Wahai diri,
Maaf, seringkali membuat mu kerepotan, mati-matian memperbaiki orang lain saat langkahmu gemetar. Maaf sering ku ajak memaklumi rasa sakit yang berulang-ulang. Maaf karna tidak memberimu waktu untuk sembuh. Aku malah sibuk mendorongmu untuk membalut luka orang lain sedang lukamu bernanah.
Maaf, terkadang aku memaksamu untuk tetap tersenyum dan tertawa, hingga tidak mengizinkan seorang pun untuk mengkhawatirkanmu.
Terimakasih sudah bertahan, terimakasih sudah begitu kuat.
Maaf, aku tidak mencintaimu selayaknya kamu yang pantas dicintai.











