Ada cerita (yang menurut saya) inspiratif di balik adegan jepret manja di kawasan Wisata Kota Tua Jakarta ini. Sepeda biru yang menjadi properti foto ini kami sewa seharga Rp20,000/20 menit dengan 1 dari sekian banyak bapak penyewa sepeda di sana. Cuaca panas menyengat dan kondisi tubuh yang saat itu sebetulnya sedang tidak fit membuat saya tak mampu berlama-lama menggowes sepeda. Walhasil, tak sampai 20 menit, sepedanya kami kembalikan ke si bapak. Tapi sebelum sepedanya dikembalikan, minta difotoin dulu dong sama si bapak 😁
“Pasti jarang olahraga ya”, tuduh si bapak. Ih bapak tuduhannya kok betul pak 😂🙈
“Saya tadi pagi nganterin 15 dokter pake sepeda”, cerita si bapak. Sungguh emejing. Padahal postur si bapak tak lebih besar daripada bodi saya maupun suami. Tapi staminanya memang tampak prima. Inspirasi pertama yang saya petik dari bapak ini adalah: Rajin-rajinlah berolahraga.
Lalu saya bertanya ke si bapak. “Pak, di sini kan museum kalo hari senin tutup. Itu penyewaan sepedanya ikut tutup juga atau tetap ada pak?”. “Tetap bu. Kita mah tiap hari buka. Kapan mau libur ya kita libur”, begitu jawab si bapak. “Waah mantap bapak. Pengusaha ya pak, bebas mau buka tutup kapan saja”, kata saya. “Yaa gitu lah bu. Mudah-mudahan cukup buat biaya daftar haji”. Saya dan suami pun mengaminkan kencang-kencang sembari mendoakan supaya si bapak selalu sehat dan usahanya berkah. Siang itu tak hanya badan saya saja yang hangat akibat demam ditambah terpapar terik matahari ibu kota. Hati saya pun jadi ikut hangat ketika si bapak menyebutkan impiannya secara gamblang.
Kami dibuat takjub oleh bapak penyewa sepeda yang ternyata menyimpan impian ultimate dan esensial di balik profesinya yang mungkin, dinilai kecil dan dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Daftar haji. Sebuah mimpi yang seyogianya menjadi PRIORITAS seluruh umat Islam karena merupakan 1 dari 5 rukun Islam.
Apalagi saat ini, antrean berangkat haji di berbagai daerah di Indonesia kian mengular. Mencapai belasan, bahkan puluhan tahun. Semakin ditunda daftarnya, semakin panjang pula antreannya. Sementara kita tak pernah diberi clue, akan sampai di angka berapa usia kita. Ikhtiar mendaftarkan diri untuk beribadah haji, either or not kelak terealisasi, semoga dicatat Allah sebagai amal sholih bahwa kita sudah bertekad untuk berhaji.
Ayo sama-sama memperkuat azzam untuk berhaji, insyaallah akan dibantu langsung oleh Allah. Jika saat ini belum terkumpul nominal yang cukup untuk mendaftar, saya doakan semoga Allah semakin mudahkan rezeki yang barokah dan jalan yang mulus untuk mendaftar.
Kalau saat membaca tulisan ini teman-teman termasuk hamba Allah yang baligh, sudah punya tabungan yang cukup sebagai syarat daftar haji, dan sedang tak ada kebutuhan mendesak dengan tabungan tersebut, bergegaslah mendaftar. I mean it. I really mean it. Jangan tunda-tunda lagi, usah ragu menyambut panggilan Allah untuk beribadah di tanah suci.
Kalau sudah terkumpul dananya dan langsung ingin mendaftar besok atau lusa, bisa dimulai dengan membaca dan menyiapkan beberapa dokumen di postingan ini: prosedur daftar haji.
Bagi yang sudah mendaftar dan sedang menanti tahun keberangkatan, semoga Allah karuniakan sehat dan selamat, fisik, mental, dan finansial. Aamiin ya Allaah. Labbaikkallahumma labbaik…
Bersepeda ke Tanah Suci Ada cerita (yang menurut saya) inspiratif di balik adegan jepret manja di kawasan Wisata Kota Tua Jakarta ini.