Aku menatap ke luar jendela. Langit hari ini cerah, tapi entah kenapa tak sejalan dengan perasaan yang aku rasakan. Mood-ku tak sejalan dengan sinar matahari yang seharusnya dapat menghangatkan hati setiap orang.
Aku merasakan hangat lengan yang melingkari tubuhku. Aroma samponya dapat kucium meskipun dia memelukku dari belakang.
“Apa yang sedang kamu pikirkan?” seseorang yang kini memelukku dari belakang bertanya dengan suara beratnya.
“Aku? Tidak ada. Hanya ingin melihat sinar mentari lewat celah kamarmu.” Seseorang—pria itu sekarang terdiam, mengarahkan sepasang netranya untuk melihat hal yang sama denganku.
“Tidak. Aku hanya ingin di kamarmu saja. Lagipula sebentar lagi sepertinya akan hujan. Aku rasa.”
Tak ada suara. Hanya keheningan yang menyelimuti kami berdua ditambah dengan tetesan air yang mengalir dari keran kamar mandi. Sepertinya Luhan saat ini menyukai ketenangan yang kami buat, tapi tidak untukku.
“Luhan.” aku memanggil nama pria yang tetap memelukku pelan. Dia hanya bersuara “Eum” untuk menjawab panggilanku.
“Tidakkah ingin kamu akhiri semua ini?” kataku pelan, sangat pelan hingga aku tak yakin jika Luhan akan mendengarnya.
Hening lagi. Tak ada suara yang Luhan keluarkan, dia masih tetap dalam posisinya yang sama. Aku tersenyum miris melihat tak ada perubahan yang berarti dari Luhan. Selalu seperti ini dan ini menyakitkan salahsatu organ di dalam dadaku. Sesak sekaligus sakit.
“Jangan lupakan jaketmu dan jika sudah sampai ke rumah orangtuamu, kabari aku.”
“Eum. Aku berangkat. Jangan keluar malam-malam dan jangan lupa habiskan makananmu. Aku tidak ingin kamu berdiet lagi, ngomong-ngomong tidak menyenangkan memeluk pinggang seseorang yang mengecil beberapa senti.” Aku memukul pelan lengannya, balasan dari candaannya. Luhan meringis kecil lalu tertawa menerima pukulanku dengan senang hati.
“Bye, aku akan mengabarimu jika sudah sampai rumah orangtuaku.” Ujarnya sambil mengecup puncak kepalaku.
Aku melambaikan tanganku untuk menyertai kepergiannya yang pulang ke rumah orangtuanya di Busan. Menatap sendu kendaraan yang pria itu gunakan selama 3 tahun terakhir ini. Aku pasti akan merindukannya.
Aku sudah sampai di rumah kedua orantuaku.
Kamu sudah makan? Disini dingin, aku merindukanmu.
Aku tersenyum melihat pesan singkat yang Luhan berikan padaku. perlahan aku mengetikkan beberapa kata untuk membalas pesan Luhan.
Benarkah? Kalau begitu aku tidak salah menyuruhmu untuk memakai jaket, Lu.
Nyalakan pemanas ruangan di kamarmu jika itu memang dingin.
Dan kita baru berpisah 5 jam lalu, Tuan. Jangan selalu mengirim pesan yang tidak perlu =_=”
Meski egoku terlampau tinggi. Tapi aku akui jika aku juga merindukan sososknya. Selama hampir dua tahun ini dia selalu bersamaku dan setiap aku membuka mataku orang pertama yang aku lihat adalah Luhan. Sebegitu besarnyakah aku mencintai sosok Xi Luhan?
Baiklah nona, aku tidak akan mengatakan hal yang tidak perlu.
Lalu apa yang sedang kamu lakukan tanpa aku disana? Kamu pasti kesepian.
Hanya melihat langit sambil memakan makananku, tuan Luhan.
Aku menyimpan handphone-ku di meja nakas tempat tidur. Mataku kini menatap langit yang sepertinya sebentar lagi akan hujan.
Benar seperti perkiraanku, hujan turun membasahi dan itu membuat suhu udara semakin dingin. Aku melangkahkan kakiku, mengambil sweater dari dalam lemari pakaianku. Hujan kali ini memberikan kesan dingin untuk pori-pori kulitku.
Aku menerawang jauh ke masa satu tahun yang lalu. Pertemuan pertama aku dan Luhan.
Lelaki itu bernama Xi Luhan. Dia berasal dari Cina sesungguhnya, tetapi saat sekolah menengah pertama keluarga Luhan pindah ke Busan. Lalu semenjak kuliah, Luhan memutuskan untuk meneruskan kuliahnya di Seoul, di universitas yang sama denganku.
Musim gugur dua tahun lalu kami bertemu untuk pertama kalinya di perpustakaan universitas. Luhan dari fakultas managemen dan aku dari fakultas seni. Tak ada yang istimewa dari pertemuan kami, hanya pertemuan singkat dengan pandangan mata. Pandangan mata yang hanya beberapa detik itu mampu menyelami ruang paling dalam diantara kami. Hingga Luhan mengejarku dan mengajakku untuk berkenalan. Kami akhirnya menjadi sepasang kekasih setelah beberapa bulan mencoba saling mengenal. Tapi dua bulan lalu aku mendapat kabar, jika Luhan dijodohkan oleh kedua orangtuanya. Dia dijodohkan dengan seorang gadis teman ayahnya dan Luhan tidak menolak perjodohan itu. Aku tertawa miris setiap kali mengingat keputusan sepihak Luhan. Dia berkata jika dia juga menyukai gadis itu dan tidak ingin mengecewakan kedua orangtuanya, tapi dia tidak bisa melepasku begitu saja. Dan mirisnya, aku menerima keputusan Luhan menduakanku. Meskipun sakit terduakan, tapi aku tidak mempedulikan sakit itu karena cintaku untuk Luhan. Lagipula aku sadar, orangtua Luhan tak akan pernah menerimaku. Sampai kapanpun.
Aku terlonjak kaget saat menyadari jika ponselku bergetar, menandakan ada pesan masuk yang menuntutku untuk segera membacanya.
Jangan menghubungiku untuk sementara. Seohyun datang mengunjungi orangtuaku.
Aku tersenyum miris dan tak terasa pipiku basah dengan cairan hangat yang keluar dari kedua mataku. Aku sepertinya tanpa sadar menangis.
Kakiku melangkah ke atas kasur dan badanku mulai meringkuk. Selalu seperti ini. Tidak bisakah hanya aku satu-satunya?
Lu, aku mencintaimu. Tapi kenapa? Tidak bisakah kamu memilih salah satu diantara kami?