Merasa masalah mereka ada masalah kita juga.
Itu lah pedang bermata dua media sosial yang tak rasain selama main medsos selama ini. Ada trotoar yang rusak di Jakarta, eh kita dipaksa untuk tau dan peduli. Wajib ikut mengutuk pemerintah daerah yang ga bisa menyediakan trotoar layak untuk pejalan kaki. Atau ikut membela pemerintah karena pimpinan daerah yang punya kesamaan (entah agama, ras, suku, zodiak, makanan favorit, dll) dengan kita. Jakarta ratusan kilometer dari solo, dan mungkin seumur hidup aku ga bakal jalan di trotoar itu. What the hell...
Banyak contoh seperti itu di media sosial, dari ibu2 yang menjambak mbak2, pedagang asongan yang minta dilarisi dagangannya, sopir ojek online yang mengantar tanpa pamrih, sampe publik figur yang... ah sudahlah...
Padahal isu atau masalah di daerah tak kalah penting, tapi jelas kalah menarik. Seakan Jakarta adalah cerminan bangsa Indonesia. Cuih, there's a lot of city better than that almost-flooded-every-goddamn-year-city.
Efek lain adalah singkatnya sebuah masalah untuk mengudara. Pimpinan daerah korupsi? Berilah seminggu sampai sebulan maka hilang sudah dari media. Tergantikan isu lain yang lebih ramah (baca: full of drama) untuk masyarakat. 100 pohon ditebang, di Jakarta akan menjadi trending topik demi menurunkan wibawa pemerintah, di Papua atau Kalimantan no one give a damn about trees.
Sorry for bad English-Indonesian. Just try to write with both language.