UNEXPECTEDLY BEAUTIFUL (Episode 2 | Chapter 1)
Minjoo, Park & Aaron, Lee: But, First, MYTHIC PHOENIX!
Characters: Park Minjoo (OC), Aaron Lee (OC) & MYTHIC PHOENIX Jae, MYTHIC PHOENIX fans, 3 Anti-fans, 4 Security Guards (NPC)
Series: Episode 2 | Chapter 1
Genre: Comedy & Romance
Words Count: 2,271
Writer: clarineswrites
Friday December 29th, 2017 COEX Mall [MYTHIC PHOENIX’s Busking Event] 06:15 PM KST
Aaron’s POV
Setelah sekian lama tidak berkumpul, hari ini, tepatnya dua hari sebelum tahun berganti, Aaron yang adalah gitaris sebuah grup band ternamaㅡkarena kebiasaan melakukan busking di banyak area; di Seoulㅡdapat kembali memperlihatkan kepiawaiannya bermain gitar akustik. MYTHIC PHOENIX, itu adalah nama beken dari grup band yang beranggotakan lima pemuda tampan yang digilai oleh banyak kaum hawa remaja. Aaron sudah muak dengan beberapa buku bisnis yang tak habis ia baca. Sekitar dua bulan menghabiskan waktu di ruangan belajar, hanya memerhatikan untaian kata yang terucap dari bibir seorang guru home-schooling, dan tak ada waktu bermain game serta berkumpul dengan teman-teman band membuat adam kelahiran Singapura itu sangat tertekan. Ia menyesal telah mengindahkan keinginan ayahanda yang menyuruhnya untuk belajar. Rasa bosan membunuh seorang Aaron, sehingga di sinilah ia berada, yaitu di COEX Mall. Ia sedang bersiap-siap untuk melaksanakan acara busking dengan keempat teman sebayanya. Bermodalkan tekad yang kuat untuk bermusik, Aaron yang lari dari jangkauan sang ayahㅡkabur dari lingkup ayahnyaㅡmemutuskan untuk bersembunyi di COEX Mall. Sambil menyelam, minum air. Hari ini tidak usah belajar karena sudah muak, lalu mengisi hari dengan ngeband bersama MYTHIC PHOENIX. Pilihan yang tepat, Aaron. Kau hebat.
Minjoo’s POV
Kembali, untuk kesekian kalinya, Park Minjoo harus mengatakan bahwa ia sangat lelah menjalani hidup. Sejak dirinya lulus dari Universitas Nasional Seoul dan menyandang gelar sarjana, ia belum mendapatkan pekerjaan. Ia pun belum dapat dengan bangga mengatakan kepada dunia bahwa ia sudah benar-benar menjadi seorang pengacara.
Seperti hari-hari kemarin, Minjoo mengunjungi empat firma hukum yang belum sempat ia datangi kemarin. Namun, hasilnya nihil. Banyak alasan yang diberikan kepadanya kala kedua tangan dengan rendah hati menyerahkan beberapa berkas berupa data diri, transkrip nilai, sampai kepada banyak acara kampus dalam berbagai bidang yang dulu pernah ia bantu kesuksesannya. Ia tahu, sangat mengerti nilai-nilainya selama mengemban pendidikan di perguruan tinggi tak dapat diacungi jempol, tetapi setidaknya mereka yang menerima berkas-berkas Minjoo tak sepantasnya mengusir sang dara dengan begitu kejam. Satu hal yang tidak ingin diakui seorang Park Minjoo ketika realita begitu membuatnya ingin menitikkan air mata, yaitu latar belakang keluarga yang tak dapat diubah. Menyakitkan, hari ini perasaannya lebih buruk dari kemarin. Jika kemarin ia merasa kesal, hari ini ia murka. Oleh karena itu, sahabat karibnya yang sama-sama berasal dari panti asuhan yang sama memberikan selembar tiket kepada sang puan untuk menikmati sebuah konser. MYTHIC PHOENIX. Sebuah grup band yang namanya sudah dikenal oleh banyak kalangan karena keaktifan grup tersebut dalam menarik perhatian para kaum hawa, terutama para remaja. Minjoo menjadi salah satu penggemar, karena dulu saat masih duduk di bangku semester dua perguruan tinggi, dirinya sempat mendengar salah satu lagu ciptaan mereka, dan pada saat itu juga, ia memutuskan untuk menjadi penggemar MYTHIC PHOENIX.
Menurut seorang Park Minjoo, nama grup mereka sungguh keren, dan begitu juga dengan para anggota band tersebutㅡketampanan mereka dapat diacungi jempol. Ini preferensi, tetapi banyak penggemar meyakini hal yang sama.
Antrean masuk area COEX Mall yang akan menjadi tempat berlangsungnya acara busking sudah dipadati para penggemar dengan segala atribut pendukung untuk menyoraki idola tambatan hati. Minjoo tidak membawa apa pun; hanya sebuah tiket dipegang tangan kanan, dan tas kerja digenggam tangan kiri. Melihat antusiasme yang tinggi dari para penggemar di sekeliling membuat Minjoo menjadi tak sabar untuk menikmati acara busking. Pasti akan menyenangkan. Semoga saja perasaan ingin murkanya dapat berubah menjadi perasaan penuh semangat, usai menonton MYTHIC PHOENIX busking nanti.
Aaron’s POV
“Aaron,” bariton seseorang terdengar, dan yang dipangil mencari dari mana asal suara tersebut.
“Shin!” Aaron mendongak, menyambut panggilan lelaki berperawakan tinggi dengan beberapa anting menggantung pada daun telinga.
Adam pemilik nama kehormatan Lee itu menyeringai. Ia menghampiri Shin yang sudah siap naik ke atas panggung dengan gitar bass telah berada dalam genggaman. Kemudian, Aaron membuka sarung gitar dan mengambil alat musik kesayangannya itu untuk segera dimainkan.
“Sekarang di mana Jae?” tanya Shin sambil mengedarkan pandang ke sekeliling; mencari keberadaan lelaki yang dipanggil dengan nama Jae.
Melirik arloji, sepertinya waktu untuk tampil sudah semakin dekat; Aaron pun harus ikut mencari. “Biar aku cari di luar.”
Dengan gegabah, Aaron keluar dari ruangan belakang panggung dan mengaktifkan indra penglihat semaksimal mungkin. Dalam hati ia berdoa; semoga tak ada sesuatu yang terjadi pada kawan satu bandnya itu. Pasalnya, Jae adalah seseorang yang mudah tersulut emosi, dan paling sering membuat masalah. Jangan sampai performa kali ini harus berakhir batal seperti empat bulan lalu. Untung saja para penggemar tidak melemparkan banyak cacian kepada MYTHIC PHOENIX karena hal itu. Untungnya lagi, banyak penggemar yang masih setia dengan band tersebut dan datang ke acara busking hari ini.
“Aduh, di mana sih Jae?!” Aaron mulai menggerutu karena keberadaan Jae belum juga ditemukan, meski kedua kaki sudah berlari kecil mengitari hampir seluruh bagian area lokasi acara busking.
“Ya!”
“Jangan banyak bicara kau!”
“Cepat minta maaf sebelum wajahmu babak belur!”
“Kau kira aku takut? Dasar anak jalanan!”
Awalnya, Aaron enggan untuk mencari tahu apa yang terjadi dan siapa-siapa saja pemilik suara yang didengarnya. Namun, kalimat terakhir yang ia dengar membuat rasa ingin tahunya memuncak, sampai akhirnya ia pun sampai di tempat terjadinya sebuah perkelahian. Jae ada di sana. Sosok adam berperawakan tinggi dengan rambut yang dicat pirang terlihat sudah siap untuk meninju lelaki lainnya di sana. Kedua mata sipit milik Aaron membulat sempurna.
Panik? Tentu saja.
“YA! YOONJAE!” Aaron cepat-cepat melerai Jae yang tampak tidak suka keinginan untuk meninju seseorang diganggu kawan satu bandnya sendiri. “Apa yang sedang kau lakukan?! Kau seharusnya berada di belakang panggung sedari tadi!”
Ekspresi Jae berapi-api, geram akan suatu hal. Namun, Aaron tetap berusaha menenangkan kawannya itu. “Brengsek!” Jae mengumpat di sela napas yang menggebu-gebu.
Kalimat pembawa sial memang. Tepat setelah Jae mengatakan sebuah kata tersebut, adu jotos terjadi di antara tiga pemuda yang tak dikenal dengan dua anggota grup band, dan Aaron ikut serta di dalamnya. Beberapa penggemar yang melihat kejadian memalukan itu berteriak dengan heboh sampai dua orang petugas keamanan datang untuk melerai para anak muda yang kehilangan akal sehat itu. Aaron lah yang paling sial di antara mereka, sebab adam itu tidak tahu sama sekali apa alasan di balik adu jotos terjadi dengan dirinya sebagai salah satu pelaku, bukan korban. Oh, sungguh sial.
Namun, meskipun sudah ada petugas keamanan pusat perbelanjaan yang menghadang, Jae masih saja berniat untuk adu jotos dengan ketiga pemuda tak dikenalnya itu. Jadi, Aaron pun kembali ikut terlibat di dalamnya dengan mencoba melerai perkelahian, tetapi berakhir tampak seperti pelaku.
Apakah akan begitu terus sampai hari semakin malam, dan MYTHIC PHOENIX berakhir mengulang kejadian empat bulan lalu; performa batal dan penggemar pulang dengan kecewa?
Minjoo’s POV
Kerap kali disebut seseorang yang tidak memedulikan keadaan sekitar, atau sangat pasif ketika sedang tidak dalam suasana hati yang baik membuat Park Minjoo sudah terbiasa untuk bersikap acuh tak acuh ketika berada di tengah keramaian. Seperti buktinya; sekarang ini ia tak memedulikan ratusan penggemar yang menjerit dengan heboh ketika melihat beberapa pemuda yang wajahnya cukup tampan sedang adu jotos di dekat antrean masuk lokasi acara busking. Hanya melirik, tidak berniat melerai walau sudah tahu ia pasti tak akan bisa melakukan hal itu, sebab bukan pemegang sabuk hitam taekwondo.
Minjoo ikut bergeser ketika beberapa gadis yang sepertinya berada di usia lebih muda beberapa tahun darinya memberikan jalan bagi dua orang petugas keamanan untuk mendekati para pemuda sok keren yang masih berusaha adu jotos.
Ada apa dengan pemuda-pemuda itu? Minjoo heran. Kenapa kehilangan akal sehat sampai membabi buta seperti itu? Memuakkan.
Decakan diperdengarkan entah kepada siapa sambil sekilas menggelengkan kepala. Ia menunjukkan bahwa diri tak suka akan apa yang tertangkap pandang. Niat awal Minjoo memang tak ingin ikut campur, tetapi sepertinya Tuhan meminta sang puan untuk menjadi penengah kejadian adu jotos yang dilakukan oleh para pemuda bertemperamen buruk itu di kantor polisi. Beberapa penggemar yang mengetahui dua orang dari mereka yang berkelahi adalah anggota band MYTHIC PHOENIX saling melakukan aksi dorong-mendorong sampai akhirnya Minjoo tenggelam dalam lautan penggemar.
Kedua petugas keamanan berperawakan kekar serta berparas mengerikan yang sedari tadi berusaha melerai perkelahian terpaksa meninggikan suara.
Percobaan pertama. Salah dari dari petugas keamanan itu berteriak dengan nyaring, “HEY! KALIAN BERHENTI!”
Tak ada yang berniat untuk berhenti adu kemampuan tinju.
“ㅡSebelum kalian semua berakhir di kantor polisi!” lanjut seorang petugas lainnya yang siap menarik kerah baju seluruh pembuat onar di pusat perbelanjaan itu.
Minjoo paling tidak suka keramaian, dan Tuhan mengabulkan doanya sedari tadi yang meminta dikeluarkan dari lautan penggemar. Namun, mengapa rasanya begitu memalukan?
Aksi dorong-mendorong berlangsung cepat, dan karena hanya Minjoo yang berniat kabur dari sana, ia terdorong keluar dengan kencang dari kumpulan penggemar MYTHIC PHOENIX. Ia berakhir terlempar masuk ke dalam area perkelahian dan tersungkur tepat di tengah perbatasan antara dua anggota band dan tiga pemuda tak dikenal sehingga perkelahian sempat mendingin untuk beberapa saat.
Malu.
Memalukan.
Wajahnya mau ditaruh di mana? Minjoo yang tersungkur, tak berniat untuk mendongak dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja karena ia tak mau puluhan pasang mata mengingat wajahnya. Jadi, lebih baik berpura-pura pingsan dan mengaku korban saja, bukan?
Aaron’s POV
Aaron tidak pernah menyangka pilihannya untuk kabur dari kejaran orang tua karena sudah bosan belajar bisnis akan berakhir belajar mengendalikan emosi karena adu jotos berlangsung cukup lama. Terlebih, di depan umum; di saat MYTHIC PHOENIX akan melaksanakan acara busking. Bahkan, kini dua orang petugas keamanan pusat perbelanjaan sudah berada di dekat mereka, berusaha untuk melerai perkelahian para anak muda yang sibuk memamerkan kekuatan tinju. Aaron menjadi salah satunya dengan tidak sengaja. Sangat sial, adam itu menggerutu.
BUKK!!!
Seorang perempuan tersungkur tepat di tengah area perkelahian. Kaget, puluhan pasang mata terbelalak karena melihat seseorang berusaha dengan begitu keras untuk melerai perkelahian sampai-sampai terjatuh.
Dalam hati, Aaron bersyukur. Ya, karena gadis yang masih tersungkur di atas lantai itu sudah membuat adu jotos berhenti untuk beberapa saat, dan dua petugas keamanan dapat memberhentikan kegiatan adu jotos mereka sebelum mereka kembali berusaha tinju-tinjuan lagi. Tetapi, satu hal. Kenapa dara itu tidak bangun-bangun setelah tersungkur? Pingsan? Atau, mati?
Aaron yang merasa emosinya paling normal di sana langsung berjongkok, dan membantu gadis yang tersungkur untuk segera berdiri.
“Hey, kau tak apa-apa?” tanya Aaron, memperdengarkan nada kekhawatiran di sana. Ia berbisik pelan.
Minjoo’s POV
Jika boleh meminta untuk dibiarkan benaran pingsan, rasanya Park Minjoo ingin dibuat benar-benar kehilangan kesadaran dengan pingsan, bagaimanapun caranya.
Banyak pertimbangan terjadi di dalam pikiran Minjoo kala ketenangan menghampiri ketika dirinya tersungkur di lantai. Apakah ia harus mendongak dan berkata bahwa ia baik-baik saja karena sudah terlanjur malu? Atau, apakah ia harus menambah dosa dengan berpura-pura pingsan karena terlalu malu?
Bariton seorang laki-laki membuyarkan lamunan hening Park Minjoo yang masih dalam posisi tersungkur sejak beberapa menit lalu. “Hey, kau tak apa-apa?” begitu pertanyaan seorang lelaki yang wajahnya tak sama sekali ingin dilihatnya, meski dari suara sungguh dapat dibayangkan paras lelaki itu (mungkin) tampan. Lelaki itu berbisik.
Sebuah ide gila terbersit dalam kepala Minjoo. Ia menjawab dengan berbisik juga.
“Bantu aku. Ini memalukan, tetapi bisakah kau menamparku? Aku harus benar-benar pingsan untuk keluar dari situasi seperti ini,” tutur Minjoo dalam desibel rendah; memohon.
Aaron’s POV
Perempatan imajiner terbentuk pada dahi Aaron ketika seorang gadis berambut pirang terang yang tersungkur memintanya untuk mendaratkan tangan pada pipi sang dara.
‘Apa? Dia memintaku untuk menamparnya? Hah? Sudah gila rupanya.’ Aaron membatin.
Si bungsu Keluarga Lee itu menggelengkan kepala. “Apa-apaan?! Untuk apa aku menamparmu?” Aaron menambahkan setelah terdiam sejenak, “Cepatlah berdiri! Meskipun memang memalukan bagimu untuk memamerkan wajah pada puluhan pasang mata yang memandang di sini.”
Kekanakan, Aaron tetap berniat menertawakan apa yang terjadi pada dara yang tersungkur. Ia menyeringai sebelum bangkit berdiri.
Minjoo’s POV
Jadi, keinginan Minjoo untuk memperdaya seseorang untuk menghapus urat malunya tidak berjalan dengan baik. Akhirnya, sebelum sang adam yang belum dikenalnya itu bangkit dari posisi berjongkok, Minjoo menarik tangan lelaki itu dan ia meninju pipinya dengan menggunakan tangan lelaki yang akan menjadi tersangka atas pingsannya Minjoo. Tetapi, meski tinjuan cukup keras, Minjoo tak juga pingsan. Alhasil, ia memutuskan untuk bangun dari posisi tersungkur sambil memegang sebelah pipinya yang memerah dan sepertinya memar.
“YA!!!” teriak Minjoo secara mendadak, dan dipaksakan. Ia meringis sekilas sebelum menatap adam di hadapannya dengan kedua mata melotot; melakoni sebuah peran, yaitu marah. “Apa-apaan kau?! Mentang-mentang laki-laki, sombong sekali memamerkan tinjumu pada perempuan?!”
Sepasang mata Minjoo diedarkan ke sekeliling; melihat situasi yang terjadi setelah dirinya berteriak heboh. Mendapat puluhan pasang mata mengarah kepadanya, Minjoo mulai semakin heboh. Ia berkata, “Aku butuh keadilan!” dan selang beberapa sekon, dua petugas keamanan lainnya datang lalu masuk ke dalam area perkelahian yang sekarang benar-benar terlihat seperti area adu tinju antara adam yang kebingungan karena berpikir menjadi korban; padahal realita mengatakannya sebagai tersangka, dengan dara yang berlagak seperti korban; padahal adalah tersangka.
Aaron’s POV
Aaron Lee terperanjat dibuat gadis yang belum dikenalnya. Gadis yang telah membuat seluruh mata yang tertuju kepadanya menatap dengan sinis dan penuh tanya. Melihat keadaan yang tadi mulai mendingin, tetapi seketika menghangat lagi akibat perbuataan Si Pirang, Aaron menghela napas dan mengusak rambutnya. Ia terjebak dalam sebuah serangan yang menjadikannya seorang tersangka atas sebuah kejadian.
“YA!!!” teriak Aaron tak mau kalah usai Si Pirang nyaris mendapatkan hampir seluruh hati penggemar yang telah berubah menjadi penonton setia sebuah drama. “Apa maksudmu kau butuh keadilan?!” Aaron mendorong pelan bahu gadis yang sudah menyulut api di dalam raganya dengan kedua kata yang juga ikut melotot.
Namun, belum sempat Aaron menyelesaikan permasalahan dengan gadis itu, keempat petugas keamanan yang ada di tempat kejadian membawa kelima lelaki yang tadi sempat adu jotos dan seorang gadis berperawakan tinggi ke kantor polisi karena telah mengganggu aktivitas di dalam pusat perbelanjaan. Bukan dibawa ke ruangan keamanan, malah langsung diseret ke kantor polisi. Aaron semakin menyesal karena sudah berusaha melerai salah satu anggota bandnya, Jaeㅡkarena ia tahu sebentar lagi kesialan akan menghampirinya ... bertubi-tubi.
To be continued: Chapter 2














