“Ibu adalah madrasah pertama untuk anak-anaknya”
Kalimat di atas mungkin saja benar. Tapi somehow, dalam perjalanan parenting kami yang masih seumur jagung, seringkali anak-anaklah yang jadi gurunya. Meski akalnya belum sempurna, jiwa yang begitu bersih & suci seringkali terefleksi dalam perbuatan dan kata-kata yang justru ‘mengajari’ kami.
Seperti hari itu ketika saya, Rafika dan Haya mampir ke sebuah factory outlet sembari menunggu motor yang tengah diservis. Sejak awal, saya ‘briefing’ Rafika kalau kami hanya akan lihat-lihat saja, tidak membeli. Rafika mengangguk mantap.
Kami berkeliling melihat-lihat baju yang didisplay di lantai satu. Puas mengeksplorasi lantai satu, kami pergi ke lantai dua. Ternyata, salah satu item yang didisplay di lantai dua adalah sepatu, termasuk juga sepatu anak-anak.
Saya tahu Rafika ingin sekali punya sepatu. Selama ini kami memang belum pernah membelikannya sepatu karena merasa belum butuh. Rafika pun belum pernah meminta dibelikan sepatu. Hanya, pernah satu hari sepupunya memakai sepatu ke rumah dan Rafika tampak senang sekali mencobanya berkali-kali.
Di lantai dua, Rafika mempersilahkan saya duduk.
“Bunda istirahat duduk di sini aja.”
Saya duduk. Tapi ia tidak ikut duduk. Ia berkeliling mencoba sepatu anak-anak yang didisplay satu per satu. Saya hanya mengamati, sembari menyiapkan jawaban kalau ia minta dibelikan.
Usai mencoba hampir semua sepatu, ia menghampiri. Saya semakin siap dengan jawaban kalau ia meminta dibelikan. Tapi rupanya saya salah. Alih-alih minta dibelikan, ia justru mengajak saya pulang.
“Yuk, kita pulang, Bunda.”
“Rafika pingin sepatu ya?”, tak tahan jua saya menahan pertanyaan itu
“Iya“, ia mengangguk perlahan.
“Ya Allaah, Lafika pingin sepatu Ya Allaah, aamiin“, tambahnya setengah berbisik.
Hati saya mencelos. Saya sudah menyiapkan jawaban, bahkan kalau terjadi tantrum hingga ia menangis hebat dan meronta-ronta. Tapi gadis kecil itu bahkan tidak meminta. Bukan karena tidak ingin, tapi karena ia tahu pasti kepada siapa ia seharusnya meminta. Bukan pada Ibu-Bapaknya, tapi pada Rabb penciptanya.
Di jalan pulang, saya menangis diam-diam. Kata-katanya boleh jadi ia ucapkan setengah berbisik, tapi menusuk hati saya dalam. Betapa selama ini banyak asa yang tergantung pada manusia. Anak kecil saja tahu yang seharusnya.
Semoga Allaah mengampuni kita, yang terkadang tanpa sadar menduakan-Nya.
“Jika kau meminta, mintalah kepada Allaah. Jika kau mohon pertolongan, mohon pertolonganlah pada Allaah.”
– Nasihat Rasulullaah Shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ibnu abbas Radhiyallahu ‘anhuma


















