Sebuah Penutup
Entah kenapa, siang tadi hati ini berkata ingin menyudahi semua ini. Baiklah. Mungkin ini yang terbaik. Aku ingin mengakhiri tulisan-tulisan ini. Sebenarnya masih sangat banyak yang ingin aku tulis, tentang canda, tawa, tangis, susah, senang, bahagia, dan derita. Aku ingin menuliskan semuanya di sini. Luapan hati. Tapi, sepertinya otak rasionalku mulai kembali normal. Sudah mulai berpikir kembali dan ingin mengakhiri. Aku sadar, jika aku teruskan menuliskan semuanya, ini tak akan mengubah apa-apa. Malah salah-salah bisa membuat semakin sakit. Bannyak sekali pelajaran yang bisa aku ambil dari semua peristiwa ini. Kalau dalam film 'mama cake' gubahan Anggi Umbara, ada satu sesi yang menyadarkanku. "Everything happens for a reason". Yap. Mungkin dengan gemblengan seperti ini, Tuhan ingin meraih tanganku dan menarikku dari kubangan kelalaian selama ini. Terima kasih, Tuhan. Mungkin begitu juga denganmu. Bisa jadi Tuhan juga ingin mengembalikanmu pada rel yang semestinya. Hingga mengubahmu menjadi mutiara yang lebih dari sebelumnya. Aku ingin mengakhiri tulisan-tulisan ini sebagai lelaki sejati yang tak mau membenci. Baik kamu maupun lelakimu. Aku tak membenci kalian. Hiduplah dalam bahagia. Aku memaafkan segala kesalahan kalian. Tak perlu minta maaf, karena sudah semestinya aku memaafkan. Untukmu, terima kasih telah memberi kesempatan padaku untuk hadir di hidupmu. Terima kasih telah pernah mau menjadi orang yang berharga di hidupku. Aku ingin tetap mencintaimu, entah sampai kapan. Biarlah status khayal "berpacaran" itu yang menutup semua sendu. Dulu kita saling asing, dan kembali dalam keadaan yang sangat asing. 6 Juni 2017 Damar~









