Sumuraman dan Hal-Hal yang Tak Bisa Dilupakan
“Ada banyak lalat babi di sini ka..” ucap salah seorang anak sesaat setelah kami merapatkan Belang di tepi jembatan kayu.
Hari ini kewarasan saya diselamatkan oleh postingan di instagramnya Rebi. Setelah sempat dibuat bingung dengan pertanyaan-pertanyaan kepada banyak orang yang tidak saya temukan jawabannya, lebih tepatnya karena memang saya tidak pernah bertanya.
Kampung Sumuraman namanya. Distrik Minyamur merupakan distrik terluar yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Asmat. Sedangkan distrik Minyamur tempat penempatan kami kala itu merupakan bagian dari wilayah pemekaran, Kabupaten Mappi.
Saat menginjakkan kaki di Sumuraman, saya merasa takjub, bagaimana semesta bekerja dengan cara-cara yang tidak terduga. Saya berpikir betapa hidup ini menyajikan banyak kejutan, menyuguhkan hal-hal yang tidak pernah terbayangkan, memberikan segala hal yang kita butuhkan.
See, menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tidak ada hal sekecil apapun terjadi karena kebetulan.
Sebelumnya saya tidak pernah tahu tentang Sumuraman, sebuah kampung yang bahkan letak persisnya di peta mungkin tak bisa sekali langsung saya hapal.
Perjalanan menuju Sumuraman tidak mudah, bukan cuma dari Jawa, bahkan dari ibukota kabupaten sendiri. Dari Kepi, ibukota Mappi, perjalanan hampir memakan waktu 6 jam menggunakan perahu kayu kecil dengan motor baling-baling yang kami sebut Belang, yang sebelumnya pun kami harus diangkut menggunakan sebuah truk menuju kampung terdekat yang memiliki pelabuhan kecil, serta berjalan kaki sembari membawa kebutuhan yang akan kami bawa ke Sumuraman. 6 jam perjalanan yang menakjubkan, sepanjang sungai besar, dengan kanan kiri hutan dan bakau, sesekali bertemu warga dengan perahu kecil atau kole-kolenya, atau juga teriakan riang anak-anak dari dua sampai tiga rumah di tepian sana.
Kampung kecil yang tidak banyak penghuninya. Hampir semua permukaannya diselimuti pasir, seperti sebuah kawasan penduduk di pantai. dan ya, memang ternyata sungai besar yang kami arungi berujung di tepian laut. Dalam beberapa kesempatan saya ingin mencicipi banyak pengalaman, seperti disuguhkan kepiting rebus yang sudah tidak sempat lagi kami hitung jumlahnya. Keesokan harinya lagi, wajan besar kembali penuh oleh kepiting yang sudah berubah warna menjadi oranye, begitu terus berulang berhari-hari.
Sumuraman tidak hanya punya kepiting, mereka hidup di antara limpahan hasil laut. Kepiting, udang, hingga ikan pari. Barangkali, kami saja yang norak melihat segala kelimpahan makanan laut itu, lantas menyantapnya hingga habis, sampai bosan, sampai tidak lagi mengenal kata kenyang. Seperti itukah sebenarnya watak manusia pendatang? Iya, salah satu pertanyaan besar saya adalah, siapa yang akhirnya menikmati kelimpahan hasil alam di kampung ini?
Menjelang sore di kampung ini, kami mencari kamar mandi. Di atas permukaan sepanjang jalan kampung, kami hambur-hamburkan pasir dengan kaki, anak-anak Sumuraman yang mengajarkan kami. Kata mereka, mereka belum pernah bertemu orang luar, mereka senang sekali. Malu-malu, tapi mengingat lagi tertawanya mereka masih membuatku merinding sampai hari ini.
Bodoh kamu, Ann! Kamu terlalu sering terlena dengan kebingungan yang itu-itu saja.
Iya, romansa cinta saya sejak saat itu terhantam 180 derajat.
Kamar mandi di kampung ini hanya ada beberapa di tempat strategis dengan kelompok rumah yang berdekatan. Kamar mandi bersama yang airnya harus diangkut dari sumber air yang jumlahnya lebih sedikit dari kamar mandinya,
Saya kira, adik-adik itu hanya akan mengantar kami sampai di kamar mandi, tapi ternyata mereka juga yang menimba dan mengangkut airnya hingga ke kamar mandi. Duh, suguhan apalagi ini. Kami merasa sangat tidak ada apa-apanya. Jiwa-jiwa mereka bisa jadi lebih lapang dari saya yang belum banyak manfaatnya.
Bilik kamar mandi di Sumuraman ini tidak besar, juga tidak terlalu kecil. Dari luar, saya sempat mengira bahwa itu adalah bilik bermain untuk anak-anak karena dindingnya yang dicat warna-warni, sungguh seperti kelas di taman kanak-kanak. Tidak ada sumber pencahayaan di dalamnya.
Sore semakin gelap, saya terburu untuk segera menyelesaikan satu-satunya kegiatan soliter yang tidak bisa dipaksa harus menjadi kegiatan komunal selama hidup saya. Saya harus segera keluar dari dalam bilik ini. Nyamuk-nyamuk dari kebun -atau hutan- di belakang kamar mandi mulai berdengung, saya tidak dapat melihatnya, tapi merasakan suara mereka di sekeliling telinga membuat saya membayangkan sebesar apa nyamuk Sumuraman. Tidak hanya bersuara besar, gigitannya dapat menembus pakaian.
Rebi, teman saya yang menunggu bergantian di luar pintu masih berbincang dengan anak-anak. Tiba-tiba sedikit berteriak, “mba Anaaaa, kata anak-anak hati-hati sama lalat babi..”
Belum ada sepuluh detik dari teriakan Rebi, punggung saya dihinggapi sesuatu. “Huwaaaaaa... Rebiii.. ada yang nepuk akuu..!” suasana gelap di dalam bilik kamar mandi membuat saya tidak berani menoleh barang sedikit saja ke arah templokan itu. Seperti hilang kesadaran, sembarang saya selesaikan, menghambur ke arah Rebi yang keheranan bersama anak-anak, sedetik kemudian kami sama-sama berlompatan menepuk-nepuk pundak saya. Malamnya pundak saya panas, bentol cukup besar, ditambah juga seperti lebam. Perih sebenarnya, tapi saya senang, pengalaman pertama kali digigit lalat babi, yang ah, “babi sekali...” kalau kata Rebi.
Setelah malam menggelap, tidak ada listrik di kampung ini. Penerangan hanya untuk kebutuhan tertentu, di rumah dan tempat tertentu dengan waktu yang juga ditentu. Kami membawa banyak bensin dari kota kabupaten. Kami dirikan tiang penyangga dari kayu, tanah lapang sudah diisi dengan tikar dan apapun sebagai alas duduk, kami bentangkan kain besar sebagai layar, genset mulai meraung, suara motor mesin disambut tepuk tangan.
“Televisi kainn besaaaarrrrr....” teriak seorang mama dari belakang barisan.
“Ah, gila ini...! payah kamu, Ann! kamu sudah dikalahkan bertubi-tubi oleh keadaan. perasaanmu sudah dihujam cinta tanpa disadari” kami takjub berkali-kali, pada semuanya, pada orang-orang ini.
Film diputar, Di Ujung Timur Matahari. Sampai menjelang tengah malam, anak-anak belum mau pulang. Tidak ada alasan besok sekola, karena sekola memang sudah lama sedang diliburkan karena pengajarnya belum kembali dari kota. Hingga film Suzana kami putar, heran kami karena mereka menontonnya sambil tertawa. Sekali lagi saya mencemooh diri saya sendiri, “cih, kau tidak punya nyali Ann!”
Saya tidak menonton filmnya, saya sedang menyaksikan sebuah kisah epik yang warga Sumuraman sajikan.
Ekspresi mereka seperti obat bagi hati yang telah dipatahkan,
Tepuktangannya seperti riuh gerimis setelah kemarau panjang,
Wajah anak-anak yang bagi saya tidak bisa dibedakan, menjadi hiasan paling cantik pada taman kehidupan.
Saya meninggalkan banyak hal di Jakarta, tapi saya ditemukan mereka di tempat lainnya.
Kata orang-orang hidup itu seimbang, kau bisa saja sangat gembira, tapi kau juga harus tahu caranya bersedih.
Memberi kebahagiaan adalah kebahagiaan,
Bagaimana empat hari di Sumuraman dapat merubah pandangan hidupmu?
Seharusnya, jika saya percaya teori Butterfly Effect, pertanyaan itu tidak harus saya ajukan. Kepakan sayap kupu-kupu di Mappi, misalnya, bisa saja mengakibatkan badai besar di Jepang. iya, kita semua sedang saling terhubung, entah disadari atau tidak, kita sedang saling merangkai simpul.
Jika kita memang hanya bisa menginjakkan kaki satu kali di sungai yang sama, saya berharap semua momen itu abadi di ingatan kami.
Betapa penuh kesadaran bahwa saya menuliskan ini jauh dari mewakili. Ada rasa yang tidak dapat disentuh, ada kenangan yang sama sekali tidak terekam. Jutaan neutron dalam otak kita mampu menerawang ingatan jauh melampaui diksi-diksi dalam tulisan.
Sumuraman adalah sebuah kebahagiaan di tengah keterbatasan, adalah tentang harapan pada langkah-langkah dan kelimpahan, adalah tentang perahu-perahu dan keinginan untuk maju.
Sumuraman adalah tentang gelembung ikan, kepiting, pasir halus, lalat babi, air payau, dan senja di ujung pohon kelapa.
Sumuraman adalah tentang kaki-kaki telanjang penuh sayang, tentang mata pedih terkena sabun, tentang genggaman tangan dan segala hal yang tak pernah usang dihapus zaman.
Sumuraman sempat menjadi pelarian, namun yang kami dapat adalah pelajaran.
Sumuraman adalah tentang hati yang tertinggal, perasaan yang tertambat.
Sumuraman adalah perpisahan yang dirayakan, tarian Tate sepanjang malam, dan percakapan leluhur yang tidak bisa diabaikan.
Sumuraman adalah lambaian tangan yang tak berhenti hingga kapal kami tak terlihat lagi.
Sumuraman juga tentang keinginan kami untuk bisa kembali, menyaksikan mereka tumbuh dan mendapat adil sebagai surga yang tersembunyi.
Ini soal Sumuraman dan hal-hal yang tidak bisa dilupakan.