Saat ini usiaku akan segera memasuki kepala 3, tidak lama lagi. Pencapaianku tidak buruk sejauh ini.
Hanya saja, aku selalu bertemu dengan takdir yang tidak kuinginkan (walau ucapanku akan sangat menyakiti sang pembuat takdir).
Aku adalah wanita yang mudah menangis, mudah marah, mudah kecewa, mudah sakit, mudah ingin berkelahi dengan apapun.
Saat aku masih duduk di bangku sekolah, kuinginkan menikah muda. Cukup muda. Aku ingin bahagia dari usia muda sampe tua dan sampai menutup mata dengan hanya 1 pria.
Setelah menikah, kuingin langsung memiliki anak yang banyak. Bersikap layaknya ibu muda yang ceria, masa kini, cantik, dan tangguh.
Kuingin anak-anakku memanggilku kakak. Cukup menggelitik bukan? :')
Tapi takdir berkata lain.
Yah. Tidak semua berkata lain, hanya beberapa.
Aku menikah dengan pria yang memang sangat aku cintai. Mungkin berbeda dengan pasangan lain yang berjalan mulus hingga kepernikahan.
Butuh perjuangan yang luar biasa untuk bersatu.
Setelah drama panjang itu, akhirnya takdir lain menghampiriku.
Takdir yang ternyata bukan hanya aku saja yg tidak menginginkannya. Tapi suamiku juga.
Berjalan hampir 3taun pernikahan, kami masih berdua.
Kupikir dengan dada sesak, "Mungkin aku akan gagal menjadi ibu yang dipanggil kakak". Senyumku meneteskan air mata.
Aku selalu tidak sejalan dengan takdirku.
Tapi terlalu berbahaya untuk mengingkarinya.
Terlebih lagi untuk berkelahi dengannya, walau sebenernya kuingin sekali.
Banyak sekali orang disekitarku silih berganti mengabarkan berita baik itu.
Tapi tidak saat aku mendengarnya.
Aku tersenyum bahagia, tapi hatiku tersiksa.
Sekali lagi, takdir berkata lain dengan harapanku.
Suatu ketika seorang teman memberiku saran. Yaah... Saran yang sebenarnya tak kuminta. Aku dengan besar hati harus menerimanya.
Saran itu dikirimkan lewat pesan singkat media sosialku.
Saat kubaca, betapa sesak dada ini.
Walau itu hanya saran. Tapi sekali lagi, aku adalah wanita yang penuh dengan kesedihan dan amarah.
Puncaknya saat ia mengirimiku gambar di aplikasi pesan singkat. Saat kubuka, aku tak bisa lagi membendung air mataku. Entah air mata kebahagiaan atau air mata kemurkaan. Pesan itu, sangat menyakiti batin dan perasaanku.
Ingin sekali ku blokir orang ini dari hidupku.
Yah, aku sadar, aku adalah wanita yang sangat jahat.
Aku tidak bisa membedakan kabar bahagia dan kabar menyakitkan. Maafkan aku Tuhan.
Aku yang selama ini hanya ingin berdamai dengan takdir, mencoba untuk memperbaikinya lagi, tapi lagi-lagi harus menjauhinya, walau ku tak bisa.
Bukan aku yang menginginkannya.
Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa.
Maaf jika aku tidak mendoakan kabar baik yang siapapun sampaikan padaku.
Saat ini, aku akan mencoba sendiri.
Setidaknya, biarkan aku sendiri, jangan memberikan kabar apapun padaku.
Aku terlalu lemah membedakannya.
Aku akan tetap menjadi wanita yang jahat dan pemarah.
Sampai setelah tulisan ini kubuat, semoga kelak aku bisa berdamai dengan takdir sebelum ku menutup mata.
2020; 11-23 || nomaden punya cerita