Kepergianmu mengajarkanku tentang sebuah kehilangan teman yang paling ku rindukan. Aku kehilangan teman bercandaku yang paling seru. Bukan karena topik candaanmu yang kelewat dewa, tapi tentang kamu yang tak pernah bisa menerima canda receh dan sederhanaku. Tentang kamu yang selalu kebingungan menanggapi bercandaku yang tak kau pahami. Aku kehilangan teman dengan dahi yang selalu berkerut ketika melihatku tertawa hanya karena hal-hal sepele.
Aku juga kehilangan teman dengan senyum yang paling khas dan ku rindukan dengan sangat. Aku kehilangan teman yang tawanya selalu lebar hingga gigi kelincinya selalu terlihat. Sesuatu yang begitu ku sukai dan ku pandangi terus menerus tanpa henti ketika kita duduk berdampingan. Sampai kamu kesal dan bilang "kenapa sih dek sama gigi abang? Itu terus yang dilihat..." aku kehilangan teman yang selalu mendumel tentang itu.
Tak hanya itu. Aku juga kehilangan teman bermain, teman memarahiku dengan giat, teman mengajariku untuk tidak membenci orang melainkan cara-caranya yang salah, teman bercerita yang paling seru, teman makan malam bersama, teman beli martabak pak gendut, teman belanja di mal, teman antar jemput meski ku larang, teman nonton bioskop dengan genre action yang tak ku suka, teman minum kopi, teman nonton pentas musik, teman yang selalu menyetel musik dengan volume yang sangat kecil di mobil, teman bertukar pikiran-tentang hobi miniatur lmu dan pekerjaan, teman pengeluh terbesar yang ku kenal tentang penatnya dirimu di dalam pekerjaan, teman yang selalu bertemu denganku dan berkeluh kesah perihal rekan kerja yang tak asyik untukmu, teman yang tak menyukai Sheila on 7, teman yang memberiku hadiah kemeja biru di ulangtahunku ke 22, teman yang rajin menelpon di istirahat siang hari dan menjelang tidur, teman yang selalu malu untuk memimpin doa sebelum makan bersama, teman yang suaranya kalau sedang berdoa amat kecil, teman yang begitu bangga mendoakanku dan kelulusanku pertama kalinya, teman yang selalu memarahiku kalau ku salah, teman yang tak pernah mau disalahkan kalau sedang tak benar, dan teman yang ternyata tak setia dengan janji terindah yang pernah ku dengar di tempat kencan kita pertama kali di bulan November 2014.
Sekarang temanku sudah pergi. Temanku sudah menemukan teman baru yang mungkin lebih pas untuknya. Teman yang tidak bercanda receh sepertiku, teman yang kuat diajak ngopi, teman yang tak perlu diantar jemput, teman yang bisa ngotot mau nonton horor dan bukan action di bioskop, teman yang lebih dewasa dan tidak suka salah-salah di hadapannya, dan teman yang berani menjawab ya untuk janjinya segera. Ya, teman yang tak membuatnya menunggu tanpa kepastian. Bukan teman yang selalu ingin dicari dan ditemukan. Bukan teman yang selalu tak pernah memberitahu mimpi dan kesukaannya. 🖤 Sampai akhirnya aku belajar menyadari, bahwa kamu sekadar teman baru untukku yang begitu baik. Bukan teman hidup yang pernah kamu janjikan saat itu, di saat hujan turun dengan deras, di tempat kencan kita pertama kali, November 2014.
Percayalah,
Aku satu-satunya teman yang tak ingin menggantimu dengan teman lain. Meski di depanku ada banyak pilihan teman yang lebih tampan, lebih mapan, lebih hebat, lebih dewasa, lebih bijaksana, tapi aku tetap memilihmu... dan masih memilihmu.
Ps:
Untuk kamu yang baca postingan ini, coba baca pelan-pelan sembari dengarkan lagu One Last Cry by Brian McKnight ya. Nyes kah?
I'm gonna dry my eyes
Right after I had, my one last cry
One last cry, before I leave it all behind
I've gotta put you outta my mind for the very last time
Been living a lie
I guess I'm down
I guess I'm down
I guess I'm down to my last cry
🖤