“Apa kabar? Gunung masih dingin?”
Sebaris kalimat itu kuketikkan begitu saja di ponselku. Aku sudah memasukkan nomormu yang kuhapal di luar kepala—walaupun sudah kuhapus dari daftar kontakku sebagai usahaku untuk melupakanmu—di bagian tujuan pengiriman. Lalu membiarkan jempolku terhenti saat akan menekan tombol send.
Bahkan hanya untuk sekadar menanyakan kabarmu via sms-pun, aku belum mampu.
Laut Pantai Jatimalang terhampar semena-mena di hadapanku. Gulungan ombak kecil pukul dua belas siang silih berganti menghampiri kedua kaki telanjangku. Langit biru cerah dengan corak awan putih terbentang angkuh di atasku. Semilir angin bergantian menamparku. Panas. Cuaca pantai di siang bolong menyengatku tanpa ampun.
Ya. Panas. Suasana hatiku tanpa kamu. Sekaligus dingin membeku seperti tatkala air laut membasahi kedua kakiku. Tubuhku dingin tanpa kamu.
Sejauh ini aku menempuh perjalanan hingga ke pantai terpencil di ujung selatan Pulau Jawa. Bukan hanya untuk sekedar kembali ke rumah—pantai, laut, di manapun itu, selalu kusebut sebagai rumahku, bukan kamu, dan kamu tahu itu—tapi untuk serentetan urusan pekerjaan yang harus kuselesaikan di kota kecil bernama Purworejo ini. Aku mengambil rehat sejenak saat makan siang, membujuk supir kantorku mengantarku menempuh perjalanan sekitar setengah jam dari pusat kota untuk bisa kembali ‘pulang’. Menjejak pantai, berhadapan dengan laut, menantang kuasa langit, beradu dengan butiran pasir lembut, dan aku menemukan rumah.
“Kenapa sih kamu sukanya ke pantai? Enakan ke gunung tahu, udaranya dingin. Ke pantai panas, bikin kulit gosong.” Itu katamu padaku dua tahun yang lalu. Kita berdua duduk bersila di atas pasir Pantai Indrayanti Yogyakarta sore itu. Kamu masih berusaha menutupi wajahmu dengan topi anyaman lebar yang kamu kenakan. Matahari hari itu masih begitu terik hingga sore hari.
Aku tertawa saja menanggapinya. “Dingin, tapi mendakinya bikin capek. Enakan juga di pantai, nggak perlu repot mendaki, tinggal dateng, terus tiduran, deh, leyeh-leyeh di atas pasir dengerin suara ombak.”
“Itu namanya kepuasan, tahu. Mendaki gunung itu perjuangan. Kamu susah payah naik, butuh usaha, butuh effort, begitu sampai di puncak, rasanya speechless. Puaaas banget, bahagia nggak terkira karena berhasil mencapai apa yang diimpikan. Aku merasa menang, bisa mengalahkan ketakutanku, semua halangan yang aku temui, terlebih mengalahkan diriku sendiri. Aku membuktikan, aku mampu.” Kamu menjelaskan itu dengan mata berbinar. Kedua mata yang mampu membuatku bertekuk lutut tanpa ampun di hadapanmu.
“Tapi terus habis itu harus susah payah turun lagi. Buat apa coba? Udah susah-susah sampai puncak, terus turun lagi.” Aku masih belum bisa menerima kegemaran gadis ini naik gunung demi mewujudkan ambisinya, berada di puncak dunia.
“Pembuktian. Aku mampu. Masalah turun lagi, ya, itu harus. Biar nggak terus-terusan puas berada di atas, lupa sama apa yang terjadi di bawah. Turun biar bisa mendaki lagi, bisa ada di atas lagi, biar lebih semangat lagi, bisa membuktikan, aku masih mampu dan pasti akan terus mampu mencapai cita-citaku. Kamu sih nggak pernah ngerti betapa nikmatnya perjuangan naik gunung itu. Kepuasannya dobel, tahu.” Kamu menatapku sumringah. Gunung adalah duniamu. Dan aku jelas-jelas belum mampu memasuki duniamu.
“Laut terlalu luas untuk dijelajah, seperti tak berujung,” lanjutmu. “Aku nggak suka. Gunung lebih jelas, berdiri kokoh di depan mata, kamu tahu berapa tingginya, berapa luasnya, berapa jauhnya aku harus mendaki. Jelas. Impianku jelas ada di depan mata. Tujuanku jelas, puncak. Nggak kayak laut. Terlalu susah untuk ditaklukkan.”
“Kamu takut berjuang untuk hal yang lebih besar? Dalamnya laut masih bisa dihitung lho, luasnya juga. Ya, walaupun nggak pasti-pasti juga, sih, keakuratannya. Kita nggak ada yang tahu seberapa dalam dunia ini dan seberapa luas sebenarnya laut yang menutupinya. Tapi, buatku itu impian. Tak berujung. Dia mengelilingimu, memastikan ada untuk kamu raih ke manapun tujuanmu. Membuatku nggak gampang menyerah gitu aja saking besarnya. Tahu, kan?” Aku selalu berharap kamu mengerti.
“Iya, sih. Tapi tetap saja aku nggak suka laut. Panas! Lihat nih, mukaku udah merah-merah dari tadi kesengat matahari. Cabut, yuk. Mending kita makan es krim.”
Setelah sore itu, kita masih sering makan es krim berdua, dan kamu juga masih menemaniku ‘pulang’ sesekali tanpa pernah aku menemanimu berjuang merengkuh cita-citamu.
Sama seperti laut, tak berujung. Hubungan kita tidak berujung. Berakhir begitu saja setahun yang lalu.
Kamu butuh orang untuk menemanimu meraih cita-citamu. Memberikanmu semangat yang tak akan goyah, mendampingimu di kala lelah, membimbingmu di kala payah. Bukan hanya dia yang menunggu di puncak menyambutmu, tapi dia yang menemanimu dalam perjalananmu menuju puncak.
Dia yang jelas-jelas kamu tahu, bukan aku.
Aku tidak yakin sedalam apa cintaku padamu. Seperti tidak yakinku atas angka-angka yang tertera mengenai kedalaman sebuah lautan itu benar. Kamu terlalu dalam untuk aku selami. Pun terlalu luas untuk aku kenali. Mimpimu terlalu tinggi, tak terkejar olehku yang merasa kerdil hanya karena angkuhnya langit biru yang menyelubungimu. Tujuanmu pasti. Arah hidupmu jelas. Kamu tahu apa yang kamu mau.
Berdiri sendiran sekarang di sini seolah menantang laut. Bahwa sebenarnya aku yang takut berjuang untuk hal yang lebih besar. Aku takut memperjuangkanmu.
Benar, aku yang tidak mengerti arti perjuangan. Kamu selalu mampu. Aku yang tidak mampu memperjuangkanmu.
Kutuliskan surat ini untukmu.
Jempolku kemudian bergerak menekan tombol send di ponselku, semoga kamu membaca keduanya.
Dan semoga gunung masih dingin sehingga dia masih bertahan untuk menghangatkanmu sampai kapanpun. Tubuhmu dan hatimu.
Bukannya aku yang membiarkan kamu kepanasan di rumahku sendiri.
--Dariku Di Penghujung Ombak yang Tak Akan Membawaku Sampai Puncak; lupa lagi untuk melupakanmu
Untuk program 30 Hari Menulis Surat Cinta Tahun 2016