Mengapa Kamu Berhenti Menulis?
Orang-orang yang dulu kutahu begitu aktif berbagi kabarnya, kini seperti hilang tanpa sisa. Meninggalkan laman media sosialnya seperti rumah tua. Kebahagiaan yang dulu pernah terpancar di sana, seperti tercerabut.
Entah oleh kesibukan, banyaknya pikiran, atau memang sudah kehilangan kebahagiaan. Entahlah. Sayangnya, aku tidak pernah bisa bertanya. Aku hanya bisa berasumsi, menebak-nebak kemana perginya keceriaan dan kebahagiaan itu.
Apakah realita kehidupan dewasa telah menelan seluruh waktunya? Apakah karena ia tidak menemukan lagi kebahagiaan saat menulisnya? Atau memang, ia sedang tidak baik-baik saja hidupnya? Dan sedang berusaha untuk menenangkan diri sendiri, menepuk-nepuk pundaknya sendiri, menyabarkan hatinya sendiri, dan terus menerus berupaya untuk meneguhkan hati pada jalan yang telah dipilih dan keputusan yang telah diambil. Sekalipun, itu membuatnya kehilangan diri. Berusaha untuk percaya bahwa dirinya berada pada arah yang benar.
Sementara hidup terus berjalan dan waktu berlalu. Bagaimana sebenarnya kabarmu?
Ini bukan untuk orang lain, lebih ke...untuk diri sendiri. Yang dulu sangat aktif menulis berbagai cerita ringan, keluh kesah, apapun, di berbagai kanal medsos (blog, ig, fb, tumblr), lha kok sekarang entah kemana, kemana dia (aku yang dulu) ?
Eh tapiii.. mungkin, karena sedang (dipaksa) menulis sesuatu lain, sesuatu yang lebih ilmiah, lebih faktual, berbau eksperimental, ada unsur novelty dan state of the art-nya 😆🤣, tapi jujur, mengingatnya pun aku langsung mual🥲. Saking harus ilmiahnya, kadang satu paragraf pun maju mundur, ketik..hapuss.. gak jadi2, gak ada bekasnya, jadilah seperti tidak menulis apa2. Hahahaa, dasar hidup. Sudah tertawa kan saja lah selagi bisa...
8 Juli 2026.











