Malam ini begitu meriah, mungkin karena sedang ada pesta. Pestamu.
Selain aku sendiri. Hujan, pena, dan kertas juga datang memeriahkan.
Pena dan kertas sedang duduk berbincang di sudut ruangan.
sedang hujan, asik mencipta nada yang menggema di gendang telinga.
Aku sendiri, berdiri di sebelah pintu sembari menunggu. menunggumu.
dan melumat sendiri keriuhan sepiku.
Aku pernah menghadiri pesta sebelumnya. Tapi tak pernah semendebarkan pestamu.
Mencemaskan ini, berprasangka itu.
Kepalaku menjadi sibuk seketika. sedang pesta, semakin gaduh saja.
Aku mencoba berbaur dengan riuhnya pesta.
aku lalu menyapa hujan. Kemudian menanyakan alasan gerangan datangnya.
“aku membawakan kenangan untuknya”, begitu jawabnya.
Pena dan kertas juga tidak mau ketinggalan. “aku membawakannya sekotak keabadian.”
Kau tahu, aku juga punya hadiah untukmu.
Tepat pukul duabelas malam, kau akhirnya datang juga.
Menuruni dua puluh dua anak tangga menuju keriuhan pesta.
Satu persatu kau salami. Hujan, pena dan kertas. Pula aku.
Hujan memberikan kenangannya, kertas dan pena memberimu keabadaian.
Aku meraba kantong kemejaku, mengeluarkannya dengan tangan gemetar.
Sebait doa dengan pita berwarna ungu ku letakkan di telapakmu.
lalu berucap “puan, aku dan doa merayakanmu.”
Makassar, 16 Desember 2015