Everyone writes about something they felt
Selena Gomez ( On Air With Ryan Seacrest 24 Oct 2019)

Discoholic 🪩
Monterey Bay Aquarium
hello vonnie

if i look back, i am lost
macklin celebrini has autism
Mike Driver
Keni
Three Goblin Art
Not today Justin

tannertan36

Kaledo Art
Alisa U Zemlji Chuda
dirt enthusiast
Game of Thrones Daily
Claire Keane

⁂

JBB: An Artblog!

shark vs the universe
$LAYYYTER
noise dept.

seen from United States
seen from Brazil

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Jordan
seen from United States
seen from Jordan

seen from Singapore

seen from United States

seen from Lithuania

seen from United States

seen from United States
@dheiromancy
Everyone writes about something they felt
Selena Gomez ( On Air With Ryan Seacrest 24 Oct 2019)
Wanita itu.
Wanita itu telah mengambil alih kendali. Menggantikan perempuan itu. Rasanya baru kemarin wanita itu masih duduk menunggu diruangannya yang polos. Sekarang, ia bisa bebas kemanapun, melakukan apapun, mengatakan apapun. Sudah sejak lama wanita itu memimpikan mengambil kendali, bahkan pernah terbayang ingin merebut paksa. Ah, kesabarannya tentu berbuah manis. Wanita itu mengangkat bibirnya, tersenyum. Rencana-rencana yang selama ini hanya ada difikirannya kini mulai dicicil untuk dilunasi, banyak sekali hal yang wanita itu ingin lakukan. Dan, sekarang saat yang tepat.
That somehow, all of this mess is just an attempt to know the worth of my life.
Sleeping at Last (Mercury)
So I am waiting for the sun, but you only see the grey.
Aqualung (Lost)
Gantikan aku.
Lama mereka tak bertemu. Pun bertegur sapa. Namum malam itu berbeda, perempuan itu memutuskan untuk membuka percakapan, paling tidak berusaha untuk memulai. Diketuknya pintu perlahan, tak ada jawaban. Tak ada suara dibalik pintu itu. “Hei..” Perempuan itu membuka suara, berharap panggilannya berbalas. Namun tetap tak ada suara. Perempuan itu menunggu, memasang telinganya bersiap mendengarkan suara terkecil yang mungkin berasal dari balik pintu. Masih saja tak ada suara. “Kau tak ingin menjawabku?” Kali ini dengan suara memelas disertai harapan adanya jawaban. Hening. Perempuan itu tak menangkap suara apapun, kecuali nafasnya.
Perempuan itu menyandarkan badannya dengan kasar pada pintu jati dingin berwarna cokelat.Disusul suara benturan keras. Ukiran pada pintu itu menggores tangannya. Perempuan itu meringis. “Bicaralah.” Suara yang diharapkan perempuan itu akhirnya menjawab. “Bisakah kau buka pintu ini? Aku ingin bertemu denganmu. Tolong” Kembali sunyi. Lama jeda diantara mereka. Kemudian, pintu yang menghalangi mereka bergerak perlahan. Perempuan itu menarik badannya menjauh. Dan pintu itu terbuka. Sudah begitu lama mereka tak saling menatap langsung. Entah sudah berapa purnama yang terlewat. Malam itu, mereka saling berhadapan. Wanita di balik pintu itu berkulit pucat, matanya terbuka menyala terang. Perawakan mereka tak berbeda, hanya raut wajah dan sinar mata yang membedakan. Jika perempuan itu selalu mencoba untuk tersenyum, maka wanita itu sebaliknya. Dan, malam itu, sinar mata perempuan itu seakan redup, tak bercahaya. Perempuan itu masuk mendahului wanita itu, melangkahkan kakinya menuju ujung ruangan dan berhenti tepat di depan jendela bening berukuran besar. Berseberangan dengan jendela tersebut, terdapat sofa dengan warna marun. Perempuan itu lantas duduk. Mengatur posisi duduknya hinga menemukan posisi nyaman. Wanita itu mengikutinya, duduk tepat disamping perempuan itu. Mereka memejamkan mata. Menimbang siapa yang harus lebih dulu memulai percakapan. “Kau tau, aku telah mengucapkannya. Permintaan maaf. Ucapan selamat. Dan terimakasih. Dan aku mendoakan mereka jodoh hingga surga.” Perempuan itu mulai berbicara dengan mata masih terpejam. Malam itu bulan bersinar dengan terangnya, menembus jendela dan menerangi ruangan. Mereka seakan duduk bermandikan cahaya. “Apakah aku bisa menyebut itu sebuah closure?” lanjutnya. Wanita itu menjawab sekenanya, dengan mengangkat kedua bahunya. Yang tentu saja, perempuan itu bisa merasakan jawabannya. “Aku pernah menyebut namanya dalam doaku. Dulu. Dulu sekali. Kemudian, aku berpaling. Aku menjauh. Dan sekarang aku...” Perempuan itu tak menyelesaikan kalimatnya. Dibiarkan kalimat itu menggantung. Tarikan nafasnya dalam dan panjang. “Aku tak ingin kau merasa menyesal. Kau sudah membuat pilihan.” Wanita itu menjawab dingin. “Aku tak menyesal. Takdir siapa yang sangka.” “Hei..” Wanita itu menoleh, menatap wajah perempuan itu yang terlihat lelah. Perempuan itu tersenyum kecut, dengan mata masih terpejam, seakan begitu menikmati cahaya bulan. “Kau tak pernah mengunjungiku sebelumnya. Sekalipun tak pernah. Aku hanya bayangan sekelebat bagimu. Aku hanyalah wanita tua sinis. Katakan semuanya.” Perempuan itu membuka mata, menoleh dan kini mereka saling menatap. Perempuan itu menarik nafas dan menjawab. “Kau kuat. Sangat. Aku membutuhkanmu. Aku lelah. Bisakah kau menggantikan aku?” Wanita itu kaget. Ini pertama kalinya perempuan itu meminta padanya. Bahkan meminta untuk menggantikan dirinya. Tatapannya pada perempuan itu semakin lekat. Ada air mata yang hamipir menetes namun masih tertahan di sudut mata perempuan itu. “Kau tau aku menyayangimu?” Perempuan itu mengangguk, mengiyakan. “Kau tau aku selalu ingin yang terbaik untukmu? Entah apapun keputusanmu, aku akan mendoakan. Kau sudah berjuang. Sejauh ini. Dan kau pun jauh lebih kuat dari pada aku.” Perempuan itu mengangguk, mengiyakan semua. Air matanya tak terbendung. Tangisnya pecah. Lantang. Dikeluarkan semua yang tertahan. Jari-jari pucat wanita itu menyentuh wajah perempuan itu, mengusapnya perlahan, dan tersenyum perih. “Istirahatlah. Diamlah disini. Tenangkan hatimu. Kembalikan kekuatanmu. Aku akan menggantikanmu.”
Jadi, begini akhirnya?
“Apa aku salah?” “Tentu saja tidak. Dan, dia juga tidak salah. “ Suara yang berada diseberang menjawab dengan mantap. “Dia punya hak atas keputusannya, begitu juga dengan keputusan yang telah kamu buat dulu.“
Entah apa yang membuat asam lambung perempuan itu naik, kabar siang itu ataukah perlakuan yang diterimanya. Entah apa yang membuat perasaannya gelisah, pesannya yang diabaikan atau suara-suara yang mulai terdengar dikepalanya. Atau mungkin, fikirannya yang mengatakan bahwa perempuan itu menyesali keputusannya. Entah.
Kadang saya merasa lelah menjadi single. Kadang cemburu dengan mereka yang bisa mengumbar kemesraan tanpa berdosa. Cemburu pada mereka yang sudah saling halal. Cemburu pada wanita-wanita yang cinta dan segalanya hanya untuk suami seorang. Kalian hebat, Nona.
Tapi ada yang lebih membuat saya cemburu dari semua itu, seorang wanita single yang menjaga hatinya sebelum dimiliki siapa-siapa. Berat, ibu. Tidak mudah, ayah. Pada akhirnya hati anakmu hanya dilukai oleh lelaki tidak baik. Pada akhirnya mereka hanya ingin bersenang-senang tanpa berani mengikat.
Maka benar kata kalian, semestinya tidak perlu tergesa-gesa. Tapi bagaimana seharusnya saya melihat dunia? Terlalu banyak lelaki yang bermulut manis dan piawai menggoda. Sebagai wanita single, saya sungguh merasa lelah. Lelah digodai karena mereka merasa saya belum milik siapa-siapa. Pada titik itu, saya jadi ingin dimiliki seseorang dengan halal.
Ajari saya menjadi wanita, ibu. Ajari saya menjadi setia, bahkan dengan seseorang yang masih tanda tanya. Ajari saya mencintai diri sendiri agar bisa lebih waras dan mawas. Ibu, saya tersesat. Bisakah kita kembali ke masa dimana airmata tak semurah sekarang? Bisakah kau menuntunku berbenah menjadi salehah?
Maaf, ayah. Sampai hari ini anakmu bahkan tak mampu menemukan lelaki yang sepertimu. Barangkali kau memang hanya ada satu. Saya ingin dipeluk, ayah. Ditenangkan dari kekacauan masalah yang tak bisa saya selesaikan sendiri. Saya hanya ingin dipeluk tanpa dituduh bersalah, ayah. Bisakah kau menjadi hangat kepada yang menawarkan maksud baik?
Ayah, saya lelah. Anakmu bisa-bisa jatuh sakit jika terus-terusan begini. Dan berhenti untuk cemas, karena sakit yang ini tidak biasa, ayah. Tidak ada memar. Tidak ada darah. Tidak ada diagnosa untuk menerjemahkan saya tengah kenapa. Pada akhirnya saya tetap merengek minta dijajani kasih sayang. Anakmu masih menergantungkan semuanya padamu.
Apapun itu, saya tidak sedang minta dipertemukan Tuhan dengan jodoh saya. Saya masih kurang apa-apa. Saya masih mengecewakan. Apalagi urusan membahagiakan kalian. Anakmu hanya merasa lelah. Nanti juga berdiri lagi. Mengatasi godaan-godaan yang bisa membawa saya pada lelah lagi. Tak masalah. Doa kalian atas masa depan baik saya, itu sudah semahal-mahalnya barang berharga.
© Cindy Septyani
اللهم إرزقني قلبًا قنوعًا
O Allah bless me with a content heart
Aku berbahagia untukmu :)
“Bersamaku atau mengejar dunia?“
Pernah seorang kawan menawarkan pilihan itu padaku. Tanpa berfikir panjang, aku memilih dunia. Mengejar cita-cita ayahku. Menunaikan mimpi ayahku. Membahagiakan nya dengan cara bisa kulakukan. Dengan restunya.
Kita masih terlalu muda saat itu. Aku egois. Kamu pun tak kalah. Aku terima cerita tentangku, dengan senyuman. Aku terlalu malas untuk peduli pada cerita yang dibawa angin. Jika menurut mereka aku tokoh antagonis, akan kuperankan. Aku tak keberatan. Dan kamu, tentu saja, protagonis. Siang ini, setelah sekian lama, aku mendengar tentangmu. Ha! tentu saja aku tersenyum lebar. Tersenyum tulus, untuk kebahagiaanmu.
Aku berbahagia untukmu. Tak dendam, tak juga marah. Selamat. Barakallahu laka wa baraka alaika wa jama'a bainakuma fii khair.
Memantapkan Hati.
Apa yang harus kusampaikan? Jauh sebelum keadaan ini, aku sudah memantapkan hati. Mengikrarkan diriku untuk kebahagiaan mereka. Mendahulukan keinginan mereka sebelum keinginanku. Memenuhi keinginan mereka, bahkan jika itu bukan keinginanku. Sedari dulu. Se-cinta-itu. Aku tak bisa berada dipihakmu, bahkan jika aku mengulurkan tangan, menarikmu, membantumu, aku tetap bukan dipihakmu. Jatuh hati-kan mereka padamu, maka aku akan mengikutimu. Sesederhana itu.
Paling tidak
Akhirnya niatku tersampaikan. InsyaAllah, aku terima jawaban finalmu itu. Yang selama ini aku khawatirkan terungkap juga. Sakit sih, tapi, paling tidak, aku mendapatkan jawaban dari semua ini. Jawaban yang hampir 1,5 tahun aku tunggu buat menanyakannya. Jawaban final untukku agar memupuskan rencana untuk mengusahakanmu. Mungkin saat ini, ini yang terbaik, buatmu, dan mungkin buatku.
Kabari aku, jika aku masih punya kesempatan untuk mengusahakan, kasih tahu caranya. Aku tak tahu sampai kapan perasaan dan niatku ini akan tinggal. Kalau memang gak ada lagi kesempatan itu, setidaknya, doakan aku, agar suatu saat aku bisa memiliki perasaan dan niat yang baru untuk orang lain, walau itu sangat tidak aku harapkan.
Aku mencintaimu, sedalam itu.
Qerja Qeras bagai Quda (QQQ)
Ku dengar kamu sibuk. Perjalanan kerja mu menguras tenaga dan waktu. Kamu menikmatinya bukan? Kuharap iya. Mimpi-mimpi mu masih harus kamu cicil satu per satu. Tentu saja, aku mendoakan semuanya terwujud. Chibird bilang: Progress isn’t linear. It’s okay if you get stuck or fall back. Just keep moving forward! Kalau kamu ngerasa sepi, ada Allah tempat kamu cerita 24/7. Semoga Allah selalu ngasi kamu kesehatan dan semua peluhmu Allah hitung sebagai ibadah. Aamiin.
Love has no border. :’)
Aku.
“Fokus”. Begitu bisikku pada diriku sendiri. Beberapa hari belakangan fikiranku memang tak menentu. Hatiku kadang terasa begitu keras, beberapa saat kemudian aku bisa merasakan kekecewaan yang mendalam dan terasa seperti berada pada titik paling bawah.
“Aku mengerti“. Begitu kata fikiranku yang mencoba menenangkan degup jantung yang tetiba mulai tak berirama. “Tenanglah wahai kamu“. Bisiknya lagi. Kemudian, jantung perlahan mulai tenang.
Jika tak ada aral melintang, suatu hari nanti akan kuucapkan. Langsung. Di hadapanmu. Memandang tepat pada mata mu. Tersenyum kecil. Kemudian, aku mencintaimu.
Alodia Yusuf
Telah ku utarakan. Tak perlu kau membalas, aku hanya butuh didengar.
Alodia Yusuf
Kita berdua pernah bermimpi akan masa depan bersama. Bedanya sekarang, kamu sudah terbangun dari mimpi itu sedangkan sampai saat ini aku masih terlelap di dalam mimpi itu.
Andira W.
Bandung, 15 Februari 2019.