fermier
Pagi itu, ada yang menarik di halaman sang petani kecil. Ia melihat bunga kuncup merah yang akan merekah, mawar sepertinya. Disiraminya tiap pagi dengan gayung kamar mandinya, karena ia mengira mawar suka sekali dengan air. Iya, pikiran itu muncul ketika melihat nyonya-nyonya telenovela di televisi merangkai bunga mawar yang kemudian dimasukkan dalam vas berisi air. Benar saja, mawar sepertinya tumbuh lebih cepat karenanya. Petani kecil memang sudah terkenal cerdas tanpa membuka buku ini itu atau bertanya sana sini. Satu batang mawar tumbuh dengan baik, kemudian berkembang, dua, tiga, empat, sampai halamannya penuh mawar. Sayang sekali, petani kecil jadi tidak bisa menyanyikan lagu “Lihat Kebunku” karena tidak ada tanaman lain selain mawar.
Hari-hari berlalu dengan menyenangkan, mawar tumbuh dengan indah, petani pun tumbuh dengan bahagia. Meski kadang petani kecil lupa menyiram mawar, mawar tetap tegak menunggu air, entah dari gayung pak tani kecil mau pun dari langit Tuhannya. Petani kecil juga tak jarang terluka karena duri sang mawar, tapi ia tetap saja tersenyum, baik karena ada mekar baru maupun rasa syukur melihat makhluk Tuhannya.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, begitu seterusnya, sampai petani pun menjadi petani muda. Sudah semakin banyak kebun yang dilihat, ada bunga yang berwarna warni, ada yang hanya dedaunan, ada yang bercampur. Dinikmatinya tiap kebun dengan semua rasa yang baru. Hingga ia membawa pulang tanaman baru dan mencoba menanamnya di kebun. “Bunga Matahari, sepertinya menarik.” pikirnya. Petani muda mulai menanamnya, dengan harapan baru ia merawatnya sama dengan cara merawat mawar. Satu minggu, masih menunggu, satu bulan.. dan seterusnya. Mawar ditinggalkan sejenak karena petani muda sedang mengamati bunga matahari. Hingga ternyata bunga matahari tak tumbuh sesuai harapnya. Karena ternyata, bunga matahari tak teramat suka air seperti mawar.
Petani muda pun kembali merawat mawar seperti sebelumnya. Tapi kali ini sedikit berbeda, pak tani muda masih ingin menghias kebunnya dengan warna-warna lain. Datang informasi dari mana saja, dari buku yang ia baca, dari kata orang yang ia dengar, dari video tutorial yang ia lihat. Tangan petani muda lebih sering terluka karena duri mawar, kali ini dia tak lagi tersenyum. Entah karena terlalu menyakitkan atau sedang fokus dengan tujuannya, menanam bunga matahari.
Pak tani muda mencari lagi bunga matahari, dan beruntungnya ia mendapatkannya. Dengan informasi yang sudah dikumpulkan, kini pak tani muda sudah ahli merawat bunga matahari. Tak hanya itu, bunga-bunga lainnya pun sudah tumbuh di kebunnya. Tapi ia tetap tak bisa menyanyikan “Lihat Kebunku” karena mawar tak lagi tumbuh di kebunnya.
Ke mana perginya mawar? Apa benar Le Petit Prince yang mengambilnya? :D















