Ikhlas itu....tidak cukup dengan melepaskan, tapi juga soal menerima. (Ephemera) Saya jadi inget kalimat di buku Ephemera itu. Yes, ikhlas bukan hanya soal melepaskan yang hilang, tapi juga menerima apa yang diberikan kepada kita, walaupun itu bukan yg kita mau. Menerima kalau semua niat baik kita diprasangka buruk, menerima kalau semua hal baik yg kita lakukan tidak ada nilainya, bahkan hanya keburukan dan kesalahan kita yang diingat. BERAT banget? Iyaaaa... BANGET! Namanya manusia, pasti punya kebutuhan utk diapresiasi, bukan sekadar terus disalahin. Tapi kalau nggak menerima, nggak ikhlas, nggak memaafkan, bikin sakit diri sendiri. Makin sesak menjalaninya. Makin berasa pedih hidup terasa. Jadi inget kata Aa Gym, 'kalau semua hal buruk kita masukkan ke hati, kapan bahagianya hidup ini?' Yesssss... So, let's move up. Ketika kita sedang diuji dengan berbagai hal yang nggak enak di telinga dan menyakitkan di hati, harus bersyukur banget. Artinya Allah masih sayang. Biar kita cek niat lagi. Semua yang kita lakukan itu untuk Allah, atau untuk penilaian orang lain? Kalau udah ikhlas, harusnya mau orang lain bicara apa, ya udah, hanya kita yang tahu kebenarannya. Dan orang lain tak perlu penjelasannya. Toh, dijelaskan seperti apapun malah hanya memperkeruh keadaan kan? Toh, kita sudah ikhlas kan, jadi biar Allah saja yang menilai. Tetap berbuat baik. Tetap tarik nafas biar tenang. Atau beri diri kita jeda untuk mencerna lagi semuanya. Jadiii, maafkan, ikhlaskan, damai dengan diri sendiri. Balik lagi ingat Allah. Biar Allah yang menunjukkan. Kalau kata Naya di foto ini, "dibawa ke masjid aja, biar adem. Sambil inhale exhale yang banyak, biar oksigen masuk terus, biar lancar darahnya. Biar ga fening." ๐ *Hasil sesorean ngadem di masjid terus kepikiran itu semua. Semangat ngos2an menjalaninyaaaa... Semangat jatuh bangun. Ga apa, asal waras lagi. Bismillah. Dengan menyebut nama Allah. Hanya Allah. Semoga inget terus soal ini. Aamiin. #NOTETOMYSELF #Ephemera (at Mesjid Al Jihad)











