dare enough to stay with you, MY Neptune ⚓️
Sweet Seals For You, Always
RMH

roma★
macklin celebrini has autism
we're not kids anymore.
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

pixel skylines
YOU ARE THE REASON
todays bird

titsay
Not today Justin
occasionally subtle
Noah Kahan
almost home
Cosimo Galluzzi
KIROKAZE
noise dept.

❣ Chile in a Photography ❣
tumblr dot com
🩵 avery cochrane 🩵
seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye

seen from Malaysia
seen from Poland

seen from Malaysia
seen from Italy

seen from United States
seen from Colombia

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Indonesia

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States

seen from Greece

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from Poland
@chiwafiah
dare enough to stay with you, MY Neptune ⚓️
You are humble when you always question your humility.
Tariq Ramadan (via islamic-art-and-quotes)
Biarkan aku rindu. Biar cerita antara kamu dan aku semakin manis.
Menyembunyikanmu dari hiruk pikuk dunia.
Kecantikanmu itu berbeda. Aku melihatnya setiap hari dengan mata kepalaku. Cantikmu itu mengalir dalam sifat, seperti ketaatan, keikhlasan, kesabaran, dan hal-hal yang membuatku merasa tentram.
Aku sengaja menyembunyikanmu dari hiruk pikuk dunia. Sebab, dunia kita adalah dunia yang kita bangun dengan kepercayaan bahwa yang kita lihat dengan mata ini adalah fana. Semuanya akan berakhir, cantik akan menua, kekayaan takkan dibawa mati, dan hal-hal lain yang akan berakhir.
Aku menyembunyikanmu dari hiruk pikuk dunia, biar orang melihat dan merasakan kecantikanmu dari akhlakmu. Bukan dari hasil riasan berjam-jam dan baju kekinian yang kemudian kamu pajang di halaman media sosialmu. Orang akan mengenalmu dari kebaikan budi, kebermanfaatan, peran, pemikiran, kecerdasan, sumbangsihmu pada umat, dan hal-hal lain yang jauh lebih bermakna dari pakaian dan riasan.
Aku akan menyembunyikanmu dari hiruk pikuk dunia. Agar kamu bisa menjadi dunia yang terbaik bagi anak-anak kecil yang lahir di rumah tangga kita. Menjadi dunia yang layak untuk tumbuh besar mereka. Dunia yang akan mengajarkan mereka dan membuat mereka tumbuh menjadi manusia yang lebih baik.
Biar dunia kita ini sunyi, sepi.
Kita tidak harus dikenal banyak orang untuk bisa menjadi lebih bermanfaat, untuk memiliki nilai lebih sebagai manusia. Kita hanya perlu menjadi orang baik, berbuat baik, membantu banyak orang, berkata-kata yang baik, lemah lembut terhadap semua makhluk, bekerja dengan ikhlas, berbakti kepada orang tua, berbuat baik pada tetangga, menyanyangi anak-anak, dan semua kebaikan lain yang bisa kita lakukan tanpa harus berdandan terlebih dahulu, tanpa harus memiliki kuota internet untuk memuatnya dalam live video.
Kita tidak perlu mencatatnya, dua malaikat kecil di sisi kita sudah melakukannya untuk kita. Setiap hari, tanpa lelah.
Untuk itu, izinkan aku untuk menyembunyikanmu dari hiruk pikuk dunia, istriku :)
Yogyakarta, 7 November 2017 | ©kurniawangunadi
Kok aku cengeng sih (?) ah nyebelin.
Ketika yang lain memusingkan tugas kuliah mereka, aku pusing background-foto-buat-buku-nikah-itu-apa. Hmm.
Bila tak bisa tentukan tanggalnya, biarkan nama-nama hari jadi nominasinya; barangkali mereka lebih ramah daripada para tanggal.
Sedang menunggu (si)apa? Menunggu yang berujar akan datang membimbing masa depan.
Jumu'ah Yang Mengesankan
Baiklah. Ku mulai saja. Jumu'ah kemarin, ada banyak kacang bawang di piring-piring. Ada kue lapis keju kesukaanku. Anggur. Melon. Rekahan senyum. Tawa renyah. Semu merah. Wajah-wajah tegang. Duduk melingkar. Lirikan minta-bantuan. Batik biru. Gamis hitam. Tiga orang kompak berkhimar ungu. Suara desus pendingin ruangan. Adik aktif pengalih perhatian. Tangisan menderu di dalam kamar. Daging bumbu lezat. Bumbu pecel 'pedes sedikit'. Peyek udang. Sendok gambar tomat. Sunquick dingin. Dan masih banyak hal lainnya. Bila tak banyak yang mengingat, biar aku jadi salah satunya. Aku mudah lupa, bahkan untuk hal-hal yang penting sekali pun. Maka kali ini ku tulis (hampir) semuanya, agar aku bisa merasakan bahagianya lagi, agar nanti dia juga bisa membacanya, dan agar aku mengerti (lagi) bahwa keputusan yang ku ambil adalah (se)benar-benarnya keputusan; komitmen yang takkan pernah aku menyesalinya.
Cara Allah Merindu Kita
Pada setiap persimpangan jalan kehidupan, akan senantiasa ada rindu yang menyeruak. Kepada saudara, teman, keluarga, bahkan Sang Pencipta. Dan kita punya banyak cara untuk mengekspresikannya. Dari senyum bahagia hingga linangan air mata. Anggap saja, manusia punya seribu cara, lalu bagaimana dengan Dia?
Pernahkah kita membayangkan bahwa sesungguhnya Allah SWT jauh lebih merindukan kita? Bahkan terhadap manusia yang berlumur dosa pun, Allah SWT dengan segala rahmat dan kasih sayangnya masih menunjukkan rasa rindunya.
Ada orang yang baik agamanya baik ilmu maupun amalnya. Lantas Allah memberikan ujian kepadanya. Entah dicabutnya kenikmatan, kehilangan harta bahkan keluarga, atau yang lainnya. Namun bukankah itu caraNya agar hamba tersebut makin dekat kepadaNya? Sebab bagi orang yang Shalih, ujian adalah pemanis kehidupan. Ujian adalah proses ia menuju ekskalasi pendekatan pada Tuhan.
Tapi bisa saja dalam ujian tersebut justru hambaNya malah menjauh. Kecewa pada illahi rabbi. Padahal ia telah curahkan seluruh hidupnya semata-mata hanya untukNya. Segala aktivitasnya, hartanya, serta jiwanya. Maka di sinilah hikmah yang harus kita ambil bahwa setiap kerinduan pasti akan selalu ada ujian. Jika terhadap pasangan kita ada istilah Long Distance Relationship, dan itu pun ujian, lalu bagaimana terhadap Tuhan kita? Padahal Ia jauh lebih dekat dari tulang rusuk kita.
Ada pula. orang yang bahkan nyaris tak mengenalNya. Bahkan panggilan 5 kali sehari pun ia abai kepadaNya. Justru malah Allah berikan kenikmatan yang berlimpah kepadaNya. Seakan tak perlu mendekat kepadaNya, namun Allah tetap cukupkan dunianya. Apakah ini ketidakadilan? Bisa saja ini adalah caraNya agar manusia tersebut bersyukur kepadaNya. Sementara syukur adalah salah satu ekspresi rindu manusia kepada TuhanNya. Terkadang Ia menggunakan cara-cara yang halus, berupa kenikmatan yang tak terhingga.
Namun ada kalanya justru Allah timpakan peringatan. Entah berupa penyakit, kehilangan, hingga dicabutnya nikmat hambaNya tersebut. Lantas ia akhirnya sadar, bahwa Allah masih merindukanNya. Allah hanya berikan rasa sakit agar ia berhenti dari aktivitas keduniannya. Dalam kondisi tak bisa apa-apa, dan hanya berbaring saja, maka di situlah rasa rindu ia ekspresikan lewat air mata. Ia ekspresikan lewat taubatan nasuha.
Dan jika rinduNya telah memuncak, pada orang-orang yang shalih, maka tiada cara lain selain memanggilnya. Kembali kepadaNya, menghadapNya. Kembali ke tempat arwahnya bermula. Sayangnya ada yang justru ketika Allah merindunya, ia sedang dalam kondisi keimanan yang alpa. Maka ketika Allah rindu, lantas kita tidak,bukankah itu akan menyakitkan?
Logikanya sederhana. Perjumpaan kedua manusia yang sama-sama rindu, akan hadirkan bahagia yang luar biasa. Jika saja salah di antaranya ada yang tak punyai rasa rindu, maka sebaliknya akan sakit luar biasa. Ya, sesederhana itu logikanya, ketika kita kelak berjumpa denganNya. Semoga kita dalam puncak kerinduan kepadaNya ketika kelak kembali ke hadapanNya.
Jakarta, 15 Oktober 2017 Mushonnifun Faiz S.
Bersiap Itu Melegakan, Berdiam Itu Melenakan
Tulisan ini panjang, tapi semoga menjelaskan banyak hal yang akan menggerakkanmu mengubah sesuatu terkait bagaimana kamu memandang pernikahan dan pengasuhan.
Bismillah!
Di penghujung tingkat akhir beberapa waktu yang lalu, ajakan kebaikan dari seorang sahabat telah mengubah banyak hal dalam hidup saya. Apa pasal? Sahabat saya menanyakan sebuah pertanyaan yang sepertinya dia sudah tahu bagaimana saya akan menjawabnya, “Nov, kemarin temanku ngajak aku untuk ikutan komunitas, namanya NuParents. Disana katanya sih akan belajar kesiapan mengasuh pra-nikah gitu. Aku langsung keinget kamu, ikutan yuk!” Tanpa pikir panjang, saya langsung sepakat.
Saat itu, bayangan saya mengenai parenting sangatlah sempit, sesempit seputar mengurus anak saja. Tapi ternyata, NuParents membentuk dan meluaskan persepsi saya sedemikian rupa, hingga saya menyadari bahwa kata ‘parenting’ memiliki makna yang begitu luas, juga dalam. Ibarat garis bilangan, NuParents mengajak orang-orang untuk kembali dulu ke titik nol atau bahkan minus sebelum melakukan pengasuhan, dan melakukan banyak rekonstruksi terlebih dahulu untuk kemudian melaju ke angka-angka bermuatan positif.
Ada Apa dengan Kesiapan Mengasuh Pra-Nikah?
Mungkin ada yang bertanya-tanya tentang kalimat ‘kesiapan mengasuh pra-nikah’ seperti juga saya mempertanyakannya di awal-awal ketergabungan dengan mereka. Tapi lama-lama, saya jadi memahami bahwa kalimat itu benar adanya, sebab ternyata,
kesiapan mengasuh perlu diawali sebelum menikah, sebab ada banyak hal terkait diri sendiri, pengalaman masa lalu, dan bagaimana kita mempersepsikan sesuatu, yang akan berpengaruh pada bagaimana kita kelak mengasuh anak-anak kita.
Bagaimana kami belajar tentu tidak langsung membahas mengenai teknis mendidik anak seperti misalnya tentang bagaimana bersikap kalau anak sedang tantrum, bagaimana memilihkan sekolah, bagaimana pola kurikulum di dalam rumah, atau yang sejenisnya. Sebaliknya, kami mundur jauh terlebih dahulu hingga pembahasan mengenai diri sendiri seringkali menjadi dominan. Rasanya seperti naik roller coaster, sebab banyak hal di dalam hati dan pikiran saya (dan juga teman-teman lainnya) yang terobrak-abrik hampir di setiap sesi meet up rutinan. Tidak hanya itu, kami juga disadarkan untuk tidak terlalu mengedepankan perasaan dalam memikirkan pernikahan sehingga atmosfer yang terbentuk adalah atmosfer persiapan. Masa muda dengan segala kekhawatiran terkait masa depan ini memang tidak mudah untuk dilalui, tapi, setidaknya, NuParents adalah lingkaran yang menjaga kami agar tetap waras dalam memikirkan pernikahan.
Tidak seperti ‘kompor-kompor’ di luar sana yang seolah ramai mempropagandai anak muda agar cepat menikah, NuParents justru menjadi ‘kompor’ yang seolah mempropaganda kami untuk cepat-cepat belajar dan mempersiapkan pernikahan dan pengasuhan. Bukan hanya untuk calon isteri/ibu saja, tapi juga untuk calon suami/ayah.
Bagi saya pribadi, jika sedang merasa pertahanan mulai goyah karena godaan-godaan dari luar, atau jika kantong emosi mulai hampir meledak, NuParents selalu berhasil menjadi lingkaran sehat yang mengembalikan kewarasan saya dan mengingatkan untuk tetap bersikap benar. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah membuat saya tercebur dalam lingkaran kebaikan ini.
Lalu, Mengapa Perlu Belajar dan Mempersiapkan (Sejak Dini)?
Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang dulu berkali-kali saya tanyakan. Ternyata jawaban yang saya dapat di NuParents cukup membuat saya tercengang, sebab, pengetahuan tentang hal itu bukanlah sesuatu yang pernah saya dapatkan sebelumnya perkuliahan. Memangnya apa yang terjadi?
Sebagai generasi milenials, saat ini kita sedang menghadapi tantangan besar, yaitu gap generasi dan perbedaan persepsi mengenai kesiapan mengasuh. Kebanyakan orangtua kita dulu membesarkan anak-anaknya dengan pengetahuan seadanya karena menganggap bahwa pengasuhan adalah hal natural yang bisa didapatkan seiring dengan berjalannya waktu. Dampaknya, saat ini kita tidak tumbuh sebagai individu yang dipersiapkan untuk menjadi isteri, suami, bahkan orangtua. Padahal, perkembangan zaman dan situasi dunia hari ini menuntut kita untuk siap dalam menghadapi tantangan-tantangan dalam mengasuh anak sebagaimana pesan Ali bin Abi Thalib agar kita mendidik anak-anak sesuai zamannya.
Selain itu, satu hal yang baru saya ketahui dari NuParents adalah parenting is all about wiring, sehingga sangat masuk di akal apabila kesiapan mengasuh memang perlu diawali dengan berdamai dengan diri sendiri, memaafkan masa lalu, serta memaafkan juga kesalahan-kesalahan orangtua yang mungkin dulu pernah dilakukannya tanpa sengaja, agar rantai kesalahan itu tidak menjadi kasus berulang yag kita tularkan kepada anak-anak kita.
Tapi, di atas semua itu, motivasi terbesar tetaplah bersumber dari surat cinta-Nya, sebuah ayat yang hampir selalu dibacakan sebelum kami memulai belajar,
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (Q.S An-Nisa : 9)
Nah lho! Tidakkah peringatan itu membuat kita takut dan bersegera bergerak untuk mempersiapkan? Ayo belajar, yuuuuk :”)
Tapi, Bukankah Belajar Itu Terkadang Melelahkan?
Iya, benar sekali! Saya sepakat bahwa belajar itu suatu ketika akan menemui titik jenuh yang melelahkan. Disitulah barangkali memang letak ujiannya. Sejak awal sampai sekarang, beberapa kali saya mengalami maju mundur, lelah, dan bahkan merasa flooded karena pembahasan mengenai hal ini seolah dibahas dimana-mana. Hingga suatu hari, saya pernah bertanya pada senior yang sudah menikah, “Teh, aku capek banget belajar. Lama-lama aku pusing dan rasanya pengen engga belajar lagi meski aku sadar kalau aku mikir kayak gitu berarti aku lagi salah banget. Aku harus gimana, sih?” Lalu, teteh itu menjawab,
“Nov, kesiapan hadir karena ilmu, ketakutan hilang karena ilmu, kekhawatiran juga pergi karena ilmu. Capek belajar wajar, tapi memilih berhenti itu engga wajar. Diorganisir lagi aja waktu dan energinya, dan coba bikin ketersambungan antara hal-hal yang dipelajari itu, biar jadi sistematis juga mikirnya.”
Aha! Ternyata teteh itu benar. Rupanya, kelelahan belajar itu tidak pernah bersumber dari materi yang dipelajari, tapi lebih bersumber pada apa-apa yang ada di dalam diri.
Akankah Semua Ini Bermuara pada Bahteranya?
Pada prinsipnya, tidak ada seorang pun dari kita yang akan bisa mengetahui atau minimal menebak-nebak apa yang akan terjadi di masa depan. Pena telah mengering dan takdir telah tertuliskan. Tidak pernah ada yang tahu apakah pengalaman pernikahan dan pengasuhan ini akan kita rasakan atau tidak, meski kita sudah belajar. Tapi, tidak pernah ada yang salah dengan belajar dan mempersiapkan, bukan? Seperti yang ditulis oleh Kang Canun dan Teh Fufu dalam salah satu bukunya, kurang lebih begini,
“Belajar dan mempersiapkan adalah tentang bagaimana kita berjuang untuk menjadi orang yang beruntung, yaitu orang yang hari esoknya akan lebih baik dari hari kemarinnya.”
Yup! Kalimat itu bisa menjadi penguat bagi kita, bahwa pembelajaran dan persiapan yang dilakukan adalah dalam rangka menjadi manusia yang lebih baik, yang mengupayakan ibadah kepada-Nya dengan upaya terbaik.
Tentang hal ini, pernah ada air mata yang beberapa kali terjatuh. Seperti misalnya ketika meet up selesai lalu terlintas di pikiran, “Akankah yang tadi dipelajari itu akan bertemu dengan kesempatan perwujudannya?” Sedih, tapi bagaimana pun pertanyaan itu bukanlah pertanyaan yang perlu susah payah dicari-cari jawabannya, sebab semua sudah ada dalam ketetapan-Nya.
Sore tadi, saat sedang membicarakan sesuatu terkait NuParents, saya dan @likalulu tiba-tiba saja saling bercerita, “Lika, engga kebayang ya gimana nanti ke depan. Kadang aku sedih kalau abis selesai belajar karena engga kebayang banget apakah nanti Allah akan kasih kesempatan untuk mengamalkannya atau engga. Sejujurnya sepulang dari belajar KBBM itu aku nangis, tiba-tiba gemeter gitu karena bertanya-tanya apakah aku akan sampai kesana atau engga. Lalu aku merasa alay kenapa aku nangis~”
Entah apa yang sedang dipikirkan Lika saat itu, tapi kami merasakan hal yang sama. Lalu Lika menjawab, kurang lebih begini,
“Sama Nov, tapi insyaAllah selalu berbaik sangka sama Allah, ya! Allah kasih ilmunya, insyaAllah dikasih kesempatan juga buat mengamalkannya. Aku hanya ingin memastikan ada di lingkaran yang baik dalam rangka mempersiapkan diri. Kita engga tau mana yang duluan datang, mati atau nikah. Tapi selagi menuju itu dijalani buat Allah, semoga Allah selalu ridho.”
Duar! Meletus balon hijau~
Pada intinya, entah nanti Allah akan pertemukan dengan pernikahan dan pengasuhan atau tidak, semoga kita terus belajar, mempersiapkan diri, dan berbaik sangka kepada Allah, agar semoga setiap upaya itu bisa menjadi amal shalih dan kebaikan yang berantai-rantai meski mungkin kita nanti telah berpulang.
Tulisan ini adalah pemantik yang semoga menggerakkanmu untuk belajar dan bersiap sejak dini, bahkan mungkin sejak belum terpikir olehmu tentang dengan siapa kamu akan menikah nanti. Belajarnya tidak perlu hanya di NuParents, kamu bisa belajar dimana pun dan dari mana pun, tentunya asal dari sumber yang benar dan terpercaya, ya! Tapi, kalau ingin belajar dengan NuParents, insyaAllah kita bisa belajar bareng hari Sabtu tanggal 21 Oktober 2017 di Bandung. Cek info lengkapnya di tautan berikut ini.
Selamat belajar, selamat mempersiapkan (kedatangan)! Sebab, bersiap itu melegakan, sementara berdiam itu melenakan karena kemungkinan paling mungkinnya adalah berujung pada kegalauan. Semoga Allah memudahkan setiap niat baik dan mempertemukannya dengan jalan-jalan terbaik. InsyaAllah, semoga sebentar lagi sampai :”)
Yang samar sudah semakin jelas.
Kalau Tak Cocok, Mau Apa?
Barangkali memang, setelah sekian lama dari semua perjalanan cinta ini membuktikan bahwa ada ketidakcocokan. Setelah ketidakcocokan itu sudah diketahui, tinggal kedewasaan kita yang harus memberikan sebait jawab.
Tidak ada yang salah ketika segalanya dimulai di masa lampau. Tentang perkenalan itu, bukankah ia hanya mengikuti nadi takdir? Jadi, tolong jangan katakan semacam hal bodoh yang satir seperti
“Oh Tuhan, kalau begini akhirnya, kenapa kami harus dipertemukan?”
Meski satir, itu adalah pertanyaan yang begitu pandir.
Tetapi yang lebih satir dari semua itu adalah memaksakan ketidakcocokan, bukan? Kemungkinan semua alasan dibalik itu baik, namun karena kekeliruan tempat dan waktu sehingga akhirnya menjadi tak baik. Toh, Tuhan tak sembarang mengenalkan manis dan pahit secara bersamaan.
Berarti bukan dia orangnya, barangkali itu jawaban yang tersedia. Alur skenario semesta yang semestinya tidak kita ratapi dengan terlalu berduka. Jangan latah bertingkah polah seperti dirimu sendiri saja yang paling terluka di dunia. Bila memang tak cocok, mau apa?
Katakan saja sejujurnya, seterang-terangnya.
Mungkin aku terlalu lelah, hingga kata-kata seperti itu ku telaah mentah-mentah.
Tolong jelaskan padaku, beda antara buru-buru dan menyegerakan!
Hampir lebur segala bahagia yang ku simpan di hatiku, setelah mendengar rencana masih lama terlaksananya memorable-day itu.
Dia beritahu isi hatinya lewat goresannya, karena dia tak mampu berkata-kata. Dia menyampaikan rasanya lewat pilihan warnanya, karena dia tak mampu menjelaskan bagaimana indahnya kamu di hidupnya. Dia menjabarkan kata cinta lewat sebuah gambar, karena aksara tak mampu dia rangkai. 💙 Terima kasih, hatiku tergetar melihat hasilnya; itu tandanya kamu membuatnya dengan mengikutsertakan hatimu.