Sudah lama tidak menulis. hehe iya, ini pelampiasan saya ketika sedang sedih dan merasa ditinggalkan.
Saya ingin bercerita betapa hancurnya saya beberapa hari belakangan ini. Ya. Dimulai dari empat hari yang lalu, ketika ingin menemui mas. Saya bahagia saat mas mau menerima kehadiran saya, sangat bahagia meskipun sebenarnya dia ingin bertemu pun perkara pekerjaan. Dengan senang hati dan agak terburu - buru saya pergi menerui mas. Naas ditengah jalan saya mengalami kecelakaan. Saya terserempet mobil bak dari arah belakang saya, tidak epic bukan? haha
Singkat cerita perselisihan tengah jalan itu selesai dengan aku (seperti biasa) tidak bisa membela diri sendiri. Aku menerima permintaan maaf mereka dengan tidak ikhlas dan mereka berlalu begitu saja. Kalian tahu kerugian apa yang aku alami? Gigi depanku patah. Iya dan kalian tahu hal pertama yang aku pikirkan? Mas tidak akan menyukaiku karena aku tidak rupawan lagi.
Aku memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menemui mas karena kami sudah berjanji untuk makan siang bersama. Perasaanku sedih dan kaget karena kecelakaan itu. Selang beberapa waktu aku sampai di tempat makan lokasi janjian kami, aku tidak melihat mobilnya. Pikiranku berkelana 'kemana dia?' 'apa tidak jadi karena aku lama dan dia sudah bosan menunggu?'
Aku memutuskan untuk menelponnya, bertanya 'mas dimana?' dan dia menjawab dengan nada tinggi khasnya 'saya sudah diXXX, Kamu dimana?' aku yang kaget dengan nada suaranya bertanya dengan lirih 'makannya gimana? aku di resto xxx', dia menjawab tanpa menurunkan nada suaranya. 'ini saya lagi makan. Kamu kelamaan.' Seolah tidak terima disalahkan lantas aku mengucapkannya 'aku tadi abis jatoh' dengan air mata yang ikut pecah. Kemudian saya melihat bayangannya di restoran tempat kami janjian. Saya masuk dengan lemas, dia makan dengan lahap tanpa mempedulikan aku yang datang. Saya duduk dihadapannya dengan lemas dan masih terguncang. Pelayan resto memberikan menunya.
Mas berkata tanpa menatap wajahku, 'Makan.'
Dengan polosnya saya berkata, 'Saya habis jatoh'
Tanpa menghentikan makannya dia berkata dengna nada cueknya, 'Jatoh? dimana?'
Saya masih terdiam dan enggan untuk mengatakan dimana dan bagaimana karena saya tahu air mata saya akan pecah lagi. Dengan jeda keheningan yang ada, saya kembali menangis. Dalam hati dan tak bisa saya ucapkan 'maaf mas saya menangis didepanmu. Hal yang sangat mas benci untuk saya lakukan karena akan merepotkan mas.'
Dengan cueknya dia tertawa dan membandingkan saya dengan orang lain yang lebih cuek dan tegar dalam menghadapi musibah. Ditengah tangisku, aku menghela nafas rasanya ingin mengatakan ini bukan saatnya untuk membanding - bandingkan. Saya dan dia itu berbeda, bisakah sekali saja anda mendengarkan tanpa berkomentar dengan kalimat menjatuhkan? Tapi percuma, dia adalah dia. Saya bukan apa - apa dimatanya, bahkan dia tidak akan peduli bagaimana perasaan saya atas respon yang dia berikan.
Tawa itu terus berlanjut sampai urusan kami selesai hari itu.