Jelang kepindahanku, ada banyak narasi tentang pulang yang terlintas di kepala. Australia bukan kepindahan pertamaku, tapi jaraknya cukup jauh sehingga membuatku berpikir banyak tentang pulang. Setiap kali memikirkan pulang juga, aku teringat tulisan Mbak Windy Ariestanty dalam bukunya, Life Traveler:
'Kadang, kita menemukan rumah justru di tempat yang jauh dari rumah itu sendiri. And yes, whenever you feel peacefullness, you might call it home'
Aku ingat, buku itu pertama kali kubaca sepuluh tahun yang lalu. Waktu itu, aku masih terlalu muda untuk memahami—setidaknya menurutku— dan aku berpikir bahwa 'pulang' adalah sesederhana naik angkutan umum dan harus transit dua kali untuk sampai ke rumah.
Sekarang, sudah tiga belas tahun berlalu dan aku melewati banyak waktu dengan menunda pulang; menunda pulang karena beramanah di suatu tempat, karena hanyut dalam kesibukanku sendiri, karena peliknya proses mengerjakan skripsi, atau yang paling parah, menunda pulang karena aku tidak lagi merasa pulang.
Kadangkala, aneh rasanya berada di rumah lagi, aneh rasanya merasakan udara yang sepanas itu lagi. Aneh rasanya tidur di tempat tidurku sendiri, menatap langit-langit yang sama lagi. Semuanya benar-benar terasa asing. Semuanya—kecuali Mama, Babah, dan adik-adikku yang menyebalkan itu.
Lalu, pulang bagiku banyak berubah.
Pertama, pulang berarti bertemu mereka yang kuanggap 'rumah'.
Pulang tidak lagi sesederhana bangunan yang harus kucapai dengan naik angkutan umum dan berjalan kaki dua kilometer dari sekolah. Merasa pulang adalah Mama yang kukirimi pesan setiap hari, adalah Babah yang paling bisa memahami tentang pundakku yang terasa berat sekali. Adalah adik-adikku yang selalu menjadi pendengar yang baik untuk pembicaraan kami yang jarang selesai. Adalah teman-teman yang selalu membersamai. Adalah nenek yang sering menanyakan kabar saat ia terbangun pukul tiga pagi. Adalah pukul tiga pagi, saat dimana aku bisa benar-benar merasa pulang dan didengar tanpa dihakimi manusia manapun. Tentang pukul tiga pagi, Ia adalah pengecualian dari 'mereka-mereka' yang tertulis di paragraf ini.
Kedua, pulang adalah diri sendiri.
Selama jauh dari rumah, aku bertemu banyak sekali manusia-manusia baik hati yang Tuhan kirim untuk silih berganti menawarkan pertolongan. Selama itu juga, aku cukup merasakan kepindahan berkala yang berakhir pada perasaan cukup untuk memaknai manusia lain sebagai pulang. Perasaan cukup yang membuat aku mulai belajar menjadikan diri sendiri sebagai pulang.
Ketiga, sebagaimana dituliskan Mbak W, aku mulai memahami bahwa pulang adalah merasa damai.
Labuan Bajo membantuku memahami bahwa pulang ternyata punya banyak wujud, salah satunya menjelma menjadi satu kota pantai yang cantik, berjarak 1300 kilometer dari Surabaya. Ada rasa damai yang sulit dijelaskan ketika pertama kali aku sampai di sini. Tetapi satu yang paling penting: tiga hari ku di sini cukup untuk menjelaskan bahwa, bagaimanapun juga, akan selalu ada tempat yang membuat siapapun merasa pulang. Lain waktu, akan kuceritakan juga tentang cantiknya tempat ini.
Pada akhirnya, pulang ternyata bukan hanya berwujud manusia lain, atau bahkan diriku sendiri. Pulang menjelma dalam banyak wujud.
Dan, sejauh perasaan damai itu hadir, ada pulang yang dekat di sana.