Setiap malam, rumah ini berubah menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang pernah menjadi aku.
Mereka datang tanpa diundang, duduk di kursi-kursi kosong, bersandar pada dinding-dinding yang sudah lupa akan kehadiran mereka.
Jam dua pagi, yang berumur tujuh tahun muncul di kamar, masih memakai seragam SD yang kebesaran, masih percaya bahwa semua orang dewasa adalah baik. Dia menatapku heran, kenapa wajah yang dia lihat di masa depan begitu lelah?
"Aku pikir kita akan jadi astronot," katanya sambil mengayunkan kaki dari kursi yang terlalu tinggi untuknya. Suaranya masih jernih, belum pecah oleh kekecewaan pertama. "Aku sudah hitung, kalau nabung dari uang jajan, bisa beli roket mainan yang besar."
Aku tidak bisa bilang padanya bahwa roket mainan itu masih tersimpan di lemari, tapi hanya sebagai hiasan berdebu. Bahwa mimpi itu mati perlahan, dimakan oleh kenyataan bahwa matematika yang dia sukai ternyata tidak cukup untuk membawa seseorang ke luar angkasa.
Jam tiga, giliran yang berumur dua belas. Ia datang dengan mata yang masih bisa menangis untuk orang lain, tangan yang masih mau berbagi makanan terakhir, hati yang masih percaya bahwa kebaikan akan selalu dibalas kebaikan. Dia duduk di sampingku, aromanya masih harum campuran shampo murah dan optimisme yang belum busuk.
"Kenapa kamu tidak menelepon teman-teman lama?" tanyanya polos. "Bukankah persahabatan itu selamanya?"
Bagaimana menjelaskan padanya bahwa persahabatan selamanya adalah dongeng yang indah? Bahwa orang-orang pergi tidak dengan drama, dengan acara yang tidak lagi mengundang, dengan jarak yang mengembang tanpa penjelasan. Bahwa dia akan mati pelan-pelan setiap kali menunggu telepon yang tidak datang.
Yang berumur delapan belas datang paling terlambat, jam empat pagi. Masih mengenakan kemeja putih pertama dari hari kerja perdana, masih menggenggam ijazah yang dia yakini akan membuka semua pintu. Matanya berbinar dengan rencana-rencana besar, dengan keyakinan bahwa dunia menunggu kontribusinya.
"Aku sudah tulis daftar hal yang akan kita ubah," katanya sambil membuka notebook compang-camping. "Pertama, kita akan membuktikan bahwa kerja keras selalu berbuah. Kedua, kita akan jadi orang yang tidak pernah lupa pada orang yang membantu. Ketiga..."
Aku menutup mata. Tidak sanggup melihat daftar itu. Tidak sanggup memberitahu bahwa kerja keras kadang hanya berbuah sakit punggung dan gaji yang tidak naik-naik. Bahwa kebaikan sering dianggap kelemahan. Bahwa dia akan pudar dalam minggu-minggu pertama ketika bos bilang "dunia nyata tidak sesederhana itu."
Mereka semua duduk bersamaku hingga subuh, dalam keheningan yang tidak nyaman. Terkadang mereka saling berbisik, membicarakan diriku dengan nada khawatir. Terkadang mereka bertanya kenapa aku tidak lagi tertawa seperti dulu, kenapa aku tidak lagi percaya seperti dulu, kenapa aku tidak lagi bermimpi seperti dulu.
Aku tidak pernah menjawab. Karena jawaban yang sejujurnya adalah:
aku membunuh kalian satu per satu supaya bisa bertahan hidup.
Setiap kali dunia menunjukkan taringnya, aku mengorbankan satu bagian dari kalian. Setiap kali realita menampar terlalu keras, aku mengubur satu mimpi kalian. Setiap kali orang lain mengkhianati, aku mematikan satu bagian hati kalian.
Kalian hilang bukan karena aku jahat. Kalian hilang karena aku tidak tahu cara lain untuk tetap berdiri.
Dan setiap pagi, ketika mereka menghilang bersama cahaya pertama, aku duduk sendirian di ruang yang tiba-tiba terasa terlalu besar. Merindukan suara-suara mereka yang polos, pertanyaan-pertanyaan mereka yang sederhana, mata-mata mereka yang masih bisa heran.
Dalam kerinduan itu, aku menyadari sesuatu yang aneh:
aku merasa paling lengkap ketika dikelilingi oleh mayat-mayat diriku sendiri.
Seolah hanya dengan mengakui siapa-siapa yang sudah mati dari dalam diri ini, aku bisa memahami siapa yang masih tersisa.
Mungkin itulah yang disebut dewasa, menjadi kuburan bagi semua versi diri yang pernah kita cintai, meski mereka sudah tidak lagi hidup di sana.