Sebuah Usaha Untuk Menenangkan Hati
Ada baiknya memang memalingkan wajah dari satu dua kepala yang membuat hati gundah. Sesekali egois dengan membahagiakan diri sendiri juga tidak salah, ko. Eh... Tidak egois juga, karena itu artinya menyayangi diri sendiri dengan mengenyahkan orang atau keadaan yang tidak sesuai dengan kenyamanan diri.
Terlalu hati-hati menjaga perasaan orang lain juga tidak selalu disambut baik kalau masih ada secuil rasa tidak suka. Apapun yang dilakukan, sekalipun dengan niat baik, akan selalu dinilai buruk. Apalagi kalau ketemu celah, yang padahal dia mulai lebih dulu, habislah sudah. Sikap baikmu tidak akan dihargai.
Kalau ada yang berpikiran negatif dan malah menyebarkan hal-hal yang kurang mengenakan atau jadi menggiring opini tidak baik tentangmu, tak apa. Biarkan tak usah dibalas. Doakan saja semoga dia segera temukan bahagia yang dia cari. Doakan yang baik-baik, supaya doa yang sama juga berpulang padamu.
Sudah pernah kejadian, dimana ketika satu masalah dibahas malah jadi bumerang untuk diri sendiri. Singkatnya, ketika mengungkap kecewa yang dirasa, justru malah diserang, disindir ramai-ramai. Jelas, kalah suara. Dasarnya pendiam, malas memperpanjang, jadi membiarkan mereka-mereka berspekulasi sendiri. Belum lagi cibiran, "Dia memang begitu." Kata mereka yang tidak benar-benar kenal saya.
Padahal nggak akan pernah ada asap kalau nggak ada api. Kasarnya, saya nggak akan bacok kalau situ nggak senggol duluan. Dalam artian... apa yang dia lakukan sudah keterlaluan sehingga saya harus bicara. Kalau masih wajar, biasanya juga didiamkan ko. Nggak dianggap. Beneran. Jadi kalau saya sampai mendumel artinya ini sudah kelewat batas toleransi saya, yang bisa jadi berbeda dalam pandangan orang. Kata yang lain wajar, kata saya bisa saja kurang ajar. Menurut saya biasa, menurut sebagian yang lain mungkin yang punya mulut atau jari itu harus diberi pelajaran biar jera. Beda sudut pandang, dan nggak salah juga dalam hal itu.
Baru saja mereda, tapi ada saja pihak yang sepertinya belum puas. Terus diungkit. Diam-diam menebar cerita kepada yang lain, yang dengan seizin semesta juga dikabarkan kepada saya lewat manusia lain. Padahal sudah membiarkan, menutup akses sekedar melirik, namun kabar yang meluas bikin pening kepala. Bisik-bisiknya tidak enak, yang kalau dibiarkan bisa bikin salah paham. Tapi dibenarkan versi saya juga tidak terdengar adil, jadi saya memilih diam saja. Lagi-lagi soal sudut pandang. Dan tentu akan ada yang pro dan kontra. Kata yang satu benar kata yang lain bisa salah, pun sebaliknya.
Dari cerita yang lalu saya belajar, kalau dapat kabar yang bikin emosi jangan langsung marah. Dicerna dulu. Tapi ya lama-lama disenggol juga tidak enak. Memilih mendiamkan. Sampai pada satu hari timbul perasaan tidak enak, dan jiwa kepo saya bekerja tanpa diminta. Saya mencari tahu. Dan ternyata benar. Kata hati tidak pernah salah. MasyaAllah...
Lalu? Awalnya diam, tapi tergelitik juga untuk bertanya kenapa? Karena merasa tidak mengusik, malah sudah berusaha menjaga perasaan yang mungkin masih menyimpan rindu. Siapa sangka cuitan saya malah memancing hati yang lain. Dari sini jadi terlihat bukan hanya satu yang diam-diam memendam rasa, yang satu malah punya pikiran tidak biasa terhadap saya. Entah harus sedih atau justru bangga. Hehe..
Tapi benar-benar dapat pelajaran dari sini. Kata hati harus didengar. Nggak perlu sok-sokan merangkul mereka yang sudah terlanjur berburuk sangka, toh... apapun yang kamu lakukan tidak akan dipandang baik. Fokus saja pada siapa yang ada dan mau tinggal setelah tahu salah dan kurangmu, terutama mereka yang mengingatkan dan mengajak pada kebaikan.
Sudah ya. Mau tutup buku soal ini. Mau buka lembaran baru yang tidak ada sama sekali soal yang lalu-lalu. Ini jadi catatan terakhir.
Kalimat ini pernah saya sampaikan, tapi tidak diindahkan, mungkin karena terlalu peduli. Bersyukur sekali untuk itu, namun harus dihentikan sampai di sini.
Kepada siapapun yang sudah teramat perhatian sampai memberi informasi tanpa diminta, terima kasih. Sudah cukup, ya. Saya mau tenang. Apapun itu, selama tidak langsung mengusik saya atau keluarga saya, its fine. Mau kabar apapun yang beredar setelah ini, its fine. Sekalipun saya tidak pernah menyebut satu nama, atau menyiratkan tertuju untuk siapa. Dan catatan ini lebih kepada pengingat untuk diri sendiri.
Untuk saya pribadi, yang sekalipun ada sikap atau tutur dari orang lain yang membuat sesak, saya tidak boleh langsung marah, harus coba pahami dulu. Menelusuri kenapa begitu, mungkin ada sikap atau ucapan saya yang menyakiti hati, yang tentu tidak saya sadari.
Memutus silaturahmi itu nggak boleh, tapi saya perlu waktu untuk bebenah diri. Menenangkan hati yang terlanjur berombak. Nggak mau nambah-nambahin dosa, ini saja mungkin sudah terhitung satu. Astagfirullah...
Buat sebagian orang, saya mungkin dianggap toxic. Begitupun sebagian manusia dalam pandangan saya. Dari yang awalnya saya tulus ingin berteman jadi malas berhubungan karena ternyata punya maksud lain, yang membuat hati berkata untuk menjauh saja. Maka saya putuskan untuk tidak akan lagi menghubungi siapa-siapa kalau bukan urusan pekerjaan atau hal mendesak lainnya, kepada mereka yang statusnya teman atau sekedar kenal.
P.S : Kepada siapapun. Saya hanya mau bilang... maaf dan terima kasih, ya.
Maaf kalau ada kata atau sikap saya yang menyinggung perasaan. Terima kasih untuk pelajaran hidupnya.