Here's a bonus comic from my latest Words of Wonder post. Read the full piece here:
https://incidentalcomics.substack.com/p/words-of-wonder-emily-dickinson
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

Kiana Khansmith

⁂
ojovivo

Discoholic 🪩
Cosimo Galluzzi
Keni

JVL
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

tannertan36
almost home
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
One Nice Bug Per Day
Game of Thrones Daily

No title available
Three Goblin Art

roma★
we're not kids anymore.

if i look back, i am lost
Jules of Nature

seen from Uzbekistan
seen from Uruguay
seen from United Kingdom

seen from Russia

seen from Germany

seen from Russia
seen from Singapore

seen from Vietnam
seen from Bangladesh
seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Malaysia

seen from Ukraine
seen from Germany
seen from United States

seen from Romania

seen from United States

seen from South Korea
seen from Canada
@dodyarya45
Here's a bonus comic from my latest Words of Wonder post. Read the full piece here:
https://incidentalcomics.substack.com/p/words-of-wonder-emily-dickinson
Ibu-ibu dan bocah pemain layangan
Selesai menunaikan sholat dzuhur di surau, salah satu jamaah ibu-ibu di belakang berkomentar sembari melihat anak-anak yg sedang bermain layangan di tengah sawah sana, komentarnya kurang lebih seperti ini "apa mereka nggak kepanasan ya ?, main layangan siang bolong begini".
Orang-orang mempunyai sudut pandang dan pendapat masing-masing dalam menilai apa yg dikerjakan orang lain. Setidaknya itulah yg aku pikirkan ketika mendengar komentar ibu-ibu tersebut.
Sebagai mantan bocah aku tau betul bagaimana asiknya bermain layang-layang, orang-orang mungkin melihatnya menderita karena berpanas-panasan di bawah terik matahari, tapi bagi seorang anak kecil itu bukanlah apa-apa bila dibandingkan kebahagiaan dan kesenangan yg didapatkan dari bermain layang-layang.
Satu hal yg perlu dipahami, orang dewasa dan anak-anak memang memiliki pola pikir yg berbeda, orang dewasa mulai menumbuhkan jiwa kasih sayang (keibuan/kebapakan) sedangkan anak-anak memiliki jiwa yg masih suka bermain dan bersenang-senang.
Orang-orang memiliki sudut pandang dan pendapatnya masing-masing dalam menilai usaha orang lain. Bisa jadi yg kau lihat menderita dalam berjuang dan berusaha sesungguhnya tidak merasa demikian, bisa jadi dia malah senang dan bahagia.
Rumah, 22 Agustus 2019
Tentang Rasa Syukur
Di suatu lampu merah, dari balik jendela mobil tampak di kejauhan seorang pengemis dengan wajah memelas menodongkan tangan dari pengendara yg satu ke pengendara lainnya.
Aku mulai tenggelam dalam duniaku sendiri, tenggelam dalam pikiran, melihat kejadian itu aku mulai bertanya kepada diriku sendiri, "bagaimana kalau aku berada dalam posisi beliau ?, akankah aku masih bisa menyempatkan diri beribadah, menuntut ilmu, bersedekah, travelling dan hal-hal lainnya yg bisa aku lakukan sekarang ?". Bisa jadi kalau aku berada dalam posisi beliau, aku mungkin lebih buruk daripada beliau dan tentunya bisa jadi lebih buruk daripada aku yg sekarang.
Semakin hari nikmat-nikmat yang aku dapat mulai terasa biasa dan rasa syukur semakin tak bermakna, sepertinya aku perlu sering-sering mengingatkan diri. Nikmat-nikmat yg kurasa kecil itu hakikatnya tetaplah sebuah nikmat yg patut disyukuri dengan sepenuh hati. Terasa kecil karena aku mungkin tak paham seberapa berharga nikmat tersebut. "Aku harus lebih sering melihat ke bawah, aku harus lebih sering bersyukur", gumamku.
Rumah, 11 Agustus 2019 | Idul adha
Starry night
Salah satu yg aku paling suka ketika pulang adalah menikmati langit malam. Berjalan menuju surau untuk menunaikan sholat isya/subuh sembari menengadahkan kepala ke langit di tengah sepinya jalanan kampung yg dikelilingi hamparan sawah, sejenak memejamkan mata sembari menarik nafas dalam-dalam menikmati segarnya udara yg masih minim polusi, menyegarkan dan menenangkan. "Benda-benda langit beredar pada tempat dan waktu yg telah ditentukan, begitu juga diriku." Gumamku dalam hati.
Rumah, 09 Agustus 2019.
Nak, kalau bapak sudah tidak ada nanti, kamu salah satu harapan bapak
Kalimat yg disampaikan bapak ku setelah pemakaman salah seorang kerabat. Kalimat yang mungkin setiap anak sudah tahu sebelumnya, setidaknya begitulah menurutku, bahwa setiap anak pasti tahu bahwa mereka adalah harapan dari orang tuanya meskipun tidak pernah terucapkan. Meskipun sudah tahu tapi rasanya beda ketika beliau mengungkapkannya. Jleb... kalimat itu langsung tepat menghujam and I can't hold my tear anymore.
Kita tidak benar-benar memilih. Sebab, kemudahan kita dalam berpikir, menyeleksi pilihan dan mengambil keputusan, itu pun tidak serta merta sepenuhnya berasal dari diri kita sendiri. Kita dituntun-Nya dan dimudahkan-Nya. Meski mungkin tanpa kita sadari.
(via ceritanovieocktavia)
Jadi teringat dengan hadits ini, seakan menyemangatiku untuk terus berusaha, berjuang, dan sekaligus hadits yang menenangkanku. Kalau udah takdir meskipun sekarang masih agak berat pasti nanti akan ada kemudahan.
“Berusahalah kalian karena setiap orang akan dimudahkan kepada sesuatu yang diciptakan baginya”
Random Thought : Komunikasi
Ketika dalam satu grup bimbingan saling lempar, tidak ada yang mau menghubungi dosen pembimbing. Padahal yang belum bimbingan mereka dan yang butuh bimbingan juga mereka, dan posisinya pun sudah malam, karena sudha lama nggak ada yang bersedia dan tidak menemukan titik temu diantara mereka-mereka yang belum bimbingan, akhirnya ya udah dari pada semakin malam (karena nggak sopan buat mengganggu dosen kalau sudah terlalu malam), ya udahlah biar gua yang menghubungi walaupun gua udah bimbingan.
Aku paham kenapa mereka saling lempar satu dengan yang lain, mungkin karena mereka nggak mau repot, mungkin karena mereka takut dengan dosen, mungkin karena mereka takut membuat kesalahan. Aku dulunya juga sering sekali seperti itu, nggak mau repot (kalau bisa orang lain yang mengerjakan kenapa harus aku pikir ku), merasa takut ketika harus berhubungan dengan orang yang memiliki jabatan atau status yang lebih tinggi, merasa takut berbuat kesalahan.
Sekarang rasa itu sedikit demi sedikit sudah mulai memudar, pekerjaan ku banyak memberikan pengalaman yang merubah bagaimana aku berinteraksi dengan orang lain. Menghadapi banyak orang dengan berbagai macam karakter dan latar belakang membantuku sedikit demi sedikit mulai terbiasa dengan hal tersebut. Prinsip yang selalu aku pegang ketika berinteraksi dengan orang lain adalah (1) Mereka adalah manusia dan aku juga manusia, karena mereka adalah manusia mereka bisa marah, karena mereka adalah manusia mereka bisa memaafkan, karena mereka adalah manusia aku tidak bisa mengontrol hati mereka, aku tidak bisa tahu dengan pasti apa yang mereka rasakan. Oleh karena itu aku hanya bisa mengontrol diriku, salah satunya dengan menjaga adabku dengan adab yang sebaik mungkin dan karena aku adalah manusia adalah wajar apabila sesekali aku mungkin berbuat salah dan wajar bagiku tidak bisa sesuai ekspektasi semua orang. (2) Memahami posisi, dalam interaksi aku selalu mengingatkan diriku tentang posisi. Aku sebagai apa ?, aku sebagai pelayan kah, aku sebagai mahasiswa kah, aku sebagai bawahan kan, pun aku sebagai hamba kah. Mengingatkan diri tentang posisi dan memahami apa saja yang seharusnya dilakukan dan seharusnya tidak dilakukan, memahami batasan-batasan. (3) Mengenali karakter, kalau paham karakter seseorang kamu bakalan lebih baik lagi ketika berinteraksinya dengannya, dengan memahami karakter kamu bisa lebih menyesuaikan diri dan menggunakan gaya komunikasi yang lebih tepat. Misalnya atasanku kurang suka kalau bawahannya itu kayak takut-takut kalau mau berinteraksi dengan dia, dia lebih suka kalau bawahannya menganggapnya kaya sama-sama temen, jadi aku memposisikan diri lebih ke teman bukan bawahan (tapi jangan kebabalasan mentang-mentang dianggap teman).
Memahami tiga hal ini membuatku lebih tenang dan lebih nyaman dalam berhubungan dengan orang lain, walaupun orang lain tersebut memiliki status yang lebih tinggi dariku. Sebenarnya intinya sih berani aja, nekat, nggak usah terlalu takut, mereka juga manusia.
Tangsel, 24/07/2019
Bahkan kadang jarak pun dipertanyakan, bukan karena terlalu jauh ataupun karena terlalu dekat, mungkin hanya waktunya saja yang kurang tepat.
Apaan sih... Mendadak melow melihat coretan-coretan bertinta merah
Tentang Perasaan Orang Tua
Beberapa hari ini di kampus sedang berlangsung Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB), jadi di kampus lagi ramai-ramainya karena banyak calon maba yang diantar oleh orang tua ataupun kerabat mereka.
SPMB beberapa tahun belakangan ini mulai menggunakan sistem Computer Assisted Test (CAT) sehingga calon maba sudah bisa mengetahui hasil tesnya secara langsung ketika sudah menyelesaikan tes tersebut. Orang tua atau kerabat yang mengantar juga bisa melihat hasil tesnya secara real-time melalui layar yang disediakan di luar ruangan. Ada ekspresi bahagia dan ada ekspresi sedih yang tampak di wajah orang tua mereka ketika hasil akhir mulai ditampilkan di layar.
Orang tua selalu berusaha menjadi sosok terbaik bagi anak-anak mereka, ekspresi sedih yang tadi ku lihat seakan sirna berganti ekspresi lain, entah itu menyemangati, menenangkan, dan ekspresi lainnya tatkala anak-anak mereka keluar dari ruang ujian. Beberapa tak sanggup menjaga ekspresi mereka tatkala sang anak keluar ruang ujian dengan kepala tertunduk dan air mata yang mulai bercucuran. Satu hal yang pasti, orang tua selalu mencoba menenangkan, selalu mencoba agar anak-anak mereka merasa baik-baik saja, “tidak apa-apa, masih ada lain kali” hibur mereka dengan wajah yang berusaha dibuat semenenangkan mungkin.
Dalam hati, aku bergumam “kamu mungkin sedih karena gagal, tapi orang tua mu jauh lebih sedih lagi karena menyaksikan mu bersedih karena gagal. Nanti-nanti ketika kamu gagal berusaha lah untuk tetap kuat dan tegar karena kamu tau kesedihanmu bisa jadi kesedihan orang tuamu.”
Sedih dan senang yang kita rasakan mungkin tidak lebih besar dari perasaan sedih dan senang orang tua kita.
Tangsel, 14 Juli 2019
Adik saya yang terakhir harus menunda kuliah 3 tahun. Gagal SBMPTN terus karena mengejar akuntansi dia mengakui sangat tidak jago matematika, sementara apapun jurusannya harus di tes matematika! Ah sabar ya dik hehe. 3 tahun untuk bertemu dengan bakat yang sesungguhnya yakni menggambar dan menyeketsa wajah.
Tahun ini dia masuk desain komunikasi visual. Sebuah penemuan yang takkan ditemukan bila tidak melalui tiga tahun yang panjang penuh dengan mempertanyakan diri. Takut dianggap orang lain gagal. Tapi kami kakak kakaknya sebagai ekosistem yang dimilikinya, senantiasa meyakinkan dia. Bahwa dia bukan bodoh, bukan tak berbakat. Hanya berbeda dengan kami berdua. Bakatnya memang bukan di science. Tapi di art. Sesuatu yang kami kira dulu dia hanya hobi memasak. Tapi ternyata ketekunan itu teramat cocok dengan mengukir wajah orang lain dengan indah di atas kertas. Selamat belajar di kampus baru dik. Stephen spielberg juga ditolak sampai batas tahun maksimal dari kampus yang dia inginkan. Kemarin kemarin kamu bukan gagal. Hanya sedang belajar menemukan dirimu yang sesungguhnya :)
Untuk yang sudah membuka pengumuman SBMPTN. Selamat untuk kelulusannya. Untuk yang belum, tenang Allah punya rencana yang jauh jauh lebih baik untukmu. Kamu hanya perlu bersabar untuk menemukannya :)
----
Akhir tahun 2018 gambar dia masih kami guyonin mirip buaya haha. Tapi dengan tekun dia belajar skill baru ini beberapa bulan terakhir. Dan voila! Ini masih awal perjalanan. Jalan di depan masih panjang. Bila timbul keraguan jangan berhenti dan menyesali diri. Yang benar terus maju dan mencari, terus bergerak Allah sayang kamu hingga takkan tega membiarkanmu tanpa memberikan jalan keluar. Bertemu dengan dirimu yang sejati, yang tanpa sadar kelak telah tumbuh menjadi sosok membanggakan yang tak terbayangkan sebelumnya.
Alizeti, Jakarta
Jadi semakin bersyukur bisa belajar dan masuk jurusan akuntansi
"Relax" salah satu mode yg aku bikin buat ngembaliin mood ketika pikiran lagi semerawut. Ketika mode "Relax" dipilih secara otomatis akan membuat rangkaian perintah seperti ini : Lampu utama mati -> Lampu LED hidup dengan brightness 65% dan warna yg kalem -> home assistant play murrotal atau suara hujan.
Murrotal dan suara hujan, dua hal yg menurutku paling ampuh membuatku tenang dan nyaman. Menikmatinya sambil rebahan di atas tempat tidur sembari memejamkan mata di suasana kamar yg telah diatur sedemikan rupa (kayaknya kalau ada pengharum ruangan beraroma hujan bakal lebih mantap lagi) selalu efektif membuat nyaman dan menenangkan.
Suatu hari mungkin ada yg lebih bisa membuat nyaman dan menenangkan, kehadiran mu dan suara mu misalnya.
Kata orang, apapun keadaannya pasti selalu ada yang bisa disyukuri
Sewaktu SMA dulu, di perjalanan sepulang sekolah aku pernah menabrak anjing. Kalian tahu apa yang orang-orang katakan setelah itu ?, mereka berkata “untung cuma lecet doang”, “untung motornya nggak apa-apa”,”untung nggak ada mobil di belakang”, dan kalimat-kalimat lain semacam itu. Ada benarnya juga pikirku, bahkan dibalik kecelakan atau musibah tetap ada yang bisa disyukuri. Selalu ada yang bisa disyukuri, dan itu pastinya banyak. Mungkin kita hanya perlu merubah fokus berpikir kita sejenak, berpikir tentang hal-hal yang bisa kita syukuri daripada fokus hanya kepada masalah dan keluhan.
Dan sekarang aku bersyukur karena sakit ketika sedang libur, sakit ketika UAS telah selesai.
Milih Jurusan
Gimana milih jurusan itu?
1. Pilih yang kamu mau.
2. Pilih yang kamu mampu.
3. Pilih yang mau terima kamu.
Ini urutan prioritasnya.
Intinya, kamu harus punya ukuran. Kapan dan sampai mana kamu harus mengupayakan jurusan yang kamu mau. Kapan harus mulai mengincar jurusan-jurusan yang kamu ga mau tapi kapasitasmu mampu masuk disitu. Dan kapan kamu harus kompromi dengan jurusan dan kampus yang mau terima kamu apa adanya.
Sebenarnya bisa saja kamu terus mengupayakan jurusan yang kamu mau sampai dapat, tapi kalau misalnya sudah tiga tahun berlalu dan tak kunjung dapat, apa rencana kamu selanjutnya?
Ini yang dimaksud dengan kamu harus punya ukuran. Kapan kamu harus beralih dari satu rencana ke rencana selanjutnya. Karena setiap keputusan selalu ada konsekuensinya. Kalau kamu bikin keputusan dan gak siap dengan resikonya, kasihan dirimu sendiri pada akhirnya.
Nggak, ini bukan cuma soal otak. Ada kok orang pinter nilai bagus tapi gak dapet jurusan yang dia mau. Ada juga yang ngerasa minder sama dirinya eh ternyata keterima di jurusan/kampus favorit.
Kamu yang bisa ngukur kemampuanmu. Sekalipun keajaiban itu nyata, hitung-hitunglah secara cermat.
Mampang Prapatan | Taufik Aulia
Memilih jurusan, sesuatu yang pernah menjadi dilema dalam hidupku. Masa-masa dipenghujung kehidupan sebagai murid SMA, jujur saja aku masih bingung menentukan mau kuliah jurusan apa, dan dimana. SNMPTN dan SBMPTN milih jurusan yang kayaknya sesuai degan hobi dan bakalan aku suka, milihnya pun di PTN yang namanya sudah terkenal karena kayaknya nilaiku nggak jelek-jelek banget buat bisa masuk. Tapi pada akhirnya gagal juga, dan teman-teman yang lain pun sudah diterima di kampus-kampus yang dituju, tapi dilema ku bukan karena itu, dilema ku lebih kepada aku nggak ingin bikin orang tua ku kecewa. Berat rasanya ketika pengumuman SNMPN dan SBMPTN mengabarkan mereka kalau aku tidak diterima. Samar-samar terlihat raut wajah khawatir yang ditutupi senyum penyemangat karena anaknya tidak lulus.
Aku masih ingat kalimat penyemangat orang tua ku ketika aku gagal dulu, mereka bilang “masih ada yang lain, coba lagi. mungkin itu bukan yang terbaik buatmu”. Akhirnya setelah itu aku mencoba ikut ujian masuk salah satu PTK, yang sebenarnya pada saat itu aku nggak tahu PTK itu seperti apa, jurusan-jurusannya seperti apa (nggak ada sosialisasi tentang PTK itu di sekolah), cuma ikut-ikutan temen buat daftar. Tapi pada akhirnya aku lulus dan diterima di PTK tersebut.
Diterima di PTK itu bisa dibilang babak baru dalam kehidupanku, berkuliah dijurusan yang sudah dipilihkan, dengan mata kuliah yang sudah ditentukan, setelah lulus pun ditempatkan di tempat yang dipilihkan. Ya... mungkin terlihat menyedihkan karena tidak punya pilihan, tapi disitulah bagian terbaiknya... belajar menerima apa yang telah ditentukan, semacam memperkaya pengalaman dan pemahaman. Senang rasanya menguasai ilmu yang sebelumnya nggak kebayang bakal dipelajari, senang rasanya berada ditempat yang sebelumnya mungkin nggak kepikiran buat didatengin, senang rasanya bertemu dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda-beda.
Melihat ke masa-masa itu membuatku lebih bersyukur, membuatku berpikir kembali tentang bagiamana menyikapi kegagalan. Aku bersyukur dengan kondisiku saat ini, aku bersyukur diterima di PTK itu, dan aku bersyukur aku gagal di PTN, karena kegagalan itu aku bisa berada di tempatku yang sekarang ini, karena kegagalan itu aku bisa bertemu teman-teman ku, karena kegagalan itu aku bisa belajar dan memiliki pengetahuan dan pemahaman seperti saat ini. Kalau disuruh memilih kembali, mungkin aku akan tetap memilih kehidupanku yang sekarang.
Jadi, kalau gagal jangan langsung menyerah, kalau mendapat sesuatu yang tidak diinginkan jangan langsung merasa tidak cocok. Tidak selalu apa yang dipilikan itu tidak membahagiakan, mungkin hanya sementara, nanti-nanti kamu bakal terbiasa dan mulai menikmatinya. Kegagalan hari ini mungkin suatu saat akan kamu syukuri.
Tentang pilih-memilih aku memilihmu dan semoga kamu yang dipilihkan untuk ku.
ada orang yang bilang kalau rindu tak bertuan
tapi di sisi yang lain ia bertanya “apakah dia merasakan hal yang sama ?”
Kok aku jadi bingung si rindu ini datang dari mana kalau dia nggak punya tuan, siapa yang menciptakan ?. apakah tiba-tiba ada begitu saja dari ketiadaan ? hmm... sepertinya tidak begitu. Kalau dipikir-pikir lagi ada tiga kandidat yang bisa menjadi tuan si rindu. Pertama, orang yang menjadi tempat si rindu bersemayam. Kedua, orang yang menjadi penyebab si rindu muncul. Ketiga, Dia si pemilik hati. sepertinya Kandidat yang paling memungkinkan menurutku adalah yang ketiga karena kepadaNya semua akan kembali. Kalau seperti itu berarti hadirnya si rindu itu pasti memiliki makna. Kalau menurutmu si rindu itu punya tuan nggak sih ? atau pertanyaanku yg salah, mungkin aku perlu memperjelas arti “tak bertuan” terlebih dahulu.
Yang Terwariskan
Sebuah hikmah dan kesadaran yang datang dari kisah guruku, ia sempat menceritakan kisah terbaik yang sampai saat ini menjadi peganganku. Datang dari Lamongan, Jawa Timur.
_____
Pada tahun 90 an, perjuangan sebuah keluarga yang hanya berisikan seorang ayah dan putranya, sedang sang ibu telah pergi menghadap ilahi. Sang ayah tau bahwa ia dan istrinya membutuhkan bekal akhirat, lalu memutuskan untuk memasukkan putra semata wayangnya ke pesantren.
kala itu sang ayah berkata pada buah hatinya "Nak, ini ayah kasih uang 50 ribu untuk setahun ya, makanlah dengan senikmat-nikmatnya, dan tidurlah dengan senikmat-nikmat tidur".
Terkejut dalam hati si anak, perlahan ia menjawab dengan terbata-bata "Yah, bagaimana mungkin aku bisa makan dan tidur dengan senikmat-nikmatnya, sementara bekal yang ayah berikan hanya sedikit sekali, tak cukup jika untuk 1 tahun lamanya".
Ada rasa sedih dan haru pada mereka, perlahan sang ayah mengusap kepala anaknya dengan sedikit tangisan air mata "Nak, sering-seringnya berpuasa, karena makan yang paling nikmat adalah ketika kamu berbuka puasa. Nak, belajarlah hingga larut malam dan lelah, sunggu senikmat-nikmatnya tidur bisa kamu dapatkan ketika lelah menghinggapi matamu karena belajar dengan serius. Kamu adalah harta dunia akhirat ayah ibu"
Setelah 4 tahun lamanya dipesantren, sang anak memperoleh penghargaan sebagai santri teladan dan berprestasi, yang tak kalah hebat adalah saat ia memberikan uang 50 ribu pada sang ayah di hari wisuda. Bahagiaku bisa mendengar cerita ini. Sang anak itu adalah guruku, melaluinya aku bisa mengenal bahasa Arab. Semoga Alloh menjaga beliau.
_____
Teman, kisah ini hanya sebagian orang yang merasakannya. Bahwa tawadhu dan rendah hati itu tidak bisa diwariskan, ia harus diajarkan dan diusahakan. Tawadhu dan rendah hati juga tidak bisa diberikan instan, ia harus ada airmata dan kesadaran dalam diri.
Sesuatu yang terwariskan itu adalah bagaimana mengajarkan untuk berjuang, bukan menengadah tangan menerima warisan. Beruntunglah mereka yang tiap harinya berjuang, entah untuk hidupnya atau tujuan yang ia impikan. Beruntungnya mereka bisa mendapat warisan kebaikan, berjuang tanpa mengeluh dan membandingkan hasil orang lain.
Mereka yang berbahagia adalah mereka yang berjuang.
@jndmmsyhd
Random Conversation
Si S : Dod, kamu punya kalkulator lebih nggak ?
Me : ada sih... tapi cuma satu buat cadangan
Si S : Takutnya kalkulatorku mati ditengah-tengah ujian
Me : Bagaimana kalau kita yang mati ditengah-tengah ujian ?
Si S & Me :(Membisu ... sibuk dengan pikiran masing-masing)
FYI : Salah satu yang ditakuti anak akuntansi ketika ujian adalah kalkulator mati. Bayangin aja udah pakai kalkulator aja kadang 2,5 jam masih belum selesai apalagi nggak pakai kalkulator.