(Sudah) Musim Rambutan
Seperti biasa di setiap libur akhir pekan, saya selalu pulang ke rumah, tujuannya hanya sesimpel itu : Rindu pada orang tua dan keponakan. entah semenjak pindah kerja ke Jakarta, saya selalu rindu untuk pulang (sehari-hari kost di Jakarta). walau hanya numpang tidur 1-2 malam rasanya bahagia sekali bisa berkumpul dengan orang-orang yang saya cintai dan yang pasti juga mencintai dan menyayangi saya. #BahagiaSesederhanaItu
sore itu, ketika sedang berkumpul di teras yang sederhana dan tidak begitu lapang namun karena kebersamaannya (kami) terasa begitu hangat. mata saya tertuju ke pohon rambutan di halaman rumah. ternyata sudah mulai berbunga dan berbuah. ah, senang sekali rasanya (sudah) musim rambutan.
Pandangan itu mulai masuk jauh ke lorong waktu masa lalu, masa dimana setiap hari akan disuguhkan dengan segalan permainan dan kesenangan semata. tidak ada beban atau tanggung jawab yang mesti di pikut dan dipertanggung jawabkan. Yap... itu adalah masa kanak-kanak.
Hal yang amat saya ingat dan masih tersimpan rapih di memori ingatan ini ialah setiap musim rambutan tiba. saya bisa sepuasnya memetik rambutan untuk saya sendiri atau bahkan untuk berbagi kepada orang lain. pohon rambutan itu sudah mulai terlihat tua dan rapuh, tapi bukan berarti semua cerita itu tumbang dimakan usia.
Pada saat itu, musim rambutan bertepatan dengan bulan Ramadhan (entah tepatnya tahun berapa, mungkin antara 1996-1998). Abah (sebutan Bapak) selalu menunggu rambutan-rambutannya yang sudah matang, jika terlihat 80-90% sudah mulai jingga ke merahan (kenapa tidak merah? karena itu rambutan rupiah, rambutan termahal, termanis, tidak perlu menunggu merah, yang sudah terlihat menguning saja sudah sangat manis), maka itu adalah waktu yang tepat untuk mengunduh. dan pada saat itulah saya bisa makan sepuasnya rambutan. Musim buah, maka akan berbanding lurus dengan tingginya populasi “kalong” (kelelawar pemakan buah). hampir disetiap balik terawih abah selalu ngakan saya, aa (kaka laki-laki) untuk tidur diatas genteng toko kita, hahahaha. *Jika di pikir sekarang, sungguh konyol sekali.., tapi berbeda dah lain hal-nya dimasa itu. Antusiasme saya dan aa sangat besar, bahkan jika abah sedang ingin menonton tv, kita merengek supaya tidur diatas genteng. Menurut abah, hal ini ampuh untuk mengusir “kalong”.
Seketika tersadar dari lamunan, setelah mendengar suara tangis keponakan yang baru berusia 1 bulan,
Saya : Bah, sebentar lagi musim rambutan ya, itu rambutan kita sudah mulai tumbuh bunga dan berbuah. nanti enggak tidur diatas genteng lagi? *sambil tertawa.. Abah : Rambutannya juga enggak ada (red. Sedikit)
Percakapan sederhana namun, kami bersama pergih dan mengingat masa ketika saya dan aa masih kanak-kanak. setiap mengunduh rambutan, abah pasti mengajarkan cara bagaimana mengikat buah rambutan secara proporsional baik dari jumlah, ukuran, serta komposisi warna yang pas supaya memikat mata (Branding). baik itu dengan ikatan tali atau bambu yg tipis. (Ya maklum, abah seorang pedagang). Bukankah berniaga adalah anjuran Rasulullah..., ah memang abah ini tidak mengajarkan dengan menggurui tapi dengan tindakan, saat sekarang ini saya baru menyadarinya.
*Terima kasih abah, umi, aa, teteh, maaf belum bisa membahagiakan kalian











