Harap Tenang, Sedang Ujian!
Hidup adalah perjalanan dari satu ujian menuju ujian selanjutnya. Yang namanya ujian adalah hal yang sewajarnya ada, karena begitulah cara Allah untuk menumbuhkan derajat hamba-Nya. Kalau hidup tanpa ujian, justru kita patut banyak bertanya dan gelisah, jangan-jangan Allah segerakan banyak nikmat di dunia yang hanya sebentar, lalu hempaskan kita kelak di akhirat yang sebentar lagi. Na’udzubillah.
Ketika ujian tersebut tidak belum bisa dilewati bisa dilewati, kelak mungkin saja ada ujian yang serupa sebagai bentuk remedial. Saya sering merasakan yang seperti itu, dan saya baru mudheng akan pesannya setelah berkali-kali mengalami ‘pendalaman’. Kadang kita butuh pendalaman materi untuk lebih mengerti tentang sesuatu, bukan?
Amal Terbaik
Kalau sedikit tadabbur surat Al Mulk ayat kedua, memang pada hakikatnya kehidupan dan kematian diciptakan oleh-Nya untuk menguji kita, sejauh mana kita mampu mempersembahkan amal terbaik kita. Namun di lapangan kita bisa melihat (gak usah lihat orang lain deh), bahwa seiring berjalannya umur, kebanyakan kita belum mampu mempersembahkan amal terbaik itu; dengan berbagai alasan.
Penyesalan
Tidak heran muncul ungkapan, ujung umur adalah penyesalan. Kita sudah banyak mendengar kisah orang-orang yang menyesal atas kelalaiannya, namun mereka terlambat, karena penyesalan itu harus tiba ketika ruh sudah tersangkut di kerongkongan. Bagaimana Firaun menyesal atas kesyirikannya dan mengakui Tuhan-nya Nabi Musa, dan Allah pun tak perkenankan taubatnya itu.
Tidak hanya profil seperti Firaun saja yang menyesal. Para penghuni surga pun kelak akan menyesal ketika menyadari banyak sekali waktunya dihabiskan tanpa berdzikir mengingat Allah. Ilustrasinya, ada dua orang yang disuruh oleh raja untuk menambang batu di gua yang gelap sebanyak dua karung. Yang satu hanya mengumpulkan setengah karung, sedang yang satunya menambang dua karung sesuai yang dititahkan. Setelah mereka selesai, mata mereka pun berbinar melihat batu yang mereka tambang ternyata bongkahan emas murni. Orang pertama sangat menyesal, karena hanya mengambil setengah karung saja. Orang kedua apakah tidak menyesal? Ternyata menyesal juga, mengapa dia tidak mengambil lebih banyak. Demikianlah yang akan kita alami nanti di akhirat.
Kembali Ke Ujian
Kalau kata grup nasyid Shaffix, sesal saja tak ada guna. Mungkin banyak ujian-ujian yang telah kita lewati dengan tidak optimal. Namun selama umur masih terkarunia, berarti selama itulah kita masih punya kesempatan tuk persembahkan amal terbaik kita. Amanah tak ada yang ringan. Nikmat pun jangan dikira selalu menjadi pelipur lara. Semuanya kan ditanya. Jika memang Allah perkenankan kita lulus dalam sebuah ujian, semoga tak ada ujub yang bersembunyi di hati, semuanya min fadhli Rabbi. Bersiap saja menghadapi ujian selanjutnya yang lebih dahsyat. Jika memang Allah belum perkenankan kita lulus, selalu ada maksud dibalik apa yang Allah takdirkan pada kita. Semoga kita peka terhadap oleh-oleh yang tersembunyi di balik-Nya. Mirip seperti baca buku atau nonton film, kadang kita lebih mengerti setelah kita baca/nonton kedua atau ketiga kalinya.
Ala kulli hal, laa yukalifullahu nafsan illa wus’aha.
Semoga Allah selalu membimbing kita.
















