janganlah bermudah-mudahan menggantungkan bahagiamu pada kehadiran orang lain, namun tatkala cinta menyapa, maka jadilah yang rela...
let it flow
Xuebing Du

Love Begins
trying on a metaphor
we're not kids anymore.
Fai_Ryy
No title available

Kiana Khansmith

⁂
noise dept.
Keni
occasionally subtle
🩵 avery cochrane 🩵
$LAYYYTER

JVL

No title available

No title available
untitled
Cosimo Galluzzi
Three Goblin Art

Andulka
seen from Brazil

seen from Brazil

seen from United States

seen from Germany
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
seen from Dominican Republic
seen from United States
seen from United States
seen from India

seen from Peru
@coretaniren-blog
janganlah bermudah-mudahan menggantungkan bahagiamu pada kehadiran orang lain, namun tatkala cinta menyapa, maka jadilah yang rela...
let it flow
rindu? iya! perih? iya! berat? iya!
ah jangan cengeng!!! ini hanya tentang mengelola harapan, tentang seteguh apa kau menelan rasa pahit itu, maka jadilah yang rela, tak perlu melawan ~
meneguhkan ingin, menguatkan angan, terus bergerak ke depan, menjauhi zona nyaman
quieta non movere
karena keadilanNya, tiap kita diberikan jatah waktu 24 jam dalam sehari.....
tak ada yang dilebihkan atau dikurangkan, tentang pengabaian, itu murni soal prioritas ~
Makassar, selepas 'Isya
“Jatuh cinta kepada orang yang sibuk itu melelahkan. Kau terombang-ambing pada harapanmu.”
—
mungkin lebih tepatnya adalah dia yang meniadakanmu karena kesibukannya
Al Qur'an dan Hati
Ibnul Jauzy rahimahullah berkata:
«تلاوة القرآن تعمل في أمراض الفؤاد ما يعمله العسل في علل الأجساد»
"Membaca Al-Qur'an menangani penyakit-penyakit hati seperti madu menangani penyakit-penyakit badan."
[Kitab At-Tabshirah: 79]
Hujan Itu...
Jatuh...
Rela...
Luruh...
Ikhlas...
Mungkin memang seharusnya aku tak cukup hanya untuk menikmatinya, tapi juga belajar kepadanya
Apa yang telah ditetapkanNya senantiasa tetap dalam keteraturan yang amat sangat rapih
Iya...seperti hujan itu
Pada setiap rintiknya, di setiap curahnya, adalah keteraturanNya
Makassar, Jumat, 4 Januari 2019, 03:47
Sepatutnya aku telah terjatuh...
Kini aku jauh lebih mengerti...
Tak pernah aku merasa betapa naifnya aku...
Apa yang harus ku tinggalkan...
Aku lupakan...
🎼🎼🎼
"How right she was when she said that no one ever feels alone in a bookshop" - Christine Gipping
Sepi seringkali bukan mengenai banyak atau sedikit orang yang membersamai kita. Sepi bisa berarti tentang saat kita berjuang mengaktualisasikan nilai yang kita yakini. Keberanian dan passion kita untuk mewujudkan mimpi adalah teman yang paling berharga di saat sepi itu. Takkan ada yang mampu merebut dua hal itu dari kita meski seisi dunia berkoalisi menggagalkan terwujudnya mimpi kita. Itulah kenapa para pahlawan adalah mereka yang paling sering merasa sepi bahkan meski sedang berada dalam gelombang riuhnya puja-puji.
Film bagus yang sarat nilai yang diadaptasi dari novel yang berjudul sama, The Bookshop, karangan Penelope Fitzgerald.
Ewako!
Every word has consequences. Every silence, too.
- Jean Paul Sartre
"There are two kinds of pain in this world. The Pain that hurts, the pain that alters." - Robert McCall
Dari dulu kurang tertarik untuk menonton film sekuel. Rasanya seperti membiarkan ada hal yang tak selesai. Atau seperti ada kisah yang terlalu dibuat-buat untuk berlanjut.
Seperti quote yang jadi pembuka di atas, ya begitulah kehidupan ini. Ia selalu menyajikan pilihan, di mana sebenarnya pilihan itu lebih tentang bagaimana kita merespon ketetapan The Creator. Bahkan merespon hal yang menyakitkan pun, karena kita tak punya pilihan untuk menghindarinya dalam kehidupan ini, maka yang jadi pilihan adalah tentang respon kita.
Menjadi pribadi yang useful bagi lingkungan sekitar kita, tidak perlu dengan cara yang dramatis nan canggih. Satu poin penting adalah bahwa hal tersebut bisa kita lakukan jika kita telah selesai dengan diri kita sendiri. Meski apa yang dilakukan McCall bagi neo-Freudian sepertiku akan tetap terlihat sebagai bentuk defence mechanism ego. Tak apa. Itulah yang membuatku cinta pada kejujuran Freud dalam memahami manusia mulai dari sisi terdalam dan tergelapnya.
"We all got to pay for our sins" - Robert McCall
Memikirkan Rasa…
Suka, benci, rindu, marah, itu sebenarnya bentuk-bentuk emosi. Walau seringkali emosi disempitkan maknanya dan hanya dikaitkan dengan satu bentuk saja, yaitu marah. Emosi sering juga disebut sebagai rasa. Rasa dalam hal ini tentu berbeda dengan apa yg dikecap oleh indera pengecap, seperti manis, pahit, asam, asin, dan sejenisnya.
Rasa dalam konteks bentuk emosi sebenarnya adalah sebuah hasil berpikir. Yups, melibatkan proses decision making, yang tentunya itu berarti adanya aktifitas berpikir. Makanya, saya sering heran jika menemukan pemisahan antara fikir dan rasa. Seakan jika sedang berpikir, tak ada di dalamnya rasa, dan begitupun sebaliknya. Mungkin hal itu didasari dari upaya mendefinisikan pikiran dan perasaan, yang kemudian mengakibatkan munculnya diferensiasi dan ketidaksimultanan dari kedua kegiatan tersebut. Sederhananya gini, diferesiasi itu ada karena kita diajarkan dari dulu bahwa berpikir menggunakan akal dan berasa menggunakan hati. Akal diidentikkan dengan otak, sedangkan hati diidentikkan dengan jantung. Sampai disini ya makin absurd aja kan? 😂
Memikirkan rasa dan rasa sebagai hasil pengambilan keputusan, yang melibatkan proses berpikir di dalamnya. Contoh konkritnya, seperti saat kita memutuskan apakah menyukai atau tidak menyukai sebuah lagu. Apa kemudian kita tidak berpikir sesaat sebelum menyukai atau tidak menyukai lagu tersebut? Apa ujug-ujug saja kita suka atau tidak suka dengan lagu tersebut?. Pertanyaan itu membuktikan bahwa rasa adalah hasil berpikir, ya…kita memikirkan rasa. Persepsi, pengalaman, konformitas, semuanya itu faktor-faktor yang mempengaruhi kita untuk memikirkan dan menentukan rasa terhadap sebuah lagu.
Saat ini, saya lagi suka-sukanya dengan Lagu berjudul “This Is Me” yang merupakan Original Soundtrack dari film yang berjudul “The Greatest Showman”. Ada beberapa hal yang mempengaruhi saya dalam proses memikirkan rasa sebelum akhirnya memutuskan rasa suka terhadap lagu itu. Pertama, sosok Hugh Jackman, yang menjadi tokoh utama dalam film tersebut. Persepsi saya terhadap Hugh Jackman cukup baik. Dia mampu menarasikan dengan baik karakter dari tokoh yang diperankannya dalam film-film yang dibintangi, seperti karakter Logan Wolverine, Van Helsing, Jean Valjean, dan PT Barnum. Semuanya berhasil. Kehidupan nyatanya pun jauh dari glamor hura-hura khas selebriti Hollywood. Jadinya ya makin respek dengannya.
Kedua, jalan cerita dan pesan moral yang berusaha disampaikan film The Greatest Showman. Hal itu juga menjadi bahan pertimbangan saya untuk menyukai OST nya. Sebagai OST, sebuah lagu harusnya memang mampu merangkum poin-poin dalam sebuah film, sebagai representasi dari jalan cerita sebuah film, mungkin layaknya musikalisasi naskah atau skenario. Dan….This Is Me berhasil dalam fungsinya itu. Pesannya bisa tersampaikan dengan baik untuk saya. Itu tergambar dari lirik-liriknya. Nah, lirik lagu This Is Me inilah yang kemudian menjadi pertimbangan ketiga saya sehingga menyukai lagu tersebut.
Penjelasan singkat di atas sebenarnya adalah “studi kasus” ala² yang coba saya angkat dalam tulisan ini terkait bukti bahwa fikir dan rasa bukanlah sesuatu yang terpisah dan tidak terkoneksi sama sekali. Sejatinya, saya mencoba membuktikan secara sederhana, bahwa rasa adalah produk dari proses berpikir. Rasa dan fikir berjalan berbarengan, secara simultan. Jika sampai disini kita sepakat tentang itu, maka apapun rasa yang kita rasakan terkait sesuatu atau seseorang, maka yang paling bertanggungjawab terhadap itu adalah diri kita sendiri. Kontrol ada pada diri kita, karena rasa itu melalui proses berpikir yang secara sadar kita lakukan dan di bawah kehendak kita. Orang bijak katakan, bahwa kita tak berkuasa atas sikap/tindakan orang lain, kuasa kita ada pada respon yang kita pilih, dimana rasa termasuk di dalamnya. Saat sedih, itu berarti kita memilih untuk sedih, begitupun saat bahagia. Yuk ah, capcus…mulai saat ini kita lebih aware terhadap rasa yang kita pikirkan dan kita putuskan. Saat kita rindu, itu bukan salah Dilan, atau saat kita marah, itu bukan karena Rangga yang jahat, tapi…karena kita sendiri yang memikirkan dan memilih rasa itu.
Demikianlah…selamat memikirkan rasa wahai jiwa-jiwa yang merdeka!
you dance inside my heart, where no one sees you, only me, and that sight becomes this art
- Jalaluddin Rumi
Menulislah.
Sebab itu tanda hatimu merasa, jiwamu menyala dan akalmu mampu menangkap pesan semesta.
©Quraners
Yeay...welcome back Tumblr, ruang kontemplasiku, ruang rinduku, ruang untuk merasakan rasa, mari beresonansi di tepi sepi! 😘
Dancing on My Own — Robyn
I Have Nothing — Whitney Houston