Sebuah Usaha : Menguatkan Hati (Episode 01)
Harusnya aku tersenyum lepas merasa bahagia, karena Allah mengabulkan doaku. Doa kita. Harusnya aku sudah bersiap dengan segala kemungkinan sejak hari dimana aku memberi restu kepadamu. Namun ternyata, ada sedih yang tidak semudah itu ditutupi dengan tawa. Ada sesak yang tidak begitu saja hilang meski kamu selalu menenangkan.
Kamu tahu pasti, sekuat dan serapuh apa hati yang aku punya. Tidak perlu ditanya apakah aku sabar menunggu, karena kamu paham betul bagaimana setia yang selalu aku jaga. Tidak ada cerita aku pernah dan akan sempat melirik pria selain kamu.
Kalau dulu, saat kamu tanya apa aku sanggup jalani waktu tanpamu di sisiku, dengan mantap kujawab, "Ya, aku sanggup." Karena aku memang terbiasa sendiri hingga tanpamu satu-dua tahun pun tak apa. Tapi kini saat kamu ajukan pertanyaan itu lagi, aku termenung lama. Pikiranku kemana-mana, karena ini bukan lagi tentang aku. Bukan hanya aku yang kamu tinggal pergi, sehingga bukan hanya aku yang perlu dikuatkan.
Kupikir aku siap, kupikir aku sanggup, namun relung hati terdalam berkata lain. Ada setitik rasa belum ikhlas melepasmu berada jauh dari pandangan kami. Lalu kamu pun dengan sabar menguatkan, memberikan gambaran dalam berbagai sudut pandang. Sejenak hati ini lega, tapi kadang masih bergejolak hingga ingin katakan, "Sudah di sini saja."
Aku percaya kita akan baik-baik saja, kita pasti mampu bertahan dalam penantian sekali lagi. Berkabar hanya lewat gawai yang kita punya, mungkin juga perlu menunggu sinyal seperti yang lalu-lalu. Hanya saja, aku perlu menguatkan hati sedikit lebih lama. Sedikit lebih serius dari biasanya.