#0 STOP PMO: KECANDUAN PORNO BIKIN HIDUP GUE RUSAK
Hai. Gue seorang perempuan berusia 23 tahun. Kali ini gue mau menuliskan pengalaman yang sebetulnya agak memalukan untuk diceritakan. Iya, di satu sisi gue malu untuk cerita, tetapi di sisi lain gue sudah enggak kuat.
Gue perlu untuk menumpahkan unek-unek ini. Gue harus mengeluarkan sampah ini dari dalam diri gue. Maka dari itu, gue bikin blog anonim di tumblr sebagai sarana buat gue bebas berekspresi.
Well, pengalaman yang ingin gue ceritakan ke khalayak adalah tentang kecanduan porno.
Sejauh otak gue mampu mengingat, pertama kali gue nonton video porno, yaitu ketika gue kelas 5 SD. Waktu itu gue lagi iseng download video dan mp3 di suatu situs populer. Kalau enggak salah, sih, Waptrick. Mungkin, ya.
Saat berselancar di situs itu, tiba-tiba gue tertarik dengan video yang thumbnail-nya agak lain, yaitu cewek dan cowok tidur menyamping di sofa dengan kondisi tubuh telanjang bulat.
Selesai diunduh, gue tonton video berdurasi tidak lebih dari satu menit itu. Ternyata video itu berisi adegan si cowok masukin alat kelaminnya ke kelamin si cewek dan si cewek menjerit-jerit.
Ketika itu gue belum paham tentang aktivitas yang mereka berdua lakukan. Jujur, di situ gue tidak merasakan rangsangan apa-apa. Gue malah berpikir si cowok lagi menyiksa si cewek, dan yang ada gue justru kasihan sama si cewek karena dia jerit-jerit begitu. Pengalaman nonton video itu cukup traumatis bagi diri gue.
Lambat laun gue baru paham bahwa video yang gue tonton itu adalah video porno. Pahamnya gimana? Entahlah, gue enggak tahu, yang pasti gue paham dengan sendirinya tanpa tanya ke siapa-siapa.
Ketika masuk SMP, gue mulai benar-benar penasaran sama hal berbau porno. Selain itu, gue mulai ngerasain ‘enak’ tiap nonton begituan. Gue juga mulai tahu tentang mastrubasi walaupun saat itu gue belum paham bahwa apa yang gue lakukan disebut demikian.
Waktu gue SMP adalah waktu ketika media sosial Twitter lagi mulai rame-ramenya di kalangan anak muda. Nah, selain menggunakan Twitter untuk berinteraksi dengan teman dan fangirling, gue memanfaatkan media sosial berlogo burung biru itu untuk cari GIF porno.
Selain GIF porno di Twitter, saat SMP gue juga sudah mulai membaca fanfiction rating 18+ yang waktu itu bisa gue temukan dengan mudah di Blogspot atau Wordpress melalui Google, lalu kemudian di Wattpad.
Makin tumbuh dewasa, gue makin canggih dan berani. Bukan sekadar cari GIF porno di Twitter, menginjak SMA gue sudah bisa buka situs porno meskipun seluruh situsnya diblokir pemerintah.
Kendati sudah akrab dengan porno, gue merasa bahwa kebiasaan gue akan hal itu saat SMP dan SMA masih dalam batas wajar. Dalam sebulan gue nonton porno dan masturbasi mungkin cuma dua sampai tiga kali. Yah, pokoknya enggak pernah lebih dari lima kali dalam sebulan. Jarang banget lah.
Kala itu gue tidak pernah merasa ada yang salah dengan kebiasaan gue. Gue merasa demikian kerena meskipun gue ngeporno, gue tetap berprestasi di sekolah. Ketika SMP, gue sering masuk peringkat 10 besar di kelas, bahkan ketika SMA gue pernah jadi peringkat ketiga pararel satu angkatan. Gue juga diterima di salah satu PTN favorit di negara ini. Gue jaman sekolah tuh pintar dan percaya diri banget.
Sayangnya, ketika kuliah terutama saat jadi mahasiswa semester akhir, kebiasaan gue ngeporno makin parah. Parahnya kebangetan. Efeknya, gue terjun bebas dari sosok pintar dan percaya diri jadi sosok yang sampah abis.
Saat masa skripsian, gue jadi minim kegiatan. Gue pergi ke kampus kalau bimbingan doang. Sebagian besar waktu cuma gue habiskan untuk mengerjakan skripsi di kosan sendirian. Teman-teman gue juga pada sibuk skripsian. Hal itu bikin gue kesepian sekaligus punya waktu luang yang cukup banyak.
Jadi, setiap merasa mentok dan capek ngerjain skripsi, gue pasti melampiaskannya ke hal porno.
Apalagi gue pas kuliah mulai menemukan media baru selain video dan cerita sex, yaitu audio sex atau ASMR plus-plus. Wah, dari situ kebiasaan gue masturbasi makin menjadi-jadi.
Gue juga pernah sekali dua kali melakukan sexting dengan stranger. Beneran cuma sekali dua kali karena entah mengapa gue merasa dosa banget kalau ada orang lain yang terlibat. Padahal enggak melibatkan orang lain juga tetap dosa.
Bisa dibilang masturbasi adalah coping mechanism gue di kala stres skripsian. Pernah suatu waktu skripsi gue disuruh rombak total oleh dosen penguji. Saat itu gue stres banget dan gue melampiaskan stres itu dengan masturbasi tiga atau empat kali dalam sehari.
Sialnya, kebiasaan gue yang sudah terlanjur melampiaskan apa-apa ke hal porno terbawa hingga gue lulus kuliah.
Kini gue semestinya sibuk cari kerja dan menikmati stresnya hidup di usia 20-an awal. Namun, gue malah stres dikit, ngeporno. Stres banyak, ngeporno. Apa-apa, ngeporno. Hidup gue ngeporno mulu. Brengsek.
Bulan lalu, gue mulai paham bahwa gue kacanduan porno. Gue sadar akan hal itu karena beberapa hal. Pertama, gue sering enggak bisa tidur kalau enggak masturbasi dulu. Kedua, gue sengaja tracking kebiasaan masturbasi gue di bulan Januari 2023, dan hasilnya seperti ini.
Melihat hasil tracking di atas, gue merasa seperti ditampar wajan sekencang-kencangnya. Gue mulai sadar betul bahwa gue kecanduan porno. Lihat aja, hampir 50% hari di bulan Januari 2023, gue isi dengan masturbasi, dan setiap masturbasi gue pasti menonton video porno, membaca cerita sex, atau mendengar sex audio alias ASMR plus-plus.
Sadar akan hal itu, gue mulai merasa malu dan jijik sama diri sendiri.
Sebenarnya banyak dampak lain yang gue rasakan akibat seringnya gue ngeporno.
Susah Fokus Semenjak kecanduan porno, gue sadar gue jadi susah fokus. Orang bilang A, gue menangkapnya B. Gue benar-benar merasa bodoh. Ilmu yang masuk ke otak seakan-akan cuma lewat aja.
Jadi Pelupa Hal ini baru gue sadari beberapa hari lalu ketika ngobrol bareng teman-teman, dan gue lupa dengan beberapa istilah yang mesti gue ucapkan. Tidak cuma sekali di perbincangan itu gue ngomong, “Hmm apa ya namanya? Kok gue lupa, sih?” Kampretnya, begitu sampai kosan gue baru ingat dengan istilah tersebut.
Kurang Percaya Diri Salah satu dampak yang paling gue rasakan sejak kecancuan porno adalah gue jadi kurang percaya diri. Gue jadi suka minder dan was-was setiap bertemu orang lain, khususnya orang baru dan terutama lawan jenis.
Pikiran Jadi Kotor Setiap bertemu dengan sosok lawan jenis yang gue tipe gue banget, otak otomatis traveling mikirin hal-hal jorok. Padahal orang itu sedang bersikap biasa aja, enggak menunjukkan gelagat nakal. Nah, jujur, gue sedih banget. Gue merasa diri gue nista banget karena sudah memikirkan hal jorok tentang orang itu.
Memasuki bulan Februari ini gue punya niat untuk berhenti ngeporno. Namun, brengsek susah banget!
Gue baca pengalaman-pengalaman orang lain, katanya cara untuk berhenti ngeporno selain hapus akses yang memudahkan kita untuk membuka porno adalah dengan ngomong ke orang lain bahwa lo akan berhenti ngeporno.
Akan tetapi, gue enggak seberani itu untuk jujur ke orang terdekat bahwa gue kecanduan porno dan ingin berhenti. Lagipula, kayaknya tanggapan dan respons mereka nanti akan menambah masalah di hidup gue daripada membantu gue untuk berhenti ngeporno.
Oleh sebab itu, gue bikin blog ini untuk mengumumkan ke dunia bahwa gue akan berhenti ngeporno. Gue akan terus bikin update tiap pekan terkait kemajuan gue dalam mengatasi PMO (Porn, Masturbate, Orgasm).
Jadi, sekitar tanggal 22 Februari 2023 gue akan bikin update tentang apakah gue mampu satu pekan tanpa ngeporno dan tentang hal-hal yang gue rasakan atau alami sehubungan dengan itu.
Baiklah, kayaknya sudah sampai sini dulu aja.
Dari awal, gue sengaja enggak bicara terlalu jauh dari sisi agama karena dari sisi kehidupan sosial aja dampaknya sudah sebegitu buruk di hidup gue. Yah walaupun kalau boleh jujur sebenarnya gue takut kebiasaan ini bisa jadi penghambat gue mendapat hal-hal baik dari Tuhan.
Kamar Kos, 15 Februari 2023












