Setiap manusia memiliki rahasia, yang entah sampai kapan akan di simpan rapat-rapat dalam hatinya, atau koyak karena termakan usia
Hari ini rasanya tak seperti hari kemarin, tentulah, setiap hari memiliki rasa sendiri, esensi sendiri yang tak akan sama dan rata seperti hari-hari yang sudah di lewati. kepalaku serasa ingin pecah dengan keadaan ruet ini,
aku mengambil handpone ku, mengetik sebuah pesan,
kamu di mana kataku singkat dalam memulai perbincangan via chat
menunggu beberapa jam masih belum ada jawaban, kemudian aku memutusakan untuk mengirim pesan singkat lagi.
Kamu bisa jemput aku sekarang?
beberapa menit balasan muncul di handpone ku.
Sepertinya dia tau bahwa aku sedang kacau. tak ada pesan panjang, tak ada kata lain selain mengiyakan permintaanku,
menunggu setengah jam dia muncul di depan lobby hotel, tempat semalam ku menginap. terlihat senyum di wajah tampannya, aku mendekat, lalu tanpa tengok kanan kiri aku memeluknya, aku menangis di pelukannya. dia diam tanpa kata, seperti ikut dalam kesedihan yang tengah aku rasakan.
Seteleh beberapa menit menumpahkan air mata, aku sadar bukan tempat yang tepat untuk bercerita, aku menarik tangannya, membawa ia pergi menjauh dari tempat yang mulai ramai orang, aku membersihkan sisa-sisa air mataku. Aku merasakan langkahnya sedikit berlari karena mengikuti langkahku yang cepat, aku berhenti di depan resto dekat hotel, duduk di bangku paling tepi, dia pergi memesan minum untuk kita berdua.
Aku menenggelamkan wajahku dalam lipatan tangan, aku meneruskan tangisanku yang belum selesai, hingga ku merasa belaian di pundakku, aku mendongak, melihat wajahnya dan kembali memeluknya.
Kini dia memelukku, sesekali membelai rambutku, aku akan disini, bersamamu, sampai kamu benar-benar tenang. katanya singkat. kamu duduk ya, dia menarikan kursi untuk aku duduk, dan ia menata kursinya di sebelah kursiku, dia menatap mataku lekat-lekat dan menggenggam tanganku menguatkan.
kamu kenapa? tanyanya ragu, seolah khawatir akan banjirnya air mataku kembali, aku masih diam, tak berkata apa-apa.
aku menatapnya, mengamati garis matanya, dia benar-benar sahabat sekaligus pria yang aku sukai. Dia yang selalu ada ketika aku jatuh sedih dan merana, dia adalah sosok yang aku idam-idamkan menjadi suamiku, tapi dia juga orang yang sekaligus membuatku tak mau membuka hatiku untuk orang lain.
Aku takut. suaraku parau.
Kamu tau kan andi? teman kantor yang selalu ngajak aku jalan? yang selalu aku ceritain ke kamu?
Iya jawabnya singkat namun lembut
Dia ternyata anak teman lama papa ku, kebetulan kemarin sebelum aku ke sini dia yang menjemputku dan bertemu papaku, entah ada angin apa tadi pagi papaku menghubungiku untuk segera pulang, karena berniat untuk menemukanku dengan orang tua Andi. sepertinya aku di jodohkan. kali ini tangisku benar-benar pecah.
orang di depanku tersenyum, manis sekali, tak ada yang kurang dari dirinya, kulitnya sawo matang, matanya tajam, hidunya mancung, rambut lurusnya membuat wajahnya semakin menegaskan bahwa dia orang jawa tulen, bahunya tegap, seakan menunjukan bahwa dirinya adalah orang yang siap melindungi pasangannya nanti, dia benar-benar idaman.
kok malah senyum? kataku sinis.
Jelas lah, harusnya kan kamu seneng, kenapa malah menangis, kamu kan juga selama ini dekat dengan Andi, kamu juga sering jalan juga kan sama dia, gak usah susah-susah lagi dong kamu PDKT sama dia. aku turut bahagia.
Aku kelu, lidahku tak dapat berkata, mataku sayu, beginikah jalan hidupku, mencintai sahabatku sendiri dan di jodohkan dengan orang yang tak aku cintai, sesulit ini kah mengungkapkan apa yang aku rasakan
Sudah lah, ga usah sedih, nih dia menyodorkan segelas coffe float kesukaanku, dia tau segala hal yang aku sukai, kecuali satu, kenyataan bahwa aku mencintai dia,
dia minum segelas chocolate-nya, aku hanya diam, dan semakin rasa sesak dada ini, ingin berkata tapi takut akhirnya dia memilih keluar dari zone persahabatan ini. aku menunduk kembali, meratapi betapa menyedihkannya aku ini, menyimpan perasaan sendiri dengan membuat alibi sebuah persahabatan.
Tam, kamu pernah mencintai perempuan? suaraku lirih menghancurkan keheningan
Jelas lah, masa udah umur segini belum pernah jatuh cinta sih, santai dia menjawab pertanyaanku, lagian kenapa menanyakan perasaanku, yang sedang kalut kan kamu.
Tapi kamu pernah dicintai seseorang?
dia sahabatku tapi dia pandai dalam menyembunyikan hal-hal pribadinya, sejauh aku mengenalnya dia tak pernah menjalin hubungan dengan seorang perempuan, teman perempuanpun bisa di hitung dengan jari, dia juga bukan orang yang dengan leluasa mengumbah kehidupannya di sosial medi.
Tapi sepertinya kamu mencintaiku. diam lagi
Hatiku tersentak, rasanya ada bom meledak ledak di kepalaku, apa selama ini dia memperhatikan sikapku padanya? apa pertanyaan yang aku tanyakan salah? atau? atau dia bisa membaca pikiranku.
aku melirik, matanya tengah memperhatikanku, dahiku terangkat, tak lama dia berdiri.
Ikut engga? kata dia tanpa melanjutkan dan menjelaskan apa yang ia katakan tadi
Aku membututinya di belakang, dengan pertanyaan di kepalaku?