Bagian Yang Hilang
Kembali, aku mengais kenangan kenangan kita yang tertinggal di laptopku, aku ingat pernah beberapa kali berfoto denganmu, aku ingat dimana saja kita pernah berfoto. Aku ingat, disalah satu foto, kita pernah saling percaya untuk berdekatan hingga wajahmu mengunci mataku untuk terus melihatmu. Dan di foto lain, aku pernah merasa jatuh saat usaha yang kulakukan menelan kegagalan, namun disitu kau ada, aku ingat hanya kau yang ada disampingku, aku menggenggam erat tanganmu seperti tidak menginginkan kau pergi, aku percaya kau adalah orang yang di kirim-Nya untuk membuat aku kembali gembira.
Namun, bagian yang terpentingpun hilang, dimana aku pernah memberanikan diri untuk memintamu berfoto denganku untuk pertama kalinya. Tapi walau begitu, aku tidak pernah melupakannya, bagiannya boleh hilang tapi ingatan tentang itu tidak akan pernah hilang di pikiranku.
Kita pernah dekat hingga aku tidak lagi mengerti perasaan apa yang ada dalam diriku, kita pernah saling sejajar menyamakan perbedaan, kita pernah jalan bersama tanpa ada yang mengejar dan dikejar, kita pernah saling bertukar cerita di sepanjang jalan pulang.
Aku pernah menatap wajahmu begitu dekat, sedekat bumi dan bulan jika tidak dipisahkan oleh jarak. Aku pernah berpikir, bahwa hanya padamu aku tidak akan melepaskan genggaman. Aku pernah begitu berharap kau akan selalu menemaniku saat aku rapuh dan merasa tidak berguna.
Aku tahu tidak gampang bagimu menghadapi mood-ku yang naik turun. Tidak mudah juga bagimu untuk menahan sabar untuk dimengerti. Aku tahu semua itu.
Satu bulan setelah kepergianmu, aku sudah kembali hebat, dengan semua peristiwa yang sudah aku lalui. Aku kembali hebat, bukan karena berhasil melupakanmu, tapi karena aku berhasil melepaskanmu. Aku kembali hebat karena banyak kawan yang menguatkan, saling memberi saran, saling bertukar pengalaman; dari semua saran yang aku terima, katanya, menunggu dia yang tidak mengharapkanmu hanya akan membuatmu kembali remuk berkali-kali, katanya juga, tidak akan ada hasil jika hanya menunggu, berdirilah, terus meratapi bukan sesuatu yang bagus, masih banyak perjalanan luar biasa diluar sana yang menunggu kita datangi. Aku percaya aku tidak akan bisa melupakanmu, aku hanya bisa mengikhlaskan dan kembali seperti dulu, tidak akan lagi menunggu, tidak akan lagi berjuang, tidak akan lagi berpegang pada sesuatu yang akhirnya menghancurkan kesekian kalinya.









