui? Dan apa yang ia harus hadapi?
Mungkin ada sebagian orang yang masih ragu akan hidupnya layak apakah tidak?
Karna orang-orang yang seharusnya jadi tempat ternyaman untuk pulang, tempat dimana merasakan kasih sayang dan cinta justru adalah orang-orang yang membuat ia sakit dan hancur.
Hubungan antar manusia itu sebetulnya sederhana; saling berempati agar saling memahami. Namun, pada prakteknya menjadi rumit untuk dikelola ketika salah satu di antara mereka, membuat standar untuk mengukur kualitas hubungan dengan kalkulasi-kalkulasi yang kurang empati.
Kualitas persahabat diukur dengan selalu harus ada, harmonisnya sebuah hubungan harus dibuktikan dengan simbol benda dan semacamnya, dan lain sebagainya. Akhirnya, ketika pihak yang diharapkan tidak melakukan sebagaimana mestinya, dengan mudah langsung memberi stempel tidak setia, tidak memprioritaskan, dan sebagainya.
Demikianlah yang seringkali dirasa, berujung pada rasa kecewa yang sebenarnya itu lahir akibat ulah kita sendiri. Terlalu sibuk menjadi hakim atas ekspektasi kita, hingga luput menyadari bahwa apa yang mungkin terasa sepele atau mudah bagi kita, bisa jadi merupakan sebuah perjuangan yang sangat berat bagi orang lain.
Pada titik inilah kita seringkali kehilangan kendali untuk mengakui bahwa kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang dihadapi orang lain di balik layar. Kita lupa bahwa setiap orang memiliki kapasitas emosional, waktu, dan energi yang berbeda. Ketika kita terus memaksakan "kalkulasi" versi kita, secara tidak sadar kita bukan sedang memelihara hubungan tersebut, melainkan sekadar memberi makan ego kita sendiri agar merasa dihargai dengan cara yang kita inginkan.
Pada akhirnya, merawat sebuah hubungan menuntut kita untuk menanggalkan kacamata penghakiman tersebut. Empati sejati baru bisa tumbuh ketika kita bersedia menurunkan standar dan menggantinya dengan pemakluman yang lebih luas. Karena ikatan yang mendalam tidak pernah diukur dari seberapa sempurna seseorang memenuhi daftar ekspektasi kita, melainkan dari seberapa lapang dada kita untuk tetap saling memahami di tengah segala keterbatasan yang ada.
Semoga kita lebih arif dan bijaksana dalam mengeloa hubungan antar sesama :)
Tanpa judul @ceritabiarwaras - Tumblr Blog | Tumgag