https://soundcloud.com/dionecia-tyas/kasih-tak-sampai-padi-cover

seen from Chile

seen from France
seen from China
seen from United States

seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from Netherlands
seen from Venezuela

seen from Brazil

seen from Mexico

seen from India

seen from Switzerland
seen from Mexico
seen from United States
seen from United States
@dioneciatyas-blog
https://soundcloud.com/dionecia-tyas/kasih-tak-sampai-padi-cover
https://soundcloud.com/dionecia-tyas/talking-to-the-moon-bruno-mars-cover
#2 : semarang -> packing selesai :) with Brigita at Telaga Bodas Raya – View on Path.
Td siang, anak berumur 6 taun bernama tivo nyelipin kertas ini dibawah pintu.. entah apa yg ada dipikirannya tp lucu aja sih.. at Telaga Bodas Raya – View on Path.
Listening to One Last Cry by Brian McKnight
at Jogging Track Akpol – Preview it on Path.
#1 : semarang-bukit gombel – View on Path.
#1 : semarang -> kegiatan pertama, bikin kamar adek terlihat kumuh.. hahaahahah with Brigita at Telaga Bodas Raya – View on Path.
Pilihan
Hidup itu Pilihan..
Banyak orang kalau menasehati orang yang sedang dalam persimpangan dengan kata-kata itu..
Hidup itu Pilihan, setiap pilihan ada konsekuensinya..
Memang begitu adanya namun dalam memilih sebuah jalan kehidupan itu tak hanya sekedar memilih dan menikmati konsekuensinya..
Kita butuh pengalaman dan pengetahuan..
Dalam hidup, kita memang harus memilih mati sebagai apa..
Mati sebagai pecundang atau mati sebagai pemenang..
Saya yakin setiap orang pasti ingin mati sebagai pemenang tentunya..
Tapi setiap pilihan itu punya alasannya sendiri akan mengantarkan kita kemana..
Tak ada orang yang lahir langsung menjadi pemenang..
Semuanya butuh proses dan pengalaman yang panjang..
Orang tidak akan tahu rasanya jadi pemenang kalau dia tidak merasakan jadi pecundang..
Mungkin hal tersebut tidak berfungsi sekarang ini..
Setiap strata masyarakat sudah memiliki kriteria pemenangnya masing-masing..
Orang yang punya rumah, penghasilan tetap dua digit setiap bulannya dan memiliki segala macam kebutuhan tersier adalah pemenang..
Tapi tidak buatku..
Seorang pemenang adalah seorang yang mati bersyukur..
Bersyukur dengan hidupnya, bersyukur dengan setiap keringat yang dikeluarkannya, bersyukur dengan setiap tetes air mata yang mengalir, bersyukur dengan apa yang didapatnya selama hidup..
Ketika masuk sekolah dasar biasanya kita memang belum bisa memilih mau bersekolah dimana karna kita belum memiliki pengalaman dan pengetahuan..
Tapi semakin dewasa kita akan semakin banyak pilihan yang akan dihadapkan pada kita..
Mulai dari memilih mau jadi apa kita, seperti apa pasangan hidup kita, dan mau mati seperti apa kita nanti..
Semua pilihan itu biasanya akan dipengaruhi oleh lingkungan sekitar kita terutama kedua orangtua kita..
Bersyukurlah kita yang memiliki orangtua yang pikirannya sudah terbuka dan pikirannya tak lagi kolot, yang menyerahkan semua pilihan pada kita tanpa memaksakan kehendak mereka..
Mau jadi apa kita nanti?
Pasti semua orang ingin bahagia bukan?
Dan untuk mencapai bahagia itu kita harus memilihnya dengan hati agar kita bisa total melakukan apapun pekerjaan kita..
Tapi ada beberapa orang diluar sana yang tak mendapatkan kesempatan untuk memilih ingin jadi apa mereka..
Ketika kesempatan tak datang menghampiri, hanya satu yang bisa dilakukan..
Bersyukur,,
Ketika kita bersyukur sudah otomatis kita akan melakukan pekerjaan apapun dengan hati..
Seperti apa pasangan kita nanti?
Yang cantik/ganteng kah?
Yang punya uang banyak kah?
Sepertinya cukup dengan pasangan yang memilih kita dengan hati deh..
Setidaknya seperti itulah yang ada dipikiran saya saat ini..
Bagaimana kita akan mati?
Mati itu memang urusan sang pencipta tapi itu juga urusan kita si pemilik raga..
Apa kita sudah menjaga raga ini dengan baik?
Kalau kita sudah menjaga raga ini dengan baik sudah pasti kita akan mati dimakan usia..
Kalau kita tidak menjaga raga ini dengan baik, kemungkinan besar kita akan mati muda..
Urusan mati saat ini juga sudah banyak pilihan kok..
Mau mati dimakan usia, mau mati karena penyakit, mau mati karena dibunuh, atau mau mati bunuh diri?
Itu semua pilihan dan tergantung pada amal-perbuatan kita sebelumnya..
Memilihlah dengan hati, bukan dengan nafsu ataupun emosi..
Pada akhirnya kita hanya bisa bersyukur dengan apa yang terjadi pada diri kita..
Jadikan pengalaman dan memilih lebih baik lagi :)
Jogjakarta
Mendengar nama kota ini selalu membuatku sumringah..
Selalu ada setitik kerinduan pada kota ini ketika kepenatan sudah datang berkunjung..
Selalu saja ada banyak cerita dari setiap sudut Jogjakarta..
Malam ini, aku menginjakkan kakiku di stasiun tugu Jogjakarta..
Tak ada tujuan yang jelas, hanya ingin menghilangkan sedikit kerinduan pada orang-orang yang ada didalamnya..
Dan terutama kamu!
Kamu yang membuat Jogjakarta lebih berwarna semenjak ada kamu didalamnya..
Kamu yang terbaik untukku sejak 12 tahun yang lalu..
Malam ini aku hanya berbalutkan sebuah kaos tipis, celana pendek, dan sepatu converse..
Isi ranselku pun tak banyak, hanya ada selembar kaos, laptop, kamera dan sebuah buku catatan..
Aku tak akan berlama-lama dikota ini..
Aku hanya ingin menjenguk kenangan kita saja..
Angin dingin membelai lembut tubuhku, sangat lembut..
Aku memulai langkah kakiku di sepanjang jalan malioboro..
Suasana Malioboro ini tak pernah berubah, selalu ramai..
Tapi, ada yang berubah dari aku, dari kita!
Kita tak lagi bisa berbagi seperti beberapa waktu yang lalu..
Aku rindu pada Jogjakarta dikala itu, dikala masih ada kamu didalamnya..
Aku tak tahu kemana lagi aku harus mencarimu ketika aku rindu..
Aku sudah mencarimu disetiap sudut senja yang selalu kita jumapi dulu..
Aku sudah mencarimu dikotamu ini, tapi tak kunjung juga kutemukan dirimu..
Entah harus pergi kemana lagi, tapi aku yakin kamu tahu kalau aku sangat merindukanmu!
Aku rindu saat-saat bersamamu, saat ketika kita tertawa hingga menangis bersama, saat kita harus kena hukum disekolah, saat kita merasa kecewa karena senja yang datang tak seindah yang kita harapkan..
Mungkin kerinduan itu yang membawaku kesini, ke Jogjakarta ini..
100 hari sudah kamu pergi meninggalkanku untuk selamanya..
Dan 100 hari itu adalah 100 hari yang berat untukku..
Tapi ketika aku sudah merasa berat, aku selalu ingat pada pesanmu, “Nikmati saja setiap prosesnya”
Aku selalu berusaha menikmati 100 hari tanpamu ini..
Aku menikmati setiap tetes air mata yang mengalir..
Aku menikmati rasa rindu yang teramat dalam..
Aku menikmati setiap sayatan yang ada dihatiku ini..
Aku tak mengharapkan apapun, aku hanya ingin kamu tenang disana dan bahagia dengan pilihanmu :)
Jogjakarta, 25 April 2015
https://soundcloud.com/dionecia-tyas/you-raise-me-up-josh-groban-cover
23.30 : Bogor ; 05.15 : anyer ; 12.00 : balik bogor lagii #saraaapp – View on Path.
Masiiih :D – View on Path.
Soksokan :D with JOHANES – View on Path.
ketika kita manggung (lagi) :D with JOHANES – View on Path.
Thought via Path
day 27 : bye solo;hello tasik :) – Read on Path.
mendadak rindu deeehhh... with Dian Tami and sapira at Perpustakaan Pusat UNS – View on Path.
At Perpustakaan Pusat UNS
awas gilaaakk!!! hello solo :) – at Perpustakaan Pusat UNS – See on Path.