Could Wrong Train Take You to the Right Destination?
 ‘Sometimes, the wrong train takes you to the right destination.’Â
Kalimat di atas merupakan salah satu quotes yang pernah gue baca, entah penulisnya siapa. Saat pertama kali membaca kalimat tersebut, yang ada dalam benak gue adalah ’eh bagus juga nih quote buat jadi motivasi’. Saking sukanya, kalimat itu terpilih untuk gue pajang di sudut meja belajar kamar kosan sebagai dekorasi. Kalimat itu sedikit banyak memotivasi gue, meyakinkan gue kalo gue masih punya harapan. Di mana ketika hal-hal buruk terjadi, mungkin aja sebenarnya gue sedang diarahkan menuju akhir yang lebih baik dari rencana gue sebelumnya. Bahwa ketika hal-hal yang gue kehendaki menjadi kacau, masih ada harapan untuk mencapai destinasi yang benar.
Lama kelamaan, gue terbuai oleh kalimat itu. ‘Ah gapapa gagal juga, keretanya udah terlanjur salah. Mungkin emang jalannya gini, gue pasti bakal tetap bisa sampai ke destinasi yang benar.’. Yang akhirnya membuat gue berhenti berusaha dengan giat, terbiasa menerapkan sikap pasrah sama keadaan. Bukannya fokus cari kereta yang benar biar bisa segera sampai tempat tujuan, gue malah sengaja salah-salahin kereta sambil harap-harap kalau gue akan tetap sampai ke destinasi yang gue mau. Ibarat gue mau ke Bandung tapi naiknya Gajayana. Bisa aja sih beli tiket kereta lagi ke Bandung, atau naik kendaraan lain, atau nebeng orang. Tapi yang jelas gue keputer-puter ampe Jatim padahal tujuan gue ke Jabar. Isn’t it a waste of time, money, energy?Â
Sampai akhirnya ketika gue berencana nge-post foto nyebrang kemarin di Instagram dan sibuk ngedit tone-nya di VSCO, gue nemu foto KRL yang gue ambil sekitar Maret 2019 lalu. Kereta. Instead of mikirin caption buat foto kapal, gue malah mendalami semboyan yang gue pajang itu. Kayaknya.., gue udah salah memaknai, deh. Bukannya jadiin motivasi, gue justru menjadikan kalimat itu sebagai senjata ketika hasil yang gue peroleh gak maksimal. Sebuah pembenaran atas usaha yang gak seberapa karna anggapan ‘keretanya salah’. This is not true. I should stop thinking this way.Â
Buat apa naik kereta yang salah kalo gue udah tau mana kereta yang benar, atau lebih sederhananya, tau cara naik kereta yang benar. Karna untuk sampai naik itu kan ada usahanya juga; beli tiket, berangkat ke stasiun, siapin bekel buat di perjalanan. Setelah gue pikir-pikir lagi, makna quotes-nya gak sesederhana itu. Apakah kata right di sini punya makna benar atau tepat? Karna menurut gue keduanya tidak sama. Kereta yang salah mungkin bisa membawa lo ke tujuan yang benar, tapi untuk sampai ke tujuan yang tepat, bukannya lo butuh kereta yang benar? Apa lo akan sebodoh itu untuk mengandalkan kereta yang salah?Â
There’s a slight different between benar dan tepat. Ketika hari hujan dan lo pake payung buat ke warung, tindakan lo benar. Tapi jika lo perginya naik mobil, penggunaan payung itu jadi nggak tepat. Bukan salah, tapi nggak tepat.
Bedanya dalam konteks case ini, kita nggak selalu bisa tau mana tujuan yang tepat. Adakalanya kita merasa itu tepat, tapi ternyata cuma benar. Perdebatan antara benar dan tepat ini sejujurnya bikin kepala gue pusing. Kalau kalian punya pendapat lain soal quotes di atas, let me know.Â