
titsay
One Nice Bug Per Day

blake kathryn
No title available
he wasn't even looking at me and he found me
Acquired Stardust

Kaledo Art
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
No title available
Keni
occasionally subtle
I'd rather be in outer space 🛸
$LAYYYTER
noise dept.

Origami Around
Sweet Seals For You, Always
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

Kiana Khansmith
Jules of Nature
seen from Bangladesh

seen from Bangladesh
seen from Argentina

seen from Argentina

seen from United Kingdom

seen from Türkiye
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Italy
seen from Malaysia
seen from United States
seen from Australia

seen from Germany
@kurcacimerah
Pak, apakah dunia memang semenyesakkan ini? Sepeninggal Bapak, dada ini makin sesak dihantam sana-sini.
Suatu waktu seorang teman pernah bertanya padaku. Katanya, kenapa setiap kali ia merasa senang, pasti tak lama kemudian akan muncul perasaan sedih?
Lalu aku menjawab. Kubilang, aku pernah membaca sebuah tulisan yang menuliskan bahwa semua yang ada dalam hidup kita ini ada jatahnya, ada waktunya.
Maka, ketika hari ini kita merasa senang, bisa jadi esok hari atau bahkan beberapa menit ke depan perasaan kalut datang menghampiri.
Sebab semuanya sudah ada jatahnya. Namun perlu diingat pula bahwa ketika kita merasa senang jangan sampai bersuudzon dan berpikir bahwa nanti pasti akan bersedih.
Kita harus tetap berprasangka baik kepada Allah. Yakin bahwa hal-hal baik akan senantiasa menghampiri.
Pun jika pada akhirnya kita bersedih, maka tenangkan hati bahwa Allah senantiasa membersamai.
Ingat, senang secukupnya, sedih seperlunya. Itulah yang dinamakan bahagia sesungguhnya.
Kita perlu babak belur agar tau bagaimana rasanya lapang. Kita perlu menangis agar mengakui kalau ada yang lebih kuat dari diri ini. Kita perlu merasa berada di tepi jurang agar tau kepada siapa kita serahkan segala urusan kita.
Dunia seringkali seolah sedang mengajak kita becanda. Ya, kan?
@terusberanjak
Kemana orang-orang yang dulu aku kuatkan ketika aku butuh dikuatkan?
Rindu yang paling menyakitkan adalah yang dipisahkan oleh kematian.
Hi Dad, i miss you.
Mari mengheningkan cipta sejenak, mendoakan hati kita yang cidera parah dan harapan kita yang tlah patah.
Tiga puluh hari setelah kepergianmu, masih terasa sesak. Bertemu di surga ya, Sayang ....
Ya Rabb..., sehatkan dan kuatkan.
Ketika kebutuhan didengarkan sudah tidak tercukupi.
Ketika cerita tentangku tidak lagi menarik buat kamu
Ketika kamu tidak antusias menanggapi apa yang aku katakan.
Ketika itu, aku merasa terluka.
Aku harus bagaimana?
💔 #teaser
Kembalilah, Pulanglah
Kamu kembali. Bukan untuk menetap. Hanya menyelesaikan urusan yang belum selesai menurutmu.
Semalam, kamu datang. Mengetuk pintu rumah pelahan. Tidak begitu larut sebenarnya, tapi melihat kamu yang ada di balik pintu mendadak aku kusut. Kusilakan duduk, di teras saja, aku enggan mengajakmu masuk.
Ditemani lampu remang-remang, kamu membuka obrolan remeh-temeh yang terdengar sangat basi di telingaku. Hingga akhirnya sampai pada inti yang kamu inginkan. Ikhlaskan, katamu. “Semua yang terjadi di masa lalu, ikhlaskan. Izinkan aku tenang dengan hidupku sekarang.” lanjutmu.
Aku terkesiap. Kita pernah punya masa yang indah. Kemudian berakhir dengan tidak indah. Kamu memilih meninggalkan sayatan luka yang dalam di hidupku. Kamu lepaskan genggamanku demi meraih genggaman lain di ujung sana. Itu dulu dan sudah berlalu.
Aku tertegun. Bukankah aku sudah memberimu maaf ketika waktu itu kamu dengan bersusah-payah menyusun kata permohonan maaf. Kukira sudah selesai. Sekarang, kenapa begini? Dadaku kembang-kempis, menahan amarah. Kamu sudah memilih jalanmu sendiri. Apa-apa yang terjadi dalam perjalananmu dengannya tidak lagi menjadi tanggung jawabku. Katamu, apa yang menimpamu karena kesalahanmu terhadapku. Bahkan kamu bertanya doa buruk seperti apa yang aku mohonkan Tuhan untukmu.
Aku marah. Benar-benar marah. Bahkan ketika kamu membuangku, tak pernah sekalipun aku memaki atau menyumpah-serapahi kamu. Apalagi sampai memohonkan balasan kepada Tuhan untukmu seperti yang kamu tuduhkan. Sama sekali tidak pernah. Aku membencimu tapi tidak sejahat itu.
Jadi, pulanglah. Bawa segala kemarahanmu atas kisahmu dengannya yang tidak berjalan seperti yang kamu harapkan. Bawa juga pemikiran-pemikiran konyolmu itu. Jangan lampiaskan kekesalanmu kepadaku. Semua yang kamu alami bisa jadi hasil tabunganmu di masa lalu. Atau mungkin tangan Tuhan-lah yang bekerja.
Kembalilah. Pulanglah. Jangan datang lagi untuk memaki. Aku hanyalah cerita usang yang ada dalam buku lamamu. Tak lebih.
“Kamu itu candu buatku. Tanpa sapamu, aku kelu. Tanpa hadirmu, rasanya ngilu.”
—
Kelak pada suatu hari yang masih kita wacanakan; aku ingin membebaskan rindu yang selama ini aku pelihara.
Di setiap helai rambutmu, di pundak-pundakmu, di jemarimu hingga lesap semua rindu di dadamu. Aku luruh menjadi kamu dan menjelma kita.
Tulisan ini aku simpan untukmu mas, untuk suatu hari nanti, tapi sepertinya tidak akan pernah ada ‘suatu hari’ itu untuk kita. kau telah memiliki seseorang yang akan memanggilmu ayah. kau meninggalkanku dengan janji yang menggantung - kelabu; seperti langit Jakarta akhir-akhir ini.
Apakah itu langit atau aku yang menangis?
(via mengukirkenangan)
Malam ini aku ingin pulang memeluk Ibu dan menghabiskan tangisku di dekapnya.
Ada luka yang kian menganga dan tak bisa kubagi pada siapa-siapa.
Belakangan ini seperti ada yang berbeda. Pelukmu tak lagi hangat. Bertemu denganku, semangatmu tak lagi hebat. Genggaman tanganmu, tak lagi erat. Seperti, Sedang bersiap untuk melepaskan.
(via mbeeer)
Aku Tidak Baik-baik Saja
"Aku tidak baik-baik saja."
Tetapi dunia memaksaku berusaha baik-baik saja.
Malam begitu gelap dan sunyi. Kupeluk diriku sendiri. Bahagia dan duka itu tak ada. Aku tidak baik-baik saja.
Tanpa suara aku bercerita, kepada hembus nafas dan lamunan ke angkasa. Gemintang bersembunyi. Rembulan enggan muncul kembali. Aku bersama langit yang kosong. Aku bersama diriku sendiri.
Sepertinya aku harus beranjak. Waktu sudah dekat, dikejarnya aku sejak kemarin. Namun hatiku berat sekali. Aku tak sanggup berdiri.
Aku menunggu pagi. Tetapi malam lebih lama di sini. Pekatnya perasaan yang tak kunjung terang. Bahagia dan duka itu tak ada. Aku tidak baik-baik saja.
Tak bolehkah aku terus di sini, merebahkan segala lelah dan ketiadaan rasa ini?
Haruskah aku terus berusaha, memaksa diriku untuk baik-baik saja?
Jatimulyo, 160820