Jika saya bosan, maka saya membuka Instagram.
Jika saya membuka Instagram, saya memiliki pilihan untuk melihat melihat hal-hal menyenangkan atau menghibur.
Jika saya melihat hal-hal yg menyenangkan atau menghibur, maka perasaan saya akan menjadi senang (untuk sementara).
Tetapi meskipun saya merasa senang, tidak ada yang berubah.
Orang lain mungkin menyadari keberadaan saya ketika saya memberikan tanda suka dalam suatu posting-an, atau membuka instastory mereka.
Namun, apa faedah dari semua itu?
Saya senang sesaat, namun tidak mengembangkan apapun dan tidak mengubah apapun.
Jika saya bosan, maka saya akan menulis.
Menulis memang membutuhkan usaha yang keras di awal.
Menulis memang membutuhkan konsentrasi yang luar biasa.
Proses menulis memang tidak selalu menyenangkan.
Namun menulis selalu membuahkan hasil, setidaknya meningkatkan kemampuan logika dalam merangkai kata.
Menulis juga akan memberikan kepuasan tersendiri ketika sederet kalimat selesai untuk ditulis.
Jadi jika saya menulis, maka saya akan meningkatkan kemampuan saya dalam menjalin kata serta memberikan kepuasan kepada diri sendiri.Â
Pagi ini begitu cerah. Menghancurkannya dengan kecerobohan, kelalaian serta dikendalikan oleh emosi dibanding nilai yang telah ditetapkan sebelumnya merupakan suatu kebodohan.Â
Berawal dari minat untuk belajar lebih dalam tentang psikologi dan melanjutkan studi S2 jurusan psikologi, gua akhirnya membaca salah satu buku psikologi yang gua pinjam dari Uco, salah satu temen dari lulusan Psikologi UNJ yg kini bekerja sebagai konselor di salah satu lembaga rumah konseling. Buku ini merupakan karya Duane Schultz dengan berjudul "Psikologi Pertumbuhan", yang setelah gua baca mengambil persepektif psikologi humanisme - yang mana sudut pandang psikologi yang gua suka. Psikologi humanisme ini menolak mentah-mentah sudut pandang behavioristik, yang secara tidak langsung menganggap manusia sebagai suatu sistem yang kompleks dan saklek. Saklek di sini sudah ada hukum yang mengatur tentang perilaku manusia secara garis besar.Â
Behavioristik menganggap manusia tidak memiliki kehendak bebas, karena manusia memiliki respon yang sudah terprediksi berdasarkan stimulus yang diberikan kepada mereka. Manusia tidak lebih dari sekedar mesin yang kompleks dalam sudut pandang yang dikembangkan oleh Pavlov. Namun dari sudut pandang humanisme, manusia memiliki harapan serta kesadaran diri yang membuat mereka berbeda dari makhluk-makhluk lain, sebut saja binatang. Manusia memiliki kehendak bebas, terlepas dari pengalaman masa lalu mereka serta stimulus-stimulus yang diberikan kepada mereka sebelumnya.
Dalam buku ini, penulis membeberkan manusia yang dianggap memiliki kepribadian sehat dari beberapa tokoh psikologi terkenal. Gua udah baca kepribadian sehat berdasarkan sudut pandang Gordon Allport, yang menurut gua cukup menarik dan dapat gua terapkan dalam kehidupan gua. Ada beberapa submateri yang dibeberkan penulis mengenai kepribadian sehatnya Allport, dan ada satu hal yang cukup mengena di pikiran gua.
Ketika Sigmun Frued lebih banyak melakukan penelitian pada orang-orang neurosis (gangguan mental ringan), Allport sebaliknya. Ia meneliti orang-orang yang dianggap memiliki mental yang sehat untuk menemukan aspek apa saja yang membuat seseorang memiliki mental serta kepribadian yang sehat. Penelitian Allport lebih optimistis dan penuh harapan dibanding Freud. Dalam penelitiannya, Allport mengemukakan bahwa ada tujuh kriteria kepribadian yang matang yang salah satunya adalah perluasan diri atau terlibat penuh atas aktivitas yang dilakukan. Semakin seseorang terlibat sepenuhnya dengan berbagai aktivitas, maka semakin juga dia akan sehat secara psikologis.
Ini mungkin hal yang gua rasakan pada Apri 2014 silam, yang gua percayai merupakan salah satu bulan terbaik di sepanjang hidup gua. Gua merasa begitu hidup, sehat dan bahagia saat itu karena gua terlibat penuh atas aktivitas yang gua lakukan. Mulai dari tepat waktu, menepati janji dengan orang lain, fokus dalam rapat yang cukup lama, bertanggung jawab sebagai koordinator dekorasi HUT organisasi dsb. I was living in the moment and that what made me felt alive.Â
Gua pikir, kini gua tau yang kurang dan apa yang perlu gua perbaiki untuk meningkatkan kualitas diri gua. Fokus dan terlibat penuh atas aktivitas yang dilakukan saat ini merupakan kunci dari pribadi yang matang. Menjadi pribadi yang matang akan menimbulkan kebahagiaan dan rasa bangga akan diri sendiri.
So, thanks to Uco for the book and thanks to Allah for lead me to this path.