kangen.
Acquired Stardust
Claire Keane
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

tannertan36
hello vonnie

No title available

JVL
dirt enthusiast
Game of Thrones Daily

★
No title available
$LAYYYTER
Stranger Things
will byers stan first human second
noise dept.
Monterey Bay Aquarium
Misplaced Lens Cap

@theartofmadeline
Xuebing Du

if i look back, i am lost

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye
seen from Switzerland
seen from Italy
seen from United States
seen from United States

seen from Morocco

seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States

seen from United States
@hujanmimpi
kangen.
Kesempatan Kedua yang Terakhir [Johnny Suh]
"untuk yang dipaksa berpisah, sebab katanya hidup bukan hanya soal cinta. tapi juga urusan perut dan trah yang patut selalu dijaga."
- Salazar dan Radea mungkin adalah kamu di sisi lainnya dunia. selamat membaca! -
***
Konser penutup kali ini benar-benar menguras tenaga gue bahkan sampai ke isi sel-selnya. Masih dengan pening di kepala, gue menatap wajah lelah teman-teman gue yang kini tidur di sofa pun di atas karpet.
"Party?" satu tanya gue membuat keempatnya menoleh dan membuka mata.
Si manusia yang paling diam di antara kami hanya menggeleng, "Gue skip, mau balik ke rumah."
"Gue juga nggak dulu, mau anter mantan," ucap si paling tampan yang gue bersumpah harus dapat perempuan paling cantik luar dalam di hidupnya.
Tawa gue menyela, "Mantan terussss!"
"Ya daripada elo Bang Sal, mantan nggak ada, pacar nggak punya, gosipan doang lo banyakin!" seruan dari si bungsu memancing gelak tawa yang lainnya.
Refleks gue berdiri dan mengambil sebotol beer yang ada di lemari pendingin. "Salah gue?"
"Iya, soalnya lo nggak pernah mau serius."
Teman-teman gue tuh beneran kompak kalau soal urusan sindir-menyindir seperti ini. Padahal kehidupan percintaan mereka juga nggak benar-benar amat, tapi yang selalu jadi bulan-bulanan selalu gue, hanya karena nama gue sering mampir di akun-akun gosip itu.
"Bukan gamau, belum nemu aja," kali ini gue berkata dengan penuh kejujuran, tapi sepertinya mereka masih menganggapnya gurauan. Karena tetap saja jawaban berikutnya yang mampir membuat gue tertawa kecut.
"Makanya dicari yang bener, jangan porta parti terus, Bang."
"Bawel deh bocil!"
Gue baru akan kembali duduk ketika manager kami masuk sambil mengipasi dirinya dengan kertas putih. "Sal, dicariin tuh sama orang di depan."
"Siapa?"
"Siapa deh namanya tadi."
"Lah siapa? Lagian tumben banget lo iya-iyain aja kalau ada yang nyariin gue. Wartawan?"
Gelengan kepala dia berikan sebagai jawaban, sembari matanya bergerak ke sana ke mari mengingat informasi yang gue juga nggak tahu apa. Ibu jari dan jari tengahnya kini kompak memberikan bunyi jentikan yang nyaring. "Radea!"
"Hah? Radea?"
Hanya ada satu Radea yang gue kenal semasa hidup. Dan gue rasa mustahil kalau orang itu yang dimaksud sama manusia berkacamata di depan gue ini. "Lo nggak salah?
"Kagak, lo pernah cerita sama nunjukin fotonya ke gue, 'kan? Orangnya tinggi, putih, cantik, ada tahi lalat di tengah keningnya, mirip kayak orang In—"
Gue nggak perlu lagi mendengar ucapan dan penjelasannya. Karena saat ini yang ada di otak gue hanya satu perintah yang meminta kaki gue lekas berlari mencarinya.
Radea gue, Radea Shalitta Tarigan.
***
Senyumku masih terpasang sempurna menyapa beberapa orang yang tengah sibuk merapikan barang-barang, usai perhelatan musik yang sangat amat sukses di malam ini. Senyumanku memang terpasang, tapi jujur saja debaran di dada tak henti membuatku berulang kali ingin ke kamar mandi.
"Dea?"
Suaranya. Suara itu masih sama seperti suara yang begitu kusukai dua tahun yang lalu. Aku menoleh dengan cepat, bahkan mungkin terlampau cepat. Senyumku merekah sempurna, mengabaikan semua bunyi drum yang bertalu di dada. "Sal, hai!"
Tatapannya masih setajam dulu. Ia melirikku dari ujung kaki sampai ujung kepala. Tatapan yang jika dihadiahkan dua tahun lalu selalu sukses membuatku seketika meminta ampun, karena aku bersedia berada dalam peluknya semalam suntuk.
"Kamu, kamu tadi nonton?"
Aku mengangguk tenang, walau sepertinya binar mataku terang memancarkan rasa senang. "Of course. Seneng banget lihat kamu udah sekeren ini sekarang.You did it! You prove it, Sal."
"I am," singkat jawabannya dengan rasa bangga yang menyelimuti.
Aku tahu, dia pasti benar-benar begitu bangga atas semua pencapaian yang di awal-awal kariernya selalu diremehkan banyak pihak. Tidak terkecuali kedua orangtuaku. Yang sejak pertama berjumpa dengannya jelas sudah menolak cinta yang bagi kami tak lagi seumur jagung.
"Wanna go out for a while?" pertanyaannya membuatku tersadar jika tadi sempat ada hening yang semakin membuat canggung ini menguar. "Nggak enak banyak orang lalu lalang di sini," jelasnya lagi seraya menatap sekitar yang sejak tadi memang membuatnya kerap menarikku mendekat, karena orang-orang yang berjalan di antara kami tengah membawa barang-barang besar.
"Bukannya di luar jauh lebih nggak enak? Ada banyak fans kamu dan media, Sal."
Ia terkekeh. Aku berani bersumpah, gelak tawanya masih jadi candu yang sanggup membuat kupu-kupu di perutku ikut heboh dan bangun dari tidur lamanya. "Iya juga sih, bentar deh."
Ia melangkah sedikit menjauh dariku, dan mendekati pria berkacamata yang tadi sempat terkejut menatap kehadiranku yang meminta untuk bertemu dengan Sal. "Dea, sini! Ada ruangan yang bisa dipakai."
"Gapapa kalau aku masuk?"
Senyumnya merekah, kali ini tidak ada kecanggungan, bahkan seperti menyambutku untuk pulang. "It's okay, you're with me, yakali ada yang ngelarang."
Langkahku akhirnya mengikuti langkahnya yang panjang. Ia membawa kami ke salah satu ruangan yang kuperkirakan sempat dijadikan tempat mereka berhias, karena ada kaca-kaca besar dan juga box-box make-up yang sudah tersusun rapi.
Lagi-lagi kami terjebak di antara hening yang mungkin sanggup membuat dia mendengar debaran jantungku. Tapi Sal tidak pernah suka dengan hening, ia selalu tahu bagaimana cara untuk membuatku bersuara. "So, how's life,Dea?"
"Gitu-gitu aja," balasku tak berselera, karena memang hidupku tak lagi berwarna sejak kami memutuskan sudah. Aku lekas mengembalikan kesadaran ketika menatap isi dari tasku yang terbuka. "Eh ya, aku ke sini tuh sebenernya mau kasih kamu sesuatu. Kamu ganti nomor hape soalnya kata orang-orang."
"Oh ya, hape aku waktu itu hilang. Males juga ngurus nomornya, jadi sekalian ganti aja."
"Ini," tanganku terulur membawa kertas tebal berwarna maroon untuk sampai di tangannya.
Ia menyambut uluranku dengan tawa yang mengikuti, "Hahahaha. Ini undangan nikahmu?"
Aku menggeleng dengan cepat, "No. Kakakku. Itu ada namanya, Sal. Dibaca dulu makanya," bisa-bisanya dia bilang aku yang akan menikah, padahal aku saja masih tak sanggup mengenyahkan semua tentangnya dari benak bahkan jejaknya di seluruh tubuhku.
"Kamu masih aja nggak berubah, ya? Cepet banget ambil kesimpulan," biar saja, kali ini giliran aku yang menyindirnya hingga membuat tawanya yang tadi menghina, kini berganti kecut dan juga pias di wajah.
"Aku diundang? Orangtuamu gapapa?"
Anggukan yakinku ada untuk menjawab pertanyaannya. "Udah kubilang 'kan kalau kamu berhasil buktiin ke semua orang, bahwa kamu dan band-mu tuh nggak sekadar main-main doang."
Ting! Ting Ting Ting!
Bunyi-bunyi pesan mulai menghiasi percakapan kami, aku membaca pesan dan juga nama yang tertera di layar, lalu menghela sebal karena harus mengakhiri percakapan ini dengan cepat. "Hmm maaf aku gabisa lama-lama, Sal. Aku udah dijemput soalnya."
Binar matanya menampilkan keterkejutan yang aku masih coba terka; apakah karena ia enggan untuk lekas berpisah denganku, atau justru memang sudah menantinya sejak tadi. "Nggak mau aku anter aja?"
"No need, Sal.My fiancéudah sampai kok."
Ia yang masih duduk kini sontak berdiri, membuatku kembali harus mendongak menatapnya karena ia lebih tinggi lima belas sentimeter dariku. "Who, De?"
"Aku duluan ya, Sal. Jangan lupa dateng," pamitku, namun lekas dia cegah karena tangannya sudah lebih dulu melingkari pergelanganku. Yang jelas kali ini benar-benar membuatku harus susah payah menelan ludah, karena merindukannya dengan terlalu.
"Wait, I think you give me this invitation to make me your plus one. But turns out, it's a big no?Mau bercanda ya kamu?"
"Aku nggak pernah bercanda, Sal," jawabku seraya melepaskan genggamannya di pergelanganku, demi menjaga agar kewarasanku tetap ada dan tidak serta merta memeluk dan menciumnya karena rindu yang mendera.
Lekat aku menatapnya tanpa ada kedipan. Aku tak mau kehilangan satu detik momen pun untuk mengabadikan sosoknya dalam jangkauan, dan juga ingatan.
"Sal, kalau kamu inget dan seharusnya kamu tahu, aku nggak pernah ke mana-mana, kamu yang pergi ke mana-mana."
Dia diam, masih menatapku dengan tatapan yang kali ini sulit untuk kuartikan, karena terlalu banyak hal yang sepertinya juga ia pikirkan. Satu kali, satu kali sebelum aku benar-benar keluar dari ruangan yang sudah hampir menghabisi oksigenku ini, aku kembali mengulas senyum padanya.
"He just my fiancé, Sal. Be fast, if you still believe it's me,karena udah waktunya aku yang pergi kalau kamu juga terus-terusan pergi."
Satu pernyataan itu akhirnya kuucapkan, walau sebenarnya aku mati-matian menahan kelu yang seketika mampir setelah aku merangkai kata demi kata itu di telinganya.
Gennadios Armen Salazar.
'Untuk kali ini, bolehkah aku meminta tolong agar kamu mau perjuangkan aku, seperti kamu perjuangkan impianmu untuk bersinar di atas panggung? Karena sungguh, selepas pergimu, duniaku yang sudah hancur justru semakin berantakan.'
- FIN.
Percaya dan Yakin Semestinya Berdampingan [Moon Taeil]
"untuk yang berjuang akan mimpinya seorang diri, bahkan tanpa dukungan dan tidak ditemani oleh mereka yang disebut paling dekat; orangtua."
- Pramudya adalah kamu di sisi lainnya dunia. selamat membaca! -
***
Mungkin ini sudah kali ke-sekian namaku diserukan. Dipuja oleh banyak mata dan diberi teriakan nyaring oleh suara-suara yang butuh penghiburan. Ini kali ke-sekian yang seharusnya menyenangkan dan juga membahagiakan. Nyatanya demikian, meski di beberapa kesempatan tidak selalu sampai ke relung.
Terlebih ketika lampu sudah dinyalakan, namun hingga di sudut terjauh pun tak kutemukan mereka letakkan tepuk, bahkan hanya untuk sekadar duduk.
"Udah siap?" suara itu mampir di telinga diiringi dengan tepukan halus di pundak, tepat setelah aku ubah pakaian yang penuh gemerlap, jadi kaus putih yang kembalikan aku selaiknya anak yang tengah teriakkan cita-cita paling mustahil.
"Siap nggak siap, tetep harus siap bukannya?"
"Pram Pram, nggak siapnya lo itu kapan sih? Gue serius penasaran. Udah salto bahkan ngapain juga itu suara masih aja sempurna, gimana caranya?" gelengan kepalanya membuat aku tertunduk berterima kasih, seolah pujian memang hal yang kerap ingin kudengar berulang-ulang.
Encore! Encore! Encore!
Seruan itu kembali mengisi gendang telingaku saat tanpa sengaja earphone kembali terlepas.
Satu hela napas mengalir lewat bibir yang sebentar lagi akan bubuhkan senyum, juga lagu paling terakhir, sebelum aku akhirnya kembali akan jadi si biasa yang tak pernah dibanggakan kedua orangtua.
Baru beberapa langkah aku menaiki tangga, setelah managerku mengusap punggung dan meyakinkan diri, sebuah teriakan menghentikan ketegangan yang sebetulnya menguasaiku diam-diam. "Mas Pram, tunggu!"
Aku menoleh. Rekah senyumnya membuatku meminta waktu sekejap agar yang lain biarkan ia mendekat. "Ada apa, Gendhis?"
"Aku bangga sama kamu! Mama Papaku juga bangga sama kamu, nanti aku teriak, 'aku tresna sama kamu' dari kerumunan penonton gapapa, ya?"
Binar matanya membuatku mau tak mau akhirnya menggelar tawa, "Boleh. Tapi emang nggak malu? Kamu emangnya di mana? Nggak gabung sama Mama Papa di VIP?"
"Enggak. Aku mau berdiri di dekat panggung aja. Aku mau teriak di tengah orang-orang, biar mereka tahu aku orang nomor satu yang sayang dan bangga sama kerja keras kamu hari ini."
"Hari ini aja?"
Ia daratkan satu kecupan di pipi kiriku seraya lirih berbisik, "Selamanya. Dari dulu sampai besok nanti akan selalu sayang dan bangga."
Belum sempat aku memberikan respon apa-apa, ia sudah lebih dulu berlari, usai membuat semua kembali tersenyum bahkan tertawa usai mendengarnya berteriak. "Nanti di tengah panggung jangan bengong lama-lama, keburu tirainya ditutup, kamu lupa masuk lagi."
Pagelaran kisah cinta kami usai sejenak setelah disaksikan mata-mata yang begitu paham akan keseharianku. Aku tersenyum, kali ini untuk diri agar melangkah yakin serta mantap menuju tengah, untuk kembali jadi pusat rotasi orang-orang walau sebentar.
Lampu-lampu dipadamkan. Denting musik yang mengalun menemani suara langkahku yang menghentikan semua teriak, hingga menyisakan deru napas yang bersahutan antar satu sama lain.
Pelan namun pasti, sinar-sinar itu mulai menyoroti aku yang sudah berdiri tepat pada poros panggung utama.
Selama beberapa menit pandanganku menyisir seluruh ruangan. Satu persatu insan di sana menyambutnya dengan sukacita, mengalirkan rasa percaya bahwa aku tidak pernah salah memilih dan memihak. Hingga akhirnya kedua netraku temui binar paling terang milik Gendhis, juga empat bola mata yang kupastikan tengah doakan kesuksesanku malam ini.
Doa dari mereka yang tidak membesarkan tapi beri kepercayaan dengan penuh. Yang nyatanya tak pernah kudapatkan dari dua sosok yang tak pernah sudi injakkan kakinya di tempat aku merasa hidup dan juga cukup.
Malam ini berbeda, lagu terakhir kali ini aku persembahkan untuk keduanya. Yang mungkin masih selipkan doa di antara sujudnya. Yang mungkin masih harapkan aku pulang di tiap pagi harapan kembali dilangitkan.
'Mas sudah sudah buktikan, Bu. Mas sudah buktikan kalau ini hidup yang akan selalu mau untuk Mas jalani, bahkan sampai nanti tua. Meski mungkin Ibu dan Ayah masih belum juga mau untuk percaya, tapi Mas akan selalu beri percaya dan yakin pada diri. Maaf tidak bisa jadi anak yang tunduk dan patuh pada pinta. Tapi malam ini Mas buktikan, jika percaya dan dukungan semestinya jadi milik yang katanya tercinta.'
- FIN.
Kapan nulis di tumblr lagi ka
ini mau nulis lagi hehehe!
07.09
oh hai hello world!
apa kabar? lama nggak menyapa. bahkan rasanya lama nggak menulis di sini.
rindu, nggak usah ditanya. tapi rasanya untuk menyelam ke sini itu butuh waktu berlebih untuk diri sendiri. untuk membiarkan diri tak lagi peduli kata di sekitar, dan membiarkan diri menciptakan gelembungnya sendiri. untuk membiarkan diri nggak perlu lagi berinteraksi dengan banyak orang, sebab dengan diri sendiri adalah cukup yang sebetulnya penuh.
belakangan ini saya menyadari bahwa laju saya pelan-pelan melambat lagi. bukan atas perbandingan hidup dengan orang lain, tapi pada ritme saya yang sejak tiba di rumah, hanya dipenuhi angan, namun enggan beranjak dari ruangan. jangankan ruangan, bangun dari kasur atau sofa saja rasanya kelewat malas.
hingga pagi tadi, saya menangis.
karena hal sepele sebetulnya, dan nggak seharusnya merusak tatanan mood di pagi hari, namun ternyata sukses membuat saya kembali ke sini.
lucu ya, hidup bisa sebegitu lucunya membuat saya kembali sign-in di tumblr hanya perkara kelewat emosi, menangis, lalu merasa nggak ada yang pantas untuk dengarkan keluh kesah.
well, kata-kata Jackson Wang yang lewat di fyp saya kemarin memang sedikit mengenai inchi-inchi di antara jaringan lobus frontal. yang ujungnya membuat saya berpikir ulang, kalau saya sering kali berkata dibagi bebannya, dibagi ceritanya, dibagi sama orang yang ada di sekitar dan peduli. padahal nyatanya, semua itu hanya hal-hal yang nggak akan berlaku sama saya, sampai kapan pun.
nggak usah ditanya alasannya, karena ya sudah jelas bahwa satu orang pun nggak akan ada di sebelah di saat butuh. ya, mari kembali dimengerti lagi kalau setiap orang punya kehidupan dan masalahnya. yang menariknya, akan ada di saat saya juga butuh, padahal janji-janji tak pernah saya minta namun diberikan percuma, dan ya berujung sia-sia juga.
saya sudah bilang belum kalau hari saya penuh semenjak kenal serangan hallyu? meski ya beberapanya masih diisi oleh orang-orang terdekat. saya nggak pernah lagi merasa kosong, setidaknya ketika kosong hinggap, saya tahu ke mana harus mencari ramai.
tapi kemarin rasanya lelah sekali. escape saya kembali untuk temukan solusi di antara lelap. hingga terbangun menemukan orang-orang yang ternyata berlagak peduli, namun nyatanya abai dan ya punya kekuatan untuk selalu bilang mereka punya masalahnya sendiri. gapapalah ya, hidup memang harus dibuat sekuat baja, dan setegar karang untuk bisa tetap lanjutkan jalan.
memang ada baiknya saya bucin aja deh, ya! bucin sama para idol-idol yang terus memancing ide menulis. setidaknya, saya jadi punya alasan lagi untuk hidup, sebab ingin merampungkan tulisan saya di Elegi Renjana's Universe dan juga Mediatama's Universe.
say hello to another me di @am1905pm kalau begitu!
see you again as hujanmimpi, karena saya mau rajin-rajin kembali di sini.
XoXo!
kangen nulis di sini haha
we're not in kansas anymore
untuk gelap-gelap di antara terang yang katanya menyenangkan pernahkah luka jadi juara yang menenangkan? bisakah hidup di tengah kebaikan yang tak kunjung dimiliki?
untuk duka-duka yang meluluhkan luka haruskah hidup jika tanda tanya tak kunjung berakhir? mampukan berjalan jika lelah ada di setiap tarikan napas?
untuk hidup-hidup yang katanya punya banyak alasan adakah perjuangan tanpa pengorbanan? mungkinkah amarah balaskan semua derita tak bertepi?
untuk hari-hari yang berlalu di antara temaram ulurkan tangan pernah dapat bantuan, ulurkan peluk jika temukan pulang, indahnya tak juga disesap, haruskah berganti dan terus mengayunkan langkah?
hujanmimpi 15.12.2021
Bringing back our tea-drinking red panda friend, since it’s one of my favorites (and it’s my birthday today)! I’m wishing you all the loveliest of weeks!
untuk kamu yang akhirnya tidak memilih aku;
semoga kita tidak perlu lagi bertemu, hanya untuk dengar segala omong kosong, bila penyesalan tiba belakangan.
dan berakhir
pertanyaan-pertanyaan yang sejak lama digantungkan, akhirnya usai ingatan-ingatan yang ingin dibuang jauh-jauh, akhirnya menemui pisah perasaan-perasaan yang selalu meronta ingin diteriakkan, akhirnya selesai
tidak perlu lagi ada penjelasan tidak perlu lagi ada pertikaian tidak perlu lagi ada penantian juga, tidak perlu lagi ada perjuangan
dan berakhir. segala yang dikira akan jadi selamanya. semua yang diduga akan menjadi ujung.
dan berakhir. kita tidak perlu lagi temui satu titik untuk capai kata saling. sebab sudah sejak lama, kita tak lagi pernah bersinggungan.
300821 - hujanmimpi -
day 11: talk about my sibling
kalau mengacu pada kata sibling sebagai saudara kandung yang benar-benar sedarah. berarti saya tidak akan bisa menceritakan apa-apa. karena saya hanyalah seorang anak tunggal. yang katanya sih katanya hidupnya nyaman dan akan selalu dituruti ini dan itu.
padahal?
ah, sepertinya hanya anak tunggal saja yang paham bagaimana tepatnya perasaan yang dia miliki.
tapi kalau sibling tidak perlu harus diartikan secara tepat, atau dengan kata lain tidak perlu sedarah, ya mungkin saya perlu menceritakan tentang sosok kakak yang ditemui setelah umur saya tidak lagi muda.
kalau sudah selesai kuliah sih harusnya udah nggak muda. iya nggak sih?
seseorang yang di antara semua sakit hati dan titik terendah saya di masa-masa sekarang ini, dia juga ambil bagian di dalamnya. bahkan yang lebih lucu, ketika saya jauh sudah lebih dulu ikhlas, dia yang masih mendendam dan merasa benci setengah mati.
mungkin seperti itu rasanya jika saya punya kakak atau adik?
ada tempat berbagi cerita. ada tempat saling bergantung--meski hidup tak boleh bergantung pada siapa pun. ada yang bisa diajak berbagi beban (?)
ah saya jadi bertanya-tanya, apakah saya bersedia bila di kehidupan yang berputar ulang atau di kehidupan suatu saat nanti, saya punya saudara kandung?
27 Agustus 2021 - hujanmimpi -
day 10: my best friend
ngomongin soal best friend, jemawa banget nggak sih kalau aku tidak akan menyebutkan nama selain diri sendiri?
ya habisnya gimana, daripada harus sebut nama tapi kepedean menganggap sendiri, siapa tahu. atau sebut nama, terus ada yang alpa disebut, eh malah sakit hati sebelanga yang ada. jadi mending, sebut sahabat terbaik adalah diri sendiri aja haha.
sahabat yang baik katanya sih yang tidak pernah meninggalkan di kala senang pun susah. tapi namanya manusia, nggak bisa banget untuk selalu ada 24/7 alias selamanyaaaaaaaa. pasti akan ada masa di mana ketika lagi butuh banget, mereka juga hilang dan nggak bisa dijangkau. atau di saat lagi males banget untuk meladeni hal-hal lain, eh sahabatmu datang meminta bantuan. yang kalau ditolak nggak enak, tapi kalau nggak ditolak juga kitanya lagi males banget.
yap.
begitulah adanya kalau memang memikirkan atau menyebutkan orang lain sebagai sahabat. tapi kalau kali ini, untuk sekali ini saja mengurai sahabat sebagai diri sendiri. mungkin keluhan atau sakit hatinya berkurang.
karena ya...
kita nggak pernah bisa benar-benar melepaskan diri sendiri.
di saat seperti apa pun, hanya diri yang ada sepenuhnya dan seutuhnya. suka tidak suka, bahkan kadang kita dengan nggak tahu dirinya memaki, membenci, lalu di akhir cerita juga akan ikut bilang terima kasih.
well, that's life.
nggak ada buku petunjuknya, tapi ada segudang permasalahan yang harus dihadapi dan diselesaikan. yang membuat diri ingin menyerah, berkali-kali dan berulang-ulang.
mungkin memiliki sahabat jadi cita-cita banyak orang. mungkin memiliki sahabat jadi harapan banyak orang. tapi percayalah, sahabat itu nggak dilihat dari banyaknya yang kamu miliki. sahabat nggak ditemukan dengan instan. dan meski kamu nggak punya sahabat, gapapa, hidup masih tetap bisa dilanjutkan.
intinya sih...
percaya terus. yakin terus. di saat apa pun. di setiap susah, di setiap sedih, dan di setiap rasa ingin menyerah, kamu punya dirimu sendiri. dan itu cukup apabila bisa untuk disyukuri dan dihargai.
25 Agustus 2021 - hujanmimpi -
day 9: happiness
happiness.
bahagia.
apa sih definisi yang sesungguhnya? yang katanya nggak bisa untuk sama satu dengan lainnya. yang katanya nggak selalu rumit, tapi kalau disebut sederhana pun nggak bisa.
makin ke sini, rasanya definisi bahagia itu makin sederhana, namun memang untuk mencapainya justru makin dirasa susah. benar nggak?
bahagia bisa tidur cepat dan bangun dengan badan bugar. sederhana, tapi ya nggak mudah. bahagia bisa makan makanan enak, tapi ya tetep aja mau makan enak juga butuh usaha dari beli dan/atau bikin. bahagia bisa punya waktu tidur siang. sederhana, tapi kesempatannya yang jarang ada.
tapi yaaa memang, semakin berkurang waktu hidup di dunia. definisi bahagia yang tadinya segambreng, mengerucut jadi hal-hal yang bisa dinikmati di sela rutinitas yang tiada henti dan memberi jeda. tapi apakah semua orang seperti itu? ya belum tentu.
masih banyak orang yang definisi bahagianya adalah hal-hal besar. tapi kemudian ada juga yang ketika hal itu terwujud justru bertanya, setelah ini apalagi? lalu kalau sampai di sini, udah nih gini aja rasanya? kok nggak bahagia-bahagia amat.
yap.
happiness itu dicari dan ditemukan.
nggak mudah tapi nggak juga selalu susah.
tapi katanya sih kuncinya hanya dua. merasa cukup dan selalu bersyukur. dengan begitu, setidaknya kita akan menghargai apa-apa yang ada di sekitar dan saat ini sedang berlangsung.
semoga ya, semoga bahagia selalu melingkupi kita. dengan cara apa pun, dengan keadaan apa pun, dengan upaya apa pun. semoga, ya!
24 Agustus 2021 - hujanmimpi -
day 8: the power of music
bagi aku pribadi, musik punya banyak peran penting di sela kehidupan. sama seperti halnya menulis. ada begitu banyak momen yang bisa direkam, dirangkum, dan juga dikenang ketika sebuah musik mengalun di telinga.
jatuh cinta, patah hati, duka, suka, kecewa, marah, dan sederet perasaan lainnya bisa digambarkan dengan satu dua lagu yang rasanya kalau playlist dibuka, bisa memenuhi tulisan ini hingga entah seberapa panjang.
music is the soundtrack of our life.
aku selalu sepakat dengan kalimat tersebut.
soundtrack yang pasti berbeda bagi setiap manusia. soundtrack yang dipilihnya juga tidak dengan banyak perenungan. yang tiba-tiba saja bisa dirasa amat pas menggambarkan perasaan dan kejadian.
begitu, kan?
kekuatan musik sama halnya dengan kekuatan yang dihasilkan kata dan tulisan. bedanya, ketika kamu mendengarkan alunan musik, tidak perlu selamanya kamu tahu arti dari lirik sebuah lagu yang dimainkan, tidak perlu kamu jadi si mahir dan mengerti not balok dan lain sebagainya, namun kamu bisa menikmati dan merasakan emosi yang dicurahkan di dalamnya.
menarik dan memikat.
bagiku, musik seperti itu.
22 Agustus 2021 - hujanmimpi -
sosial media dan kehidupannya~
beberapa waktu lalu, tepatnya sih dua hari yang lalu, ada yang mengirimi saya sebuah pesan melalui DM instagram. isinya sih ya soal saya yang katanya terlalu sering membahas k-pop dan diikuti dengan dia yang berkata bahwa nggak semua followers saya menyukai hal yang sama.
jujur reaksi pertama saya adalah ketawa dan spontan bilang, "akhirnya."
iya, akhirnya ada yang berani bersuara tentang ketidaksukaannya. karena mengungkapkan ketidaksukaan secara langsung itu tidaklah mudah, dan saya mengapresiasinya untuk hal tersebut.
dulu, saya menulis di tumblr dengan tanpa tekanan apa pun, sampai sekarang pun demikian, dan itu hal menyenangkannya. hingga akhirnya saya beralih dan mencoba menggunakan instagram hujan_mimpi
gimana rasanya pertama kali menggunakan IG? oh tentu aneh. karena angka-angka yang bertebaran di sana punya banyak sekali pressure yang disadari dan tidak disadari. pelan-pelan menggerogoti banyak orang dan berubah menjadi tolok ukur penilaian ini itu. yang kalau boleh saya jujur lagi, sangatlah melelahkan.
tidak ada yang terang-terangan menuntut ini itu, tapi ketika cerita atau unggahan yang dibagikan berbeda dari konsep yang sebelumnya diusung, mendadak perubahan terjadi dengan tenang namun lumayan memberi sedikit tekanan dan banyak pertanyaan.
dan ya...jadilah saya memutuskan untuk membuat akun instagram personal di stfbl untuk mengunggah apa pun yang saya inginkan dan saya sukai, seperti halnya di sini--di Tumblr.
eh ndilalahnya, makin ke sini, pelan-pelan namun pasti, muncul pertanyaan seperti yang tadi saya ungkap di awal.
gimana rasanya? kaget sebetulnya, karena saya jadi dibuat bertanya-tanya, perlukah hal yang kita sukai tidak usah dibagikan? perlukah apa yang saya ingin bagikan, hanya diunggah dan mengaktifkan tanda close friend saja?
karena lagi-lagi saya jadi bertanya-tanya, apa fungsi sosial media yang sebenarnya?
menunjukkan diri kita secara asli? menunjukkan diri kita secara 'fake'? menunjukkan diri kita yang ingin dianggap ada, namun dengan memenuhi ingin orang lain? atau menunjukkan diri kita yang apa adanya dan ingin berbagi sesuka hati?
saya tidak bilang sikap dari seseorang yang mengirimi saya DM itu adalah salah. saya menghargai keberaniannya menyampaikan aspirasinya, saya menghargai keberaniannya menyuarakan ketidaksukaannya.
namun di lain sisi juga saya jadi bertanya-tanya, seperti apa rasanya mereka yang ada di posisi saya menerima dan menyikapi hal tersebut?
karena bagi beberapa orang, bisa jadi justru membuatnya jadi merasa tidak lagi percaya diri membagikan apa yang kemudian sedang ia senangi.
saya ini masih terbilang baru suka dengan k-pop, kalau tidak salah di akhir tahun 2019, itu juga kalau ingatan saya tidak salah. dan ya memang, sebagai taurus garis keras, ketika saya menyukai sesuatu ya udah jatuh cintanya juga kebangetan, bahkan setiap hari konsumsi hal yang serupa juga nggak akan bosan.
awalnya pun saya diem-diem aja ketika akhirnya suka k-pop. karena buat saya, nggak ada pengaruhnya apa-apa juga untuk dibagikan atau tidak. hingga di satu waktu saya jadi berpikir, saya mulai menulis dan bisa punya banyak teman yang memiliki hobi menulis pun karena dimulai dari kesukaan saya membagikan tulisan saya itu.
dan bisa jadiiiii, ketika saya melakukan hal serupa, membagikan tentang lagu-lagu k-pop, video-video dari konten idol yang saya sukai, pun tentang k-drama yang sedang saya tonton, hal tersebut akan membawa saya pada orang-orang yang mempunyai kesukaan dan minat pada hal yang sama.
that's gonna be a good things, right?
kayak...yey saya bisa menikmatinya tidak lagi sendirian. ibaratnya begitu. jadilah saya membiasakan dan memberanikan diri membagikan hal tersebut ke akun sosial media personal saya. yang difungsikannya memang untuk membagikan tentang kesukaan saya, kehidupan saya, dan apa-apa yang berbeda dan lepas dari imej saya sebagai janpi si pendengar curhatmu.
tapi ya ternyata...
Tuhan selalu bilang, menyukai sesuatu itu nggak serta merta membuat kamu langsung bertemu dengan orang yang juga dengan hal serupa. pro kontranya hidup masih terus akan ada dan bergulir, sepanjang napas juga masih dititipkan.
jadi ya...
mari kembali belajar saling menghargai, bahwa nggak semua yang kita suka akan disukai orang lain. bahwa nggak harus jadi serupa untuk bisa tetap ada dan hidup. bahwa nggak perlu menjelaskan kenapa dan mengapa, bagi setiap pilihan. dan, lagi-lagi belajar untuk selalu berani untuk memberitahukan dunia tentang apa yang kamu suka dan tidak suka, juga perlu dan bukan sebuah kesalahan.
cheers!
salam dari Bella aka Hujan Mimpi yang masih tetap akan sama meski kesukaannya berbeda darimu~
day 7: favorite movie
kalau bicara soal film, sepertinya nggak bisa hanya menyebutkan satu judul saja. kenapa? ya rasanya tidak adil saja, karena semua film yang pernah ditonton banyak yang kemudian masuk menjadi daftar film favorite.
tapi...
entah kenapa ketika menuliskan paragraf di atas, saya justru teringat akan satu film lama yang soundtrack-nya mampu jadi penguat sepanjang masa.
Hannah Montana: The Movie
sepertinya film itu menjadi salah satu tontonan yang membekas di ingatan saya, entah hingga kapan dan entah sampai kapan.
nontonnya sendirian, di kamar.
tapi entah mengapa saya merasa seperti ditemani. ada beberapa emotional spot yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan akan bisa saya rasakan.
terlepas dari seperti apa penilaian dan rating yang diberikan penonton pada film ini di imdb, saya tetap menikmatinya dengan rasa yang macam-macam.
well then, akhirnya dari situ saya selalu tahu dan ingat jika sesuatu nggak sesuai dengan seleramu, ya bukan berarti jelek, tapi memang bukan ditujukan untuk bisa kamu nikmati.
sebab buat saya film favorite bukan selalu tentang sesuatu yang harus meraih banyak penghargaan, diperankan oleh banyak aktor berbakat dan terkenal, pun punya sederet hal-hal keren lainnya.
bagi saya, film favorite bisa jadi sesuatu yang tiba-tiba terlintas di ingatan, pernah memenangkan sudut paling sendiri di hati, dan juga punya porsi sendiri untuk selalu dikenang meski kemudian ada film-film lain yang berhasil menambah deret panjang kata 'favorite' lainnya.
21 Agustus 2021 - hujan mimpi -
day 6: single and happy
being single is a high!
kayaknya pernah bilang seperti itu di postingan tahun-tahun lalu. tapi ya intinya, menjadi single atau jomlo atau sedang tidak terikat hubungan dengan siapa-siapa tuh menyenangkan.
ya nggak selalu, tapi sedikit banyaknya demikian.
karena toh kalau ngomongin soal menyenangkan atau menyedihkan, hidup selalu punya kedua sisinya. tergantung mau lihat dari sudut pandang yang mana. yang yaaa kadang sih kalau dipenuhi ragam emosi sebal, maka sisi positifnya nggak akan kelihatan.
wajar sih, fokusnya kita soalnya pada rasa menyedihkannya. pada ketidaksukaan dan rasa-rasa tidak enak lainnya.
setiap harinya kita dihadapi oleh banyak tantangan dan kenyataan yang selalu mengejutkan. kadang sesuai rencana, kadang melenceng jauh dari rencana--entah tidak memenuhi ekspektasi atau bahkan melampaui ekspektasi.
ada nggak sih orang-orang yang mau gagal di dalam hubungannya? nggak ada, kan? tapi yang namanya bertahan juga nggak segampang jatuh cinta. bahkan jauh lebih susah dari perasaan patah hatinya.
tapi di antara orang-orang yang kandas hubungannya. menjadi jomlo juga banyak yang menjadikannya sebuah pilihan. dengan kata lain, mereka memang enggan menjalin hubungan dengan siapa pun meski sejak awal punya kesempatan.
kenapa? ya alasannya macem-macem.
tapi gapapa. toh memang penting untuk lebih kenal dengan diri, kenal dengan banyak orang, tahu apa yang dimau, tahu apa yang disuka, tahu apa yang dibutuh, tahu apa yang nggak disuka dan segala macam hal lainnya yang menyita waktu bila harus dibagi dengan adanya pasangan.
mengerti diri sendiri saja susah, apalagi harus memahami orang lain, benar atau betul?
banyak orang yang takut untuk memilih sendiri. karena katanya sih, sepi dan menyedihkan.
tapi hei, serius deh ya, sebelum akhirnya kamu memilih berpasangan atau bergerak ke arah yang lebih serius, ada baiknya menyenangkan diri dan mengenal lebih banyak hal lagi. jatuh cintalah ke dirimu sendiri, sampai-sampai nanti ketika kamu jatuh cinta sama orang lain, kamu nggak merasa perlu diberikan apa-apa oleh mereka.
bukan karena nggak butuh, tapi karena cintamu untuk diri sendiri sudah sangat amat banyak dan kamu tahu bagaimana cara membuat dirimu senang dan bahagia.
19 Agustus 2021 - hujanmimpi -