Lelaki - sekalipun tiap keputusan berada di atas telapak tangannya, namun melibatkan perempuan dalam setiap pengambilan keputusan adalah salah satu bukti bahwa ia menghargai perempuan.
01 Januari 2026 || 12.52 a.m
seen from China

seen from United States

seen from Spain
seen from United States

seen from Switzerland

seen from United States
seen from United States

seen from Singapore
seen from United States
seen from Netherlands
seen from Sweden

seen from Singapore
seen from Germany

seen from United Kingdom

seen from United States

seen from Maldives
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from China
seen from India
Lelaki - sekalipun tiap keputusan berada di atas telapak tangannya, namun melibatkan perempuan dalam setiap pengambilan keputusan adalah salah satu bukti bahwa ia menghargai perempuan.
01 Januari 2026 || 12.52 a.m
Macam mana lelaki promote kt perempuan utk buat seks berbayar,macam mana Dia dapat client
ADA sebuah luka yang tak berdarah, namun sanggup merubuhkan fondasi jiwa seorang lelaki: yakni ketika ia merasa asing di dalam rumahnya sendiri. Dunia di luar sana mungkin kejam, penuh kompetisi, dan tanpa ampun. Namun, semua itu biasanya sanggup dihadapi selama ada "rumah" yang menjadi tempatnya untuk pulang dan merasa diterima.
Tragedi yang digambarkan Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin ini adalah tentang hilangnya fungsi rumah sebagai maskan (ketenangan). Ketika standar kebahagiaan keluarga hanya diukur dari angka-angka dan materi, maka sosok kepala keluarga tak lagi dipandang sebagai manusia, melainkan sebagai mesin pemuas keinginan.
Cibiran atas sebuah "kekurangan" materi adalah racun yang paling cepat mematikan nyali. Demi menghindari rasa malu di hadapan orang tercinta, atau demi menghentikan keluhan di meja makan, tak jarang seorang lelaki terpaksa menggadaikan prinsipnya. Ia memikul beban yang melampaui batas bahunya—bukan karena ia kuat, tapi karena ia merasa tak punya pilihan lain selain menjadi "ada" secara materi, meski harus "tiada" secara nurani.
Kita perlu belajar kembali bahwa cinta tidak seharusnya menuntut seseorang untuk melampaui batas fitrahnya. Kehormatan seorang suami atau ayah bukan terletak pada seberapa mewah dunia yang ia bawa pulang, melainkan pada seberapa berkah nafkah yang ia perjuangkan.
Kita perlu belajar kembali bahwa cinta tidak seharusnya menuntut seseorang untuk melampaui batas fitrahnya.
Kehormatan seorang suami atau ayah bukan terletak pada seberapa mewah dunia yang ia bawa pulang, melainkan pada seberapa berkah nafkah yang ia perjuangkan.
Jangan sampai rumah kita menjadi penjara bagi ia yang sedang berjuang di jalan Tuhan. Jadilah tempat berteduh, bukan sumber badai baru. Sebab, saat bahu itu patah karena tuntutan kita sendiri, maka runtuhlah seluruh atap yang selama ini melindungi kita semua.
“Tentang Seorang Lelaki yang Berani Bersusah Payah”
Ia tidak banyak bicara.
Orang-orang mengenalnya sebagai lelaki yang tenang, yang lebih sering menunduk daripada mengeluh, yang lebih memilih memikul beban sendiri daripada membagi resah kepada keluarganya. Namun siapa pun yang memperhatikannya lebih dekat akan tahu bahwa ada perjuangan yang tidak pernah ia ceritakan.
Setiap pagi ia berangkat dengan langkah yang sama, meski hatinya tidak selalu setenang wajah yang ia tunjukkan. Kadang ia membawa pulang lelah, kadang ia membawa pulang doa yang belum terkabul, kadang ia membawa pulang diam karena tidak ingin keluarganya ikut menanggung beratnya hari.
Ia mengerti betul apa arti rekoso bersusah payah, berlelah-lelah, meski dunia tidak selalu memberi ruang bagi letih seorang lelaki.
Tapi ia tetap berjalan.
Tetap memikul.
Tetap berharap.
Bukan karena ia merasa kuat, tapi karena ia tahu ada tangan-tangan kecil yang menunggu kepulangannya, ada hati seorang istri yang butuh rasa aman, dan ada amanah yang Allah titipkan di pundaknya. Ia sering terlihat tegar, padahal di balik itu ada doa-doa lirih yang ia bisikkan sendirian.
“Ya Allah, cukupkan aku.”
“Ya Allah, kuatkan aku.”
“Ya Allah, jadikan letih ini bernilai.”
Dan Allah tahu.
Allah melihat langkahnya yang berat, menghitung setiap tetes peluh yang tak pernah ia banggakan, dan mencatat setiap pengorbanan yang ia simpan rapat-rapat.
Dari luar, ia hanya terlihat seperti lelaki biasa. Tapi bagi keluarganya dan di sisi Allah ia adalah seorang pejuang yang tidak pernah berhenti percaya.
Sebab pada akhirnya, rekoso seorang lelaki bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti cinta yang ia persembahkan tanpa banyak suara.
@clichemistry
Dear, My Future Husband
Aku menuliskan ini dalam keadaan tidak memikirkan siapa pun. Teruntuk seseorang yang bahkan belum aku ketahui sosoknya seperti apa. Hai, perkenalkan, aku anak pertama dari dua orang bersaudara. Aku tumbuh dan besar dari keluarga yang utuh dan sepertinya normal layaknya keluarga lainnya. Saat menuliskan ini, usiaku 26 tahun 4 bulan 4 hari. Orang-orang mengenalku sebagai sesosok yang ceria, hangat, dan pendengar yang baik. Tapi mungkin nantinya, semakin kau mengenalku, justru kau menemukan aku berbeda dari apa yang orang-orang sampaikan.
Impian terbesarku dalam pernikahan hanya satu. Kita bisa “saling”. Aku selalu memimpikan pernikahan yang di dalamnya terdapat kerja sama. Kita adalah dua orang yang sedang berjuang untuk mendapatkan tujuan yang sama, bukan dua orang yang sedang bersaing untuk mendapatkan pemenang.
Aku adalah orang yang memiliki banyak trauma. Salah satu trauma yang aku punya adalah soal rasa percaya. Mungkin toxic yang aku punya adalah; aku tau bagaimana caranya mencintai, tapi aku gak tau gimana bisa percaya kalau orang lain mencintaiku. Aku tau, trauma ini adalah tanggung jawabku untuk mnyembuhkannya. Tapi kalau boleh aku minta bantuan, tolong yakinkan aku setiap harinya bahwa kau mencintaiku. Aku butuh tindakan yang ditunjukkan dan kalimat yang tersampaikan.
Aku bukan wanita yang senang mengekang. Kau boleh bertemu dengan teman-temanmu. Bahkan mungkin aku juga bukan wanita yang pencemburu. Kau boleh memiliki rekan kerja perempuan. Aku menghargai apa pun yang kau lakukan, selama kau tidak menutupi apa pun yang memang seharusnya aku ketahui dan kau tau batasan.
Aku senang mempelajari hal baru, aku senang bertanya tentang banyak hal. Aku harap kau adalah orang yang bisa aku ajak berdiskusi tentang banyak hal di dunia ini. Tidak perlu berdebat, cukup sampaikan apa yang ingin kau sampaikan atau hal yang kau ketahui, dan aku akan melakukan hal yang sama. Di akhir diskusi, mari kita tutup dengan pelukan yang hangat dan tertawa bersama.
Aku menyukai hal-hal sederhana, sesederhana menikmati teh hangat di kala hujan, menertawakan hal-hal konyol, atau bahkan bernyanyi di atas motor. Kau boleh untuk ikut serta, akan aku kenalkan kau pada hal-hal indah nan sederhana yang ada di dunia ini.
Terakhir, aku ingin mengucapkan banyak terima kasih. Dari banyaknya wanita di dunia ini, terima kasih sudah memilih aku dan membuat aku yakin untuk memilihmu. Mari sama-sama kita wujudkan hubungan sehat dan terus bertumbuh menjadi manusia yang lebih baik lagi kedepannya. Mari kita saling berbahagia hingga ke syugra, suamiku..
- Pekanbaru, 17 Desember 2022
Biar Kuceritakan Tentang Bapak
Bapak adalah sosok yang tak terlalu pandai mengungkapkan rindunya, bahkan saat kutanya lewat telfon,"Bapak ndak rindu aku, tha?" Ia hanya tertawa dan menyaut, "Lha ngopo rindu-rindu, anak elek ae ok, ora". Plis, muanise polll gini dibilang 'elek', guys! Wkwk.
*elek: jelek; ora: tidak.
Terkadang, kalau lama tidak mengabari rumah beliau hanya bertanya ke Ibu, "Orang jauh ndak telfon tha, Bu?" Dan kuartikan ini sebagai bahasa rindu dari Bapak.
Bapak pun tak pandai mengungkapkan sayang, tetapi Bapak yang amat cemas kalau mendengar kabar aku sakit atau sekadar demam ringan.
Bapak tidak selincah Ibu yang tetiba jadi dokter dadakan ketika anak-anaknya sakit, Bapak hanya segera bergegas memanasi motor/mobil lalu (memaksa) mengantar ke dokter disertai ceramah panjang nan lebar, biasanya sih mengkambinghitamkan air es atau air hujan.
Maka, itulah, Bapak. Lelaki tangguhku yang tak pernah mengeluh, pandai menyimpan rasa yang diam-diam hatinya penuh cinta.
Semoga Allah menjaga Ibu, juga Bapak, barakallahu fiik 🤍
Di antara gemericik air;
Teduh, 25.09.2023
mengapa isteri saya begitu penurut?
KARENA SAYA MEMIMPIN JALAN DAN MENGATUR HARMONI
Saya memperbaiki keadaan di rumah, membayar tagihan dan memastikan dia punya uang meskipun dia punya uang sendiri. Saya membelikannya barang-barang dan membawanya ketempat yang ingin dia kunjungi. Saya tidak curang.
Saya membuatnya merasa dia tidak perlu khawatir karena saya ada untuknya. Saya mendengarkannya, meminta maaf jika saya salah. Saya MEMIMPIN dengan memberi contoh!
Dan dia adalah perempuan alfa, saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan sebagai laki-laki.