single fighter
A : sabar, kamu kuat, kamu sudah sejauh ini
B : seseorang pasti cerita deh. haha
A : pilihannya cuma kamu cerita atau orang lain yang cerita, sejauh ini cuma orang lain itu yang curhat. kamu jangan jadi single fighter terus, kamu punya banyak temen yang bisa kamu jadiin tempat curhat
B : … *menghela napas*
A : kenapa harus disimpen sendiri? i’m curious to know
B : i’m okay. selaaww
A : yes, you can always hide behind that mask. gapapa nangis aja sepuasnya, sampai capek, tapi abis itu balik lagi makin kuat
B : i’m strong enough
A : yes, you’re strong, I never doubt that one. but together (with someone), you’ll be stronger
B : *i know ‘bout it*
Kemudian pernah ada yang berujar demikian,
“Well, but I believe that you’re a grown up woman. Whatever problems you’ll face, I’m sure you know what’s best for you. But, I just want to remind you one thing. You have friends you can share your problems with. You have friends you can trust. Never keep everything for yourself “
In fact, i’m not a single fighter. Aku tidak pernah berusaha menutupi atau menyembunyikan apapun sendirian. Aku juga bukan tidak ingin berbagi kisah dan atau apa yang aku rasa kepada orang lain. Bukan tidak ingin, tapi lebih tepatnya aku memilah mana yang bisa untuk aku bagi, mana yang tidak. Bukankah memang seharusnya demikian ? Mungkin cenderung membuat orang lain menganggap aku terlalu tertutup, tapi sebenarnya tidak demikian. Aku berbagi dengan siapa saja, namun tersirat. Tidak serta merta pesan itu aku sampaikan secara gamblang bahkan seringkali aku menceritakannya melompat-lompat. Dan yap, dari berbagai obrolan yang tercipta dengan siapa saja, sejatinya ada penyelesaian dari segala masalah yang datang mengujiku. Sekali lagi, aku bukanlah ‘single fighter’ karena aku tahu selalu ada Allah yang menemaniku melalui seluruh perjalanan ini.
Aku berbagi, namun tersirat :)











