Second in my series of ass photography... #assphotography #unexpectedart #unexpectedlybeautiful
seen from Taiwan
seen from United States
seen from United States

seen from Singapore
seen from United States
seen from Vietnam
seen from China
seen from United States
seen from Peru
seen from Switzerland

seen from Indonesia
seen from Switzerland
seen from Argentina

seen from United States

seen from United States
seen from Brazil
seen from United States
seen from United States
seen from Costa Rica
seen from United States
Second in my series of ass photography... #assphotography #unexpectedart #unexpectedlybeautiful
UNEXPECTEDLY BEAUTIFUL (Episode 2 | Chapter 1)
Minjoo, Park & Aaron, Lee: But, First, MYTHIC PHOENIX!
Characters: Park Minjoo (OC), Aaron Lee (OC) & MYTHIC PHOENIX Jae, MYTHIC PHOENIX fans, 3 Anti-fans, 4 Security Guards (NPC)
Series: Episode 2 | Chapter 1
Genre: Comedy & Romance
Words Count: 2,271
Writer: clarineswrites
Friday December 29th, 2017 COEX Mall [MYTHIC PHOENIX’s Busking Event] 06:15 PM KST
Aaron’s POV
Setelah sekian lama tidak berkumpul, hari ini, tepatnya dua hari sebelum tahun berganti, Aaron yang adalah gitaris sebuah grup band ternamaㅡkarena kebiasaan melakukan busking di banyak area; di Seoulㅡdapat kembali memperlihatkan kepiawaiannya bermain gitar akustik. MYTHIC PHOENIX, itu adalah nama beken dari grup band yang beranggotakan lima pemuda tampan yang digilai oleh banyak kaum hawa remaja. Aaron sudah muak dengan beberapa buku bisnis yang tak habis ia baca. Sekitar dua bulan menghabiskan waktu di ruangan belajar, hanya memerhatikan untaian kata yang terucap dari bibir seorang guru home-schooling, dan tak ada waktu bermain game serta berkumpul dengan teman-teman band membuat adam kelahiran Singapura itu sangat tertekan. Ia menyesal telah mengindahkan keinginan ayahanda yang menyuruhnya untuk belajar. Rasa bosan membunuh seorang Aaron, sehingga di sinilah ia berada, yaitu di COEX Mall. Ia sedang bersiap-siap untuk melaksanakan acara busking dengan keempat teman sebayanya. Bermodalkan tekad yang kuat untuk bermusik, Aaron yang lari dari jangkauan sang ayahㅡkabur dari lingkup ayahnyaㅡmemutuskan untuk bersembunyi di COEX Mall. Sambil menyelam, minum air. Hari ini tidak usah belajar karena sudah muak, lalu mengisi hari dengan ngeband bersama MYTHIC PHOENIX. Pilihan yang tepat, Aaron. Kau hebat.
Minjoo’s POV
Kembali, untuk kesekian kalinya, Park Minjoo harus mengatakan bahwa ia sangat lelah menjalani hidup. Sejak dirinya lulus dari Universitas Nasional Seoul dan menyandang gelar sarjana, ia belum mendapatkan pekerjaan. Ia pun belum dapat dengan bangga mengatakan kepada dunia bahwa ia sudah benar-benar menjadi seorang pengacara.
Seperti hari-hari kemarin, Minjoo mengunjungi empat firma hukum yang belum sempat ia datangi kemarin. Namun, hasilnya nihil. Banyak alasan yang diberikan kepadanya kala kedua tangan dengan rendah hati menyerahkan beberapa berkas berupa data diri, transkrip nilai, sampai kepada banyak acara kampus dalam berbagai bidang yang dulu pernah ia bantu kesuksesannya. Ia tahu, sangat mengerti nilai-nilainya selama mengemban pendidikan di perguruan tinggi tak dapat diacungi jempol, tetapi setidaknya mereka yang menerima berkas-berkas Minjoo tak sepantasnya mengusir sang dara dengan begitu kejam. Satu hal yang tidak ingin diakui seorang Park Minjoo ketika realita begitu membuatnya ingin menitikkan air mata, yaitu latar belakang keluarga yang tak dapat diubah. Menyakitkan, hari ini perasaannya lebih buruk dari kemarin. Jika kemarin ia merasa kesal, hari ini ia murka. Oleh karena itu, sahabat karibnya yang sama-sama berasal dari panti asuhan yang sama memberikan selembar tiket kepada sang puan untuk menikmati sebuah konser. MYTHIC PHOENIX. Sebuah grup band yang namanya sudah dikenal oleh banyak kalangan karena keaktifan grup tersebut dalam menarik perhatian para kaum hawa, terutama para remaja. Minjoo menjadi salah satu penggemar, karena dulu saat masih duduk di bangku semester dua perguruan tinggi, dirinya sempat mendengar salah satu lagu ciptaan mereka, dan pada saat itu juga, ia memutuskan untuk menjadi penggemar MYTHIC PHOENIX.
Menurut seorang Park Minjoo, nama grup mereka sungguh keren, dan begitu juga dengan para anggota band tersebutㅡketampanan mereka dapat diacungi jempol. Ini preferensi, tetapi banyak penggemar meyakini hal yang sama.
Antrean masuk area COEX Mall yang akan menjadi tempat berlangsungnya acara busking sudah dipadati para penggemar dengan segala atribut pendukung untuk menyoraki idola tambatan hati. Minjoo tidak membawa apa pun; hanya sebuah tiket dipegang tangan kanan, dan tas kerja digenggam tangan kiri. Melihat antusiasme yang tinggi dari para penggemar di sekeliling membuat Minjoo menjadi tak sabar untuk menikmati acara busking. Pasti akan menyenangkan. Semoga saja perasaan ingin murkanya dapat berubah menjadi perasaan penuh semangat, usai menonton MYTHIC PHOENIX busking nanti.
Aaron’s POV
“Aaron,” bariton seseorang terdengar, dan yang dipangil mencari dari mana asal suara tersebut.
“Shin!” Aaron mendongak, menyambut panggilan lelaki berperawakan tinggi dengan beberapa anting menggantung pada daun telinga.
Adam pemilik nama kehormatan Lee itu menyeringai. Ia menghampiri Shin yang sudah siap naik ke atas panggung dengan gitar bass telah berada dalam genggaman. Kemudian, Aaron membuka sarung gitar dan mengambil alat musik kesayangannya itu untuk segera dimainkan.
“Sekarang di mana Jae?” tanya Shin sambil mengedarkan pandang ke sekeliling; mencari keberadaan lelaki yang dipanggil dengan nama Jae.
Melirik arloji, sepertinya waktu untuk tampil sudah semakin dekat; Aaron pun harus ikut mencari. “Biar aku cari di luar.”
Dengan gegabah, Aaron keluar dari ruangan belakang panggung dan mengaktifkan indra penglihat semaksimal mungkin. Dalam hati ia berdoa; semoga tak ada sesuatu yang terjadi pada kawan satu bandnya itu. Pasalnya, Jae adalah seseorang yang mudah tersulut emosi, dan paling sering membuat masalah. Jangan sampai performa kali ini harus berakhir batal seperti empat bulan lalu. Untung saja para penggemar tidak melemparkan banyak cacian kepada MYTHIC PHOENIX karena hal itu. Untungnya lagi, banyak penggemar yang masih setia dengan band tersebut dan datang ke acara busking hari ini.
“Aduh, di mana sih Jae?!” Aaron mulai menggerutu karena keberadaan Jae belum juga ditemukan, meski kedua kaki sudah berlari kecil mengitari hampir seluruh bagian area lokasi acara busking.
“Ya!”
“Jangan banyak bicara kau!”
“Cepat minta maaf sebelum wajahmu babak belur!”
“Kau kira aku takut? Dasar anak jalanan!”
Awalnya, Aaron enggan untuk mencari tahu apa yang terjadi dan siapa-siapa saja pemilik suara yang didengarnya. Namun, kalimat terakhir yang ia dengar membuat rasa ingin tahunya memuncak, sampai akhirnya ia pun sampai di tempat terjadinya sebuah perkelahian. Jae ada di sana. Sosok adam berperawakan tinggi dengan rambut yang dicat pirang terlihat sudah siap untuk meninju lelaki lainnya di sana. Kedua mata sipit milik Aaron membulat sempurna.
Panik? Tentu saja.
“YA! YOONJAE!” Aaron cepat-cepat melerai Jae yang tampak tidak suka keinginan untuk meninju seseorang diganggu kawan satu bandnya sendiri. “Apa yang sedang kau lakukan?! Kau seharusnya berada di belakang panggung sedari tadi!”
Ekspresi Jae berapi-api, geram akan suatu hal. Namun, Aaron tetap berusaha menenangkan kawannya itu. “Brengsek!” Jae mengumpat di sela napas yang menggebu-gebu.
Kalimat pembawa sial memang. Tepat setelah Jae mengatakan sebuah kata tersebut, adu jotos terjadi di antara tiga pemuda yang tak dikenal dengan dua anggota grup band, dan Aaron ikut serta di dalamnya. Beberapa penggemar yang melihat kejadian memalukan itu berteriak dengan heboh sampai dua orang petugas keamanan datang untuk melerai para anak muda yang kehilangan akal sehat itu. Aaron lah yang paling sial di antara mereka, sebab adam itu tidak tahu sama sekali apa alasan di balik adu jotos terjadi dengan dirinya sebagai salah satu pelaku, bukan korban. Oh, sungguh sial.
Namun, meskipun sudah ada petugas keamanan pusat perbelanjaan yang menghadang, Jae masih saja berniat untuk adu jotos dengan ketiga pemuda tak dikenalnya itu. Jadi, Aaron pun kembali ikut terlibat di dalamnya dengan mencoba melerai perkelahian, tetapi berakhir tampak seperti pelaku.
Apakah akan begitu terus sampai hari semakin malam, dan MYTHIC PHOENIX berakhir mengulang kejadian empat bulan lalu; performa batal dan penggemar pulang dengan kecewa?
Minjoo’s POV
Kerap kali disebut seseorang yang tidak memedulikan keadaan sekitar, atau sangat pasif ketika sedang tidak dalam suasana hati yang baik membuat Park Minjoo sudah terbiasa untuk bersikap acuh tak acuh ketika berada di tengah keramaian. Seperti buktinya; sekarang ini ia tak memedulikan ratusan penggemar yang menjerit dengan heboh ketika melihat beberapa pemuda yang wajahnya cukup tampan sedang adu jotos di dekat antrean masuk lokasi acara busking. Hanya melirik, tidak berniat melerai walau sudah tahu ia pasti tak akan bisa melakukan hal itu, sebab bukan pemegang sabuk hitam taekwondo.
Minjoo ikut bergeser ketika beberapa gadis yang sepertinya berada di usia lebih muda beberapa tahun darinya memberikan jalan bagi dua orang petugas keamanan untuk mendekati para pemuda sok keren yang masih berusaha adu jotos.
Ada apa dengan pemuda-pemuda itu? Minjoo heran. Kenapa kehilangan akal sehat sampai membabi buta seperti itu? Memuakkan.
Decakan diperdengarkan entah kepada siapa sambil sekilas menggelengkan kepala. Ia menunjukkan bahwa diri tak suka akan apa yang tertangkap pandang. Niat awal Minjoo memang tak ingin ikut campur, tetapi sepertinya Tuhan meminta sang puan untuk menjadi penengah kejadian adu jotos yang dilakukan oleh para pemuda bertemperamen buruk itu di kantor polisi. Beberapa penggemar yang mengetahui dua orang dari mereka yang berkelahi adalah anggota band MYTHIC PHOENIX saling melakukan aksi dorong-mendorong sampai akhirnya Minjoo tenggelam dalam lautan penggemar.
Kedua petugas keamanan berperawakan kekar serta berparas mengerikan yang sedari tadi berusaha melerai perkelahian terpaksa meninggikan suara.
Percobaan pertama. Salah dari dari petugas keamanan itu berteriak dengan nyaring, “HEY! KALIAN BERHENTI!”
Tak ada yang berniat untuk berhenti adu kemampuan tinju.
“ㅡSebelum kalian semua berakhir di kantor polisi!” lanjut seorang petugas lainnya yang siap menarik kerah baju seluruh pembuat onar di pusat perbelanjaan itu.
Minjoo paling tidak suka keramaian, dan Tuhan mengabulkan doanya sedari tadi yang meminta dikeluarkan dari lautan penggemar. Namun, mengapa rasanya begitu memalukan?
Aksi dorong-mendorong berlangsung cepat, dan karena hanya Minjoo yang berniat kabur dari sana, ia terdorong keluar dengan kencang dari kumpulan penggemar MYTHIC PHOENIX. Ia berakhir terlempar masuk ke dalam area perkelahian dan tersungkur tepat di tengah perbatasan antara dua anggota band dan tiga pemuda tak dikenal sehingga perkelahian sempat mendingin untuk beberapa saat.
Malu.
Memalukan.
Wajahnya mau ditaruh di mana? Minjoo yang tersungkur, tak berniat untuk mendongak dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja karena ia tak mau puluhan pasang mata mengingat wajahnya. Jadi, lebih baik berpura-pura pingsan dan mengaku korban saja, bukan?
Aaron’s POV
Aaron tidak pernah menyangka pilihannya untuk kabur dari kejaran orang tua karena sudah bosan belajar bisnis akan berakhir belajar mengendalikan emosi karena adu jotos berlangsung cukup lama. Terlebih, di depan umum; di saat MYTHIC PHOENIX akan melaksanakan acara busking. Bahkan, kini dua orang petugas keamanan pusat perbelanjaan sudah berada di dekat mereka, berusaha untuk melerai perkelahian para anak muda yang sibuk memamerkan kekuatan tinju. Aaron menjadi salah satunya dengan tidak sengaja. Sangat sial, adam itu menggerutu.
BUKK!!!
Seorang perempuan tersungkur tepat di tengah area perkelahian. Kaget, puluhan pasang mata terbelalak karena melihat seseorang berusaha dengan begitu keras untuk melerai perkelahian sampai-sampai terjatuh.
Dalam hati, Aaron bersyukur. Ya, karena gadis yang masih tersungkur di atas lantai itu sudah membuat adu jotos berhenti untuk beberapa saat, dan dua petugas keamanan dapat memberhentikan kegiatan adu jotos mereka sebelum mereka kembali berusaha tinju-tinjuan lagi. Tetapi, satu hal. Kenapa dara itu tidak bangun-bangun setelah tersungkur? Pingsan? Atau, mati?
Aaron yang merasa emosinya paling normal di sana langsung berjongkok, dan membantu gadis yang tersungkur untuk segera berdiri.
“Hey, kau tak apa-apa?” tanya Aaron, memperdengarkan nada kekhawatiran di sana. Ia berbisik pelan.
Minjoo’s POV
Jika boleh meminta untuk dibiarkan benaran pingsan, rasanya Park Minjoo ingin dibuat benar-benar kehilangan kesadaran dengan pingsan, bagaimanapun caranya.
Banyak pertimbangan terjadi di dalam pikiran Minjoo kala ketenangan menghampiri ketika dirinya tersungkur di lantai. Apakah ia harus mendongak dan berkata bahwa ia baik-baik saja karena sudah terlanjur malu? Atau, apakah ia harus menambah dosa dengan berpura-pura pingsan karena terlalu malu?
Bariton seorang laki-laki membuyarkan lamunan hening Park Minjoo yang masih dalam posisi tersungkur sejak beberapa menit lalu. “Hey, kau tak apa-apa?” begitu pertanyaan seorang lelaki yang wajahnya tak sama sekali ingin dilihatnya, meski dari suara sungguh dapat dibayangkan paras lelaki itu (mungkin) tampan. Lelaki itu berbisik.
Sebuah ide gila terbersit dalam kepala Minjoo. Ia menjawab dengan berbisik juga.
“Bantu aku. Ini memalukan, tetapi bisakah kau menamparku? Aku harus benar-benar pingsan untuk keluar dari situasi seperti ini,” tutur Minjoo dalam desibel rendah; memohon.
Aaron’s POV
Perempatan imajiner terbentuk pada dahi Aaron ketika seorang gadis berambut pirang terang yang tersungkur memintanya untuk mendaratkan tangan pada pipi sang dara.
‘Apa? Dia memintaku untuk menamparnya? Hah? Sudah gila rupanya.’ Aaron membatin.
Si bungsu Keluarga Lee itu menggelengkan kepala. “Apa-apaan?! Untuk apa aku menamparmu?” Aaron menambahkan setelah terdiam sejenak, “Cepatlah berdiri! Meskipun memang memalukan bagimu untuk memamerkan wajah pada puluhan pasang mata yang memandang di sini.”
Kekanakan, Aaron tetap berniat menertawakan apa yang terjadi pada dara yang tersungkur. Ia menyeringai sebelum bangkit berdiri.
Minjoo’s POV
Jadi, keinginan Minjoo untuk memperdaya seseorang untuk menghapus urat malunya tidak berjalan dengan baik. Akhirnya, sebelum sang adam yang belum dikenalnya itu bangkit dari posisi berjongkok, Minjoo menarik tangan lelaki itu dan ia meninju pipinya dengan menggunakan tangan lelaki yang akan menjadi tersangka atas pingsannya Minjoo. Tetapi, meski tinjuan cukup keras, Minjoo tak juga pingsan. Alhasil, ia memutuskan untuk bangun dari posisi tersungkur sambil memegang sebelah pipinya yang memerah dan sepertinya memar.
“YA!!!” teriak Minjoo secara mendadak, dan dipaksakan. Ia meringis sekilas sebelum menatap adam di hadapannya dengan kedua mata melotot; melakoni sebuah peran, yaitu marah. “Apa-apaan kau?! Mentang-mentang laki-laki, sombong sekali memamerkan tinjumu pada perempuan?!”
Sepasang mata Minjoo diedarkan ke sekeliling; melihat situasi yang terjadi setelah dirinya berteriak heboh. Mendapat puluhan pasang mata mengarah kepadanya, Minjoo mulai semakin heboh. Ia berkata, “Aku butuh keadilan!” dan selang beberapa sekon, dua petugas keamanan lainnya datang lalu masuk ke dalam area perkelahian yang sekarang benar-benar terlihat seperti area adu tinju antara adam yang kebingungan karena berpikir menjadi korban; padahal realita mengatakannya sebagai tersangka, dengan dara yang berlagak seperti korban; padahal adalah tersangka.
Aaron’s POV
Aaron Lee terperanjat dibuat gadis yang belum dikenalnya. Gadis yang telah membuat seluruh mata yang tertuju kepadanya menatap dengan sinis dan penuh tanya. Melihat keadaan yang tadi mulai mendingin, tetapi seketika menghangat lagi akibat perbuataan Si Pirang, Aaron menghela napas dan mengusak rambutnya. Ia terjebak dalam sebuah serangan yang menjadikannya seorang tersangka atas sebuah kejadian.
“YA!!!” teriak Aaron tak mau kalah usai Si Pirang nyaris mendapatkan hampir seluruh hati penggemar yang telah berubah menjadi penonton setia sebuah drama. “Apa maksudmu kau butuh keadilan?!” Aaron mendorong pelan bahu gadis yang sudah menyulut api di dalam raganya dengan kedua kata yang juga ikut melotot.
Namun, belum sempat Aaron menyelesaikan permasalahan dengan gadis itu, keempat petugas keamanan yang ada di tempat kejadian membawa kelima lelaki yang tadi sempat adu jotos dan seorang gadis berperawakan tinggi ke kantor polisi karena telah mengganggu aktivitas di dalam pusat perbelanjaan. Bukan dibawa ke ruangan keamanan, malah langsung diseret ke kantor polisi. Aaron semakin menyesal karena sudah berusaha melerai salah satu anggota bandnya, Jaeㅡkarena ia tahu sebentar lagi kesialan akan menghampirinya ... bertubi-tubi.
To be continued: Chapter 2
UNEXPECTEDLY BEAUTIFUL (Episode 1)
Minjoo, Park: Living is Hard.
Characters: Park Minjoo (OC) & Jisun, Yeonhwa, Yoo Somhee, Baek Jihoo (NPC)
Series: Episode 1 | Chapter 1 (End)
Genre: Drama, Friendship & Slice of Life
Words Count: 2,707
Writer: clarineswrites
It is supposed to hurt, my child. That is why there is water in your eyes and blood in your veins. If we knew no pain, we wouldn’t have known truth. And truth, my child, is the soul of the universe. — Grandfathers, by Christopher Poindexter.
Thursday December 28th, 2017 Seoul, South Korea 01:34 AM KST
“I’m not lonely, is what I say to the night sky.”
Sebuah kalimat lolos begitu saja dari bibir seorang gadis berperawakan tinggi semampai dengan rambut pirang terang meski langit sudah berubah kelam. Tidak pernah takut akan kegelapan karena senang menyendiri, meski terkadang panik bukan main saat beberapa pria berjalan ke arahnya dengan bau alkohol yang begitu menusuk hidung. Trauma. Ia memang tidak menarik diri ketika minuman keras yang mampu membuat hati tenang, namun raga terbakar itu memintanya untuk berteman, tetapi ia juga bukan seorang penggila alkohol garis keras.
Menengadah, memerhatikan langit luas dengan bintang-bintang yang sepertinya sedang bersembunyi di balik awan; Park Minjoo menghela napas. Usahanya mendapatkan pekerjaan harus berakhir gagal. Sudah kesekian kalinya Minjoo mengirimkan data diri ke beberapa firma hukum di ibukota, tetapi tak ada yang menelepon—memintanya datang untuk melakukan wawancara. Sebenarnya, ia tahu. Banyak pertimbangan bagi mereka untuk memperkerjakan Minjoo sebagai salah satu pengacara muda karena latar belakang keluarganya tak dapat dibanggakan. Semula memang dapat dijunjung tinggi karena sang puan lahir ke dalam sebuah keluarga dengan hukum mengalir di dalam darah setiap anggota keluarga, tetapi itu dulu. Dahulu sebelum kini hanya tinggal cerita.
Park Minjoo yang selalu berpakaian rapi mengayunkan kedua kakinya dalam ritme yang konstan. Sambil menikmati udara ibukota, ia menyalakan rokok untuk mengurangi sedikit penat yang dirasakan. Hari ini tak berbeda dari hari-hari kemarin. Hari ini, Minjoo mengunjungi empat firma hukum; mulai dari yang sangat populer di kalangan pejabat, sampai firma hukum yang kantornya tidak sebesar ruangan kelas saat ia masih mengenyam pendidikan di Universitas Nasional Seoul. Sudah hampir satu bulan Minjoo menganggur setelah wisuda. Sejak kelulusan, beberapa dugaan berlarian mengelilingi kepalanya. Pertama, bisa saja belum ada yang menerima dirinya untuk bekerja karena nilai yang tak dapat diacungi jempol saat masih duduk di perguruan tinggi. Kedua, atau mungkin karena penampilannya yang terlihat tidak dapat diandalkan. Ketiga, yang paling penting, yaitu bisa saja karena latar belakang keluarganya yang pernah membuat Mahkamah Agung Seoul meminta maaf kepada publik karena masyarakat sempat tidak percaya kepada hukum yang dibuat oleh para petinggi. Memikirkan setiap kemungkinan membuat Minjoo pening bukan main. Oleh karena itu, diambilnya puntung rokok kedua untuk dihisap dengan harapan bersama asap yang lolos dari bibir, semua pikiran buruk akan kelanjutan hidupnya dapat sirna.
Tidak biasanya seorang Park Minjoo merokok di tempat umum, terlebih di trotoar Distrik Myeongdong. Perasaan yang kacau membuat sebuah puntung rokok bahkan belum cukup untuk menutupi kekecewaannya akan hidup. Ia tidak pernah membenci keluarganya sama sekali sejak kecil, meski banyak hal buruk terjadi dalam hidupnya, tetapi kali ini, ia harus mengatakan bahwa ia cukup kecewa. Jika ia tidak lahir ke dalam Keluarga Park, mungkin saat ini, peruntungannya pun akan berbeda. Jika ia masih memiliki ayah, mungkin saat ini, ia masih bisa meminta ayahnya untuk datang menjemput kala hari sudah malam, sebab tak ada taksi yang dapat ditumpangi. Jika ibunya tidak berzinah dengan seorang hakim ternama, mungkin saat ini, ia akan ingin cepat-cepat pulang untuk segera menyantap masakan ibunya. Jika kedua orang tua masih ada di sampingnya; mendampinginya menjalani hidup, mungkin saat ini, ia tak akan merasa begitu kesepian. Satu pikiran menggandeng erat pikiran lainnya sampai kepala Minjoo rasanya ingin pecah. Jika Minjoo diberikan mesin waktu untuk kembali pulang ke masa lalu, ia pasti akan merengek kepada kedua orang tuanya untuk berhenti bekerja di pemerintahan sebagai hakim dan jaksa agung sebab dari sanalah permasalahan dalam hidup mulai terjadi. Karena itu Minjoo dan kakak laki-lakinya menjadi yatim piatu, dan karena itu pula keduanya harus begitu keras berjuang demi kehidupan yang lebih baik.
‘Kau bisa mengganti nama, dan memulai segalanya dari awal, tetapi kau tak akan pernah bisa mengganti latar belakang keluargamu karena mereka adalah darah dagingmu.’
Untaian kata di atas selalu terngiang dalam benak Minjoo. Entah, ia sudah tidak ingat siapa yang mengatakan kalimat itu kepadanya. Satu hal yang ia ingat, perasaan kecewa yang luar biasa menyerangnya saat pertama kali mendengar kalimat tersebut. Menyakitkan, rasanya seperti sekujur tubuh dipenuhi luka tak kasat mata. Seakan tersayat, tetapi tak berdarah. Ingin berteriak, tetapi tak ada yang mendengar. Ingin mengadu, tetapi kepada siapa? Tak ada yang berminat ikut terlibat mengisi bagian dalam rumor nasional Korea Selatan.
Langkah terhenti tepat di depan sebuah kedai jajanan pinggir jalan yang sudah sering ia kunjungi. Ia berjongkok sekilas untuk mematikan puntung rokok kedua yang sudah pendek, kemudian melempar rokok yang sudah mati itu ke dalam tempat sampah.
“아줌마, 떡볶이 하나 주세요—Ahjumma, aku ingin satu porsi tteokbokki.”
Minjoo memesan makan malamnya kepada seorang bibi yang sudah cukup dikenalnya. Sudah sejak tahun pertama ia mengenyam pendidikan di Universitas Nasional Seoul; ia sering mengunjungi kedai jajanan milik sang bibi yang setiap malam bekerja dengan anak perempuannya.
“알았어. 기다려—Baiklah. Tunggu, ya.”
Raga dibawa beristirahat dalam posisi duduk tatkala sahutan didapat dari sosok yang dipanggil bibi. Minjoo menempati salah satu meja dengan empat kursi. Satu kursi lain digunakan untuk meletakkan tas kerjanya, dan satu lagi untuk seseorang yang sedang dalam perjalanan.
Sesaat ketika tubuh sudah duduk, Minjoo langsung meregangkan otot-otot leher dan pundak yang sedari pagi sangat tegang. Sepasang intan hazel miliknya pun ditutup sebentar agar ia bisa fokus pada napas yang sedikit menggebu-gebu usai merokok tadi. Tidak memedulikan sekitar, Minjoo hanya fokus pada apa yang berguna bagi dirinya dan hidupnya. Ia tak ingin mati muda karena terlalu banyak pikiran. Akhir-akhir ini, tubuh juga terasa berat dan sepertinya sebentar lagi ia akan jatuh sakit.
Saat ini kedai sedang ramai. Beberapa lelaki berpakaian sama rapinya seperti Minjoo, atau bahkan lebih rapi darinya berada di sana; menikmati jajanan pinggir jalan dengan minuman alkohol berupa soju berada di atas meja. Ada juga satu kelompok wanita berpakaian minim yang juga sama seperti para lelaki di sana, yaitu menikmati minuman beralkohol dengan kamuflase berupa keinginan untuk makan kue beras pedas yang dijual oleh bibi kedai. Suasana kedai yang berisik tidak dipedulikan oleh Park Minjoo. Keadaan yang mengharuskan dirinya berbagi kursi pun tidak digubrisnya.
“언니, 이거 언니의 떡볶이—Unnie, ini satu porsi kue beras pedas milik unnie.” Seorang gadis cilik yang berada di usia sekitar sembilan tahun menghampiri meja Minjoo, dan meletakkan pesanan sang puan yang lebih tua itu di atas meja.
Lantas, Minjoo tersenyum samar lalu berkata, “고마워, 연화야. 수고했어—Terima kasih, Yeonhwa-ya. Kau sudah bekerja dengan baik.” Kalimat terakhir sengaja ia perdengarkan untuk si cilik dan ibunya karena hari ini pun mereka berhak mendapatkan pujian atas kerja keras mereka.
Sebuah sumpit diambil Minjoo dari kotak yang khusus diperuntukkan bagi pengunjung untuk mengambil peralatan makan. Ia mengambil sikap doa; memejamkan kedua mata, kesepuluh jemari bertautan, dan sejenak menundukkan kepala. Ia mengucapkan doa singkat dalam hati; bersyukur kepada Tuhan karena hari ini, ia masih diperbolehkan untuk bernapas. Kini, dirinya akan menyantap hidangan di atas meja, maka ia juga meminta kepada Tuhan agar makan malamnya diberkati. Amin. Manik hazel pun kembali diperlihatkan dan bibir berucap, “잘 먹겠습니다—I’ll enjoy the food.”
Namun, baru saja satu potong kue beras pedas akan berpindah tempat dari piring ke dalam mulut, sebuah kalimat menusuk indera pendengarnya. “민주야, 너 계속 이럴거야?—Minjoo-ya, apakah kau akan terus seperti ini?” Pertanyaan dalam desibel rendah itu diperdengarkan seseorang.
Minjoo, yang dipanggil menolehkan kepalanya ke arah asal suara. Si pemilik suara adalah Bibi Jisun, ibu dari Yeonhwa. Sebelah alis diangkat Minjoo lalu digigitnya kue beras pedas sebelum mempertanyakan maksud dari kalimat yang diperuntukkan baginya. “뭐예요 아줌마?—What is it, ahjumma?”
Berbisik, Bibi Jisun menambahkan, “Aku bertanya. Apakah kau tetap akan terus tidak memakai bra seperti itu?”
Masih menyantap gigitan kedua dan ketiga kue beras pedas yang ia pesan, Minjoo bersikap acuh tak acuh. Bukan jarang Bibi Jisun mempertanyakan kebiasaannya melepas bra ketika sedang banyak pikiran itu, tetapi mau bagaimana lagi, rasanya bisa gila, jika penat di kepala berimbang dengan tubuh yang ikut frustasi karena terlalu dipaksa mengenakan pengait besi di bagian dada. Alhasil, memang beberapa orang yang sering bertegur sapa, atau sering bertemu dengannya untuk membicarakan perihal pekerjaan seringkali bersikap tidak sopan. Terutama lelaki. Mata keranjang.
“왜요? 뭐 어때서요?—Waeyo? What’s wrong with it?” Minjoo menjawab sesantai mungkin dengan kembali melemparkan pertanyaan kepada yang bertanya sambil masih menyantap hidangan makan malamnya.
“그냥 이제부터 하지마. 응? 안돼?—Hanya saja, mulai sekarang jangan seperti ini lagi. Hmm? Andwae?”
Dengan cepat, Minjoo menggelengkan kepalanya. “안돼요, 아줌마. 나 이거 매일 매일 하지 않아요. 그냥..답답할때, 음... 답답해서 그래요—Andwaeyo, ahjumma. I don’t do this every day. I just … do it when I’m stressed, hmm … I do it because I’m frustrated.”
Bibi Jisun hanya mampu menghela napas pelan sambil menggelengkan kepala karena jawaban yang sama atas pertanyaan itu sudah didengarnya selama bertahun-tahun. Kebiasaan milik Park Minjoo yang satu ini sepertinya tidak dapat diubah bagaimanapun caranya. Mungkin nanti, saat sang puan memiliki keinginan sendiri untuk mengubah kebiasaan tersebut.
Seulas senyuman jahil diperlihatkan Minjoo kepada Bibi Jisun sambil masih menyantap kue beras pedasnya. Seketika, ia baru ingat akan pesan yang dikirimkan seseorang untuknya beberapa saat lalu; sebelum ia tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tergesa-gesa Minjoo mengeluarkan ponsel layar sentuh miliknya dari dalam tas kerja. Beberapa notifikasi terlihat di sana. Namun, hanya satu yang tertangkap pandang, yaitu pesan elektronik dari seorang karib. Yoo Somhee.
Helaan napas samar diloloskan Minjoo. Ia menggerutu kemudian, “뭐야? 진짜 바빠? 아니면 거짓말? 에이, 짜증나—Mwoya? Jinjja sibuk? Atau, bohong? Ei, menyebalkan!”
Tanpa membalas, usai membaca pesan dari Yoo Somhee—sahabat Minjoo yang sama-sama berasal dari Panti Asuhan Gwangmun—ia langsung mengunci ponsel, dan meletakkan benda elektronik tersebut di atas meja. Janji adalah janji. Minjoo paling tidak suka, jika janji yang sudah dibuat diingkari begitu saja. Oleh karena itu, wajah yang semula sudah menampilkan kelelahan yang luar biasa pun semakin ditekuk karena kesal.
K-Talk!
K-Talk!
K-Talk!
Notifikasi suara dari aplikasi media sosial KakaoTalk menarik seluruh atensinya. Tangan yang semula sudah tak ingin menggenggam benda elektronik dan hanya ingin fokus memegang sumpit saja dibuat bergerak mengikuti intuisi, bukan keinginan. Pesan dari Yoo Somhee. Lagi.
Kedua mata dibuat membulat sempurna kala pesan tersebut dibuka dan dibacanya dengan benar. “뭐? 백지후? 백지후가 온대?—Mwo? Baek Jihoo? Baek Jihoo akan datang?”
Perempatan imajiner terlihat menghiasi dahi Minjoo yang kebingungan. Untuk apa Baek Jihoo datang, karena yang ingin ditemuinya adalah Yoo Somhee. Ia ingin meminta pekerjaan pada teman sebayanya itu yang sekarang sudah menjadi jaksa muda di Mahkamah Agung Seoul. Siapa tahu ratna itu memiliki kenalan firma hukum sehingga malam ini, Minjoo berencana meminta hal itu kepada Somhee. Maka dari itu, ia sangat kecewa ketika Somhee membatalkan janji, dan malah mengirimkan seorang penerbit buku ke hadapannya.
Tak ingin membuang waktu untuk berbincang dengan Baek Jihoo; yang pasti akan menyuruhnya berhenti berusaha menjadi seorang pengacara, dan hanya mulai bekerja sebagai seorang penulis, Minjoo menyentuh layar ponsel dengan lambang telepon. Telepon melalui aplikasi KakaoTalk pun tersambung. Ia menghentikan acara makan malamnya, dan mendekatkan ponsel ke telinga.
“어, 민주야—Eo, Minjoo-ya.”
“야! 유섬희, 너 진짜 바쁘니? 아니면 거짓말 하고 있는거야?—Ya! Yoo Somhee, apa kau benar-benar sibuk? Atau, kau sedang berbohong?” Minjoo langsung bertanya, dan belum sempat Somhee memberikan jawaban, ia sudah menambahkan, “너 뭐야? 백지후 왜 여기로 와? 당장 취소해! 나 지금 집에 가거든—Neo mwoya? Kenapa Baek Jihoo datang? Cepat batalkan! Aku sekarang sedang di jalan pulang, kau tahu?!”
Tidak menerima alasan, Minjoo langsung memutuskan sambungan telepon. Ia menuang teh dingin—yang diperuntukkan bagi para pengunjung untuk bebas mengambil—ke dalam sebuah gelas kecil, meneguknya lalu dengan sigap bangkit dari duduk. Tak mau bertemu dengan Baek Jihoo meskipun lelaki itu dapat dikatakan juga menyandang predikat teman baiknya. Hanya saja, ia cukup lelah untuk mendengar Jihoo berceramah perihal kelebihan bekerja sebagai penulis dibandingkan dengan pengacara. Sudah, ia tak ingin dengan cara seperti itu dirinya menyerah, bahkan sebelum mulai bertarung.
“아줌마, 얼마예요?—Ahjumma, berapa semuanya?” tanya Minjoo sembari membuka dompetnya yang barusan diambil dari dalam tas kerja.
“2,500원—2,500 Won.”
Belum sempat Minjoo mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayar makan malamnya, sebuah tangan besar sudah mendahuluinya memberikan uang kepada Bibi Jisun. Refleks, Minjoo menolehkan kepala. Ah, Baek Jihoo.
“야. 백지후—Ya. Baek Jihoo,” ucap Minjoo. “You—” belum sempat ia melanjutkan kalimat, adam di sampingnya menginterupsi.
Baek Jihoo berkata, “계산 할게—I’ll pay.”
“넌 왜?—Neon wae?”
“너는 실업자 잖아—Because you are unemployed.”
Mendapati fakta di dalam kalimat Baek Jihoo, Minjoo menganggukkan kepala pelan lalu kembali menyimpan dompetnya ke dalam tas kerja. Dengan air muka jengkel, ia berterima kasih kepada sang pahlawan kesiangan—atau, kemalaman; yang bernama Baek Jihoo.
“고맙다—Terima kasih,” ucap Minjoo sambil memutar kedua bola mata; menunjukkan bahwa dirinya sedang jengkel.
Usai mengatakan itu, Minjoo melangkahkan kakinya keluar dari kedai terlebih dahulu tanpa menunggu Jihoo mengikuti di belakang. Terdengar suara Bibi Jisun yang mengucapkan terima kasih, dan anaknya, Yeonhwa juga mengatakan hal yang sama.
“집에 가?—Pulang, ‘kah?” tanya Jihoo setelah ia berlari kecil untuk mengejar langkah Minjoo yang lebih di depan.
Minjoo mengangguk, “응. 넌?—Eung. Kau?”
“저녁 식사 아직 안먹었는데—Aku masih belum makan malam,” lapor Jihoo.
“그래서?—Jadi?”
“같이 먹자고—Let’s eat together.”
Kali ini, Minjoo menggelengkan kepalanya, “아니야. 미안. 나 피곤해—Aniya. Maafkan aku. Aku sangat lelah.”
Baek Jihoo terlihat mengkhawatirkan Minjoo dari raut wajahnya yang berubah gelap. “왜? 아직이야?—Why? Not yet?”
Minjoo menghela napas pelan. Kemudian, ia menganggukan kepala lagi. “음. 너무 힘들어, 진짜—Eum. Aku sangat lelah. Benar-benar sangat lelah.”
Sambil berjalan, mereka juga saling bercakap-cakap. Hanya ketika bersama dengan Yoo Somhee dan Baek Jihoo saja Minjoo dapat terbuka akan kesulitan yang ia hadapi. Minjoo mengangkat kedua tangannya ke atas lalu menengadah; memerhatikan langit malam yang masih saja tak berbintang. Melihat gerakan Minjoo, Jihoo mengekori ke mana kedua netra sang puan berlari.
“알아, 힘든거—Aku tahu, kau lelah,” kata Jihoo sambil melepas syal rajutan yang ia kenakan sebelum melanjutkan, “근데, 이거 사용해—Tetapi, pakai ini,” ia memberikan syal tersebut kepada Minjoo. Ya, Jihoo tahu tentang kebiasaan Minjoo yang akan melepas bra, jika sedang banyak pikiran. Oleh karena itu, sebagai teman yang menemani, tentu ia harus setidaknya bersikap layaknya seorang lelaki.
Minjoo melirik Jihoo lalu terkekeh. Ia mengambil syal milik lelaki itu dan melingkarkan syal tersebut di lehernya. “고마워—Gomawo.”
Mereka terdiam untuk beberapa saat. Minjoo melirik arloji yang melingkar pada pergelangan tangannya; ia sedikit tersentak karena melihat hari sudah semakin malam. Ia harus secepatnya pulang.
“나 먼저 간다—Aku pulang duluan, ya.” Minjoo mengambil satu langkah mendahului Jihoo, dan melirik ke arah sang adam.
Setelah mendapat anggukan dari Baek Jihoo, Minjoo pun segera berlari kecil menuju halte bus terdekat. Jihoo tahu Minjoo tak akan bersedia ditemani pulang, sehingga satu-satunya cara agar gadis itu tidak murka hanyalah membiarkannya pulang seorang sendiri.
“조심히 가—Be careful.” Jihoo mengingatkan.
Kemudian, mereka pun berpisah. Minjoo segera naik bus yang langsung menuju ke arah rumahnya, dan Jihoo masih pergi mencari makan meski hari sudah larut.
End of Episode 1
Interesting accidental shot while I was taking photos of hardware... #unexpectedlybeautiful #unexpectedelephant #casualabstracts
The last of the ass photographs. My ass and I thank you for indulging me... #assphotography #unexpectedlybeautiful
Rhubarb or subsoil alien life forms? Always hard to tell. #rhubarb #aliens #spring2017 #alternatelifeform #gardenweirdness #unexpectedlybeautiful (at City of West Liberty)
No one escapes Thrillerween.
Not the happy child with the candy.
Not the wretched ghost in the grandfather clock.
Not Grammy-winning indie-ish darling Imogen Heap.
NO ONE.