Bacaan ini menggunakan perspektif muslim dan value dalam agama.
Luka yang pernah kita miliki di masa lalu, karena keluarga, karena kejadian-kejadian tertentu, karena pengalaman buruk, biarlah ia berlalu. Kita hanya perlu menerimanya dengan hati yang lapang bahwa itu memang bagian dari diri kita. Tidak perlu kita bawa terus menerus ke hari ini. Kita bawa agar orang merasa kasihan dengan diri kita, kita bawa untuk membenarkan semua pandangan-pandangan hidup kita, kita bawa untuk menjadi pembenaran dari hal-hal yang sebenarnya tidak patut kita lakukan saat ini.
"Kayak kamu tahu aja jadi aku!"
"Kamu kan gak menjalani apa yang aku jalani, jangan sok tahu!"
Melupakan bahwa kita bertumbuh, bahwa kita berada dalam sebuah koridor-koridor keimanan sebagai seorang muslim. Sehingga, tidak semua pemikiran yang menurut kita benar itu juga benar dan boleh dalam perspektif kita sebagai seorang muslim.
Semua luka dan trauma menjadi pembenaran untuk semua pandangan yang kemudian kita ajukan kepada orang lain untuk juga sepakat bahwa tidak apa-apa demikian, padahal kata islam tidak demikian. Dan itu sering sekali kutemukan, bertebaran di media sosial.
Toleransi kita terhadap pemikiran yang keluar dari islam jadi semakin besar, karena menganggap itu adalah buah dari pengalaman. Lupa bahwa dalam menjadi seorang muslim, mau seluruh manusia di dunia ini mengatakan bahwa daging babi adalah halal tapi jika menurut Allah haram, maka semua pendapat manusia itu tidak penting.
Pun demikian dengan pemikiran kita sendiri, saat kita menganggap itu tidak apa-apa dan boleh saja, pemikiran kita tidak berarti sama sekali kalau Allah mengatakan itu tidak boleh dan tidak sesuai.
Luka-luka yang kita miliki, jangan sampai membuat kita mengagungkan cara berpikir kita sendiri, mengagungkan pemikiran kita yang seolah-olah sangat modern dan terbuka. Sampai berpikir bahwa semua orang harus memiliki pemikiran itu agar hidup mereka bahagia.
Lupa bahwa kita berjalan di atas pijakan seorang muslim, yang menyatakan bahwa kita harus berpikir sekaligus bertakwa. Tidak hanya menjalani kehidupan beragama hanya dengan perasaan saja.
Luka-luka yang telah menjadi trauma yang mendalam, jangan sampai membuat kita kehilangan iman dan islam. Anugrah yang sebesar itu, kini kita merasakan seperti menggenggam bara api. Meski demikian, jangan dilepaskan.
(c)kurniawangunadi